
Setyo kembali ke rumah yang sudah bukan lagi rumahnya. Para bodyguard yang tadi mengikutinya sudah kembali ke rumah juragan Karto. Kini ia bingung nasib apa yang akan menghampirinya. Iya yakin juragan Karto pasti akan sangat marah, dan yang jelas dia tidak akan mendapatkan uang.
" Huft… sial sial… sekarang apa yang harus aku lakukan. Apa aku kabur saja ya."
Merasa dia tidak bisa menepati janji, Setyo pun rencana kabur. Ia kemudian memasuki kamarnya dan membereskan beberapa baju ke dalam tas.
Namun sepertinya nasibnya memang tengah sial. Juragan Karto dan beberapa bodyguard-nya telah ada di depan pintu rumahnya. Juragan Karto tampak marah, matanya merah menyala seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.
" Bedebah kau Setyo, membawa seorang gadis saja kau tidak becus, terlebih itu adalah anakmu. Tahu begitu aku akan membawanya sendiri. Dan sekarang gadis itu telah menikah. Dasar brengsek!"
" Ma-maaf juragan. Semua diluar kendali saya. Ternyata ada ya seseorang yang bernama Adit yang membantu istri dan anak-anak saya."
" Halaaah alasan, kau memang tidak becus."
Ingin sekali rasanya Karto menghajar Setyo saat ini juga untuk melampiaskan amarahnya. Namun ia masih memiliki sedikit kewarasan untuk tidak membuat keributan di kampung orang. Apalagi malam sudah larut.
" Aku akan beri kau satu kesempatan lagi, terserah bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan putrimu. Jika tidak, siap-siaplah menjadi gelandangan seumur hidupmu."
" Baik juragan… baik."
Juragan Karto meninggalkan rumah Setyo. Pria paruh baya itu tersenyum senang. Ia masih memiliki kesempatan untuk memiliki uang 500 juta. Dia akan menyusun rencana sebaik mungkin untuk bisa membawa Lia kehadapan juragan Karto.
***
Adzan subuh berkumandang saling sahut menyahut. Membangunkan insan dari mimpi indah mereka, untuk sejenak bersujud kepada Tuhannya.
Lia sudah bangun saat adzan dikumandangkan. Ia kemudian membangunkan Adit.
" Mas…. Mas…. Bangun… sudah subuh."
" Ehghhhh.'
" Mas…. Bangun… "
" Doto apa an sih berisik. Aku masih ngantuk Dot."
Huft… Lia menghembuskan nafasnya secara perlahan. Ini adalah tugas pertamanya sebagai seorang istrinya Adit, yakni membangunkan sang suami. Dan sepertinya akan sulit karena tampaknya Adit adalah tipe orang yang sulit bangun pagi. Dengan terpaksa Lia menarik tangan Adit agar suaminya iti bangun.
" Maaas… ayo banguuun…."
Bruk…
__ADS_1
Bukannya Adit yang berhasil dibangunkan, tetapi malah Lia yang terjatuh diatas tubuh Adit.
" Astagfirullaah…."
Lia hendak bangkit tapi malah didekap oleh Adit. Lia pun berusaha melepaskan dekapan Adit pada tubuhnya. Namun dekapan itu malah semakin erat.
" Mas Adiiit… banguun… aku bukan guling. Mas… bangun."
Adit menyadari ada gerakan di dadanya. Tepatnya tangan kecil yang memukul mukul dada nya. Adit pun mengerjapkan mata mencoba melihat apa yang sedang terjadi dan siapa yang memukulnya pagi pagi buta begini. Adit terkejut melihat Lia berada di atas tubuhnya. Ia melihat wajah manis Lia tepat berada di depan matanya. Adit seakan terhipnotis dengan manik mata Lia. Tidak besar dan juga tidak kecil. Bulu mata yang lentik serta hidung yang mungil. Sungguh keindahan yang belum pernah Adit temui. Adit pernah melihat wajah Lia sebelumnya tapi tidak sedekat ini.
Seketika itu juga jantungnya memompa lebih cepat. Debarannya pun begitu keras bahkan ia sendiri bisa mendengarkannya.
" Alhamdulillaah udah bangun. Mas lepasin.. Aku bukan guling mas."
Adit masih termangu. Ia belum juga tersadar dari hipnotis wajah Lia.
" Mas… aku nggak bisa gerak nih… ayo Sholat dulu."
" Eh… maaf Lia. Maaf. Ayo… ayo kita sholat dulu."
Adit melepaskan dekapan Lia dan segera berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
10 menit kemudian akhirnya Adit pun keluar. Ia tersenyum kikuk. Ia sendiri sadar bahwa dirinya sangat susah dibangunkan. Pasti tadi Lia kesusahan saat membangunkannya.
" Nggak pa pa Mas ini merupakan bagian dari tugasku. Yuk sholat dulu."
Adit berdiri di depan kembali menjadi imam sholat untuk Lia. Mereka berdua sholat dengan khusyu.
🍀🍀🍀
Keduanya sudah sampai di perusahaan JD Advertising. Doto sudah menghadang di lobby memberikan sebuah paper bag kepada Adit.
" Mas… aku mau pernikahan kita jangan di publish dulu ya."
" Iya… Sesuai permintaan istriku."
" Terimaksih mas."
Lia berlari kecil menuju ke ruang kerjanya. Adit hanya bisa melihat punggung Lia yang sudah menjauh.
" Bos… orangnya udah nggak kelihatan. Jangan diliatin terus. Bayangannya aja udah nggak ada. Emang semalem kurang.'
__ADS_1
" Huft, au ah Dot gelap."
Adit berjalan menuju lift. Kantor memang masih sepi karena baru pukul setengah tujuh pagi. Ya, Lia memang meminta Adit untuk berangkat ke perusahaan lebih awal agar tidak ada yang melihat mereka berdua. Lia tidak ingin membuat keributan. Terlebih lagi Adit adalah idola para karyawan wanita di perusahaan ini. Jika mereka melihat dirinya dan Adit jalan bersama maka itu akan membuat gosip yang sangat luar biasa heboh.
" Dot… tetap berikan penjagaan kepada Lia, Ibu, dan bang Ahmad. Aku merasa bapak durhakim itu nggak akan berhenti semudah ini. Aku tetap punya pemikiran bahwa orang itu akan mendatangi Lia lagi. Dia tidak akan dengan mudah melepas uang 500 juta yang sudah dijanjikan."
" Baik Bos siap laksanakan."
Adit mengetuk ngetuk kan jarinya di atas meja tanda ia sedang berpikir sesuatu. Dia merasa ada yang aneh dengan kejadian ini semua.
" Dot… sekalian coba kamu selidiki siapa orang tua Jelita. Aku merasa ini semua berhubungan?"
Doto menatap Adit dengan tatapan aneh. Berhubungan darimana, begitulah arti tatapan Doto. Namun belum sempat ia ingin bertanya Adit sudah bicara lebih dulu.
" Aku tahu yang kau maksud. Menurutku, semuanya kelihatan aneh aja. Setelah aku memutuskan Jelita tiba tiba bapak lucknut itu mau menukar Lia dengan uang. Ini seperti sudah diatur."
Doto mengangguk. Ia tidak mau banyak tanya lagi. Tugas yang diberikan Adit sudah sangat jelas. Doto segera menghubungi Agung untuk melaksanakan tugasnya. Doto juga meminta Agung mengkoordinasi beberapa orang untuk melakukan penjagaan terhadap keluarga Lia.
🍀🍀🍀
Rumah juragan Karto berantakan oleh ulah Jelita. Jelita yang sudah mengetahui bahwa Adit menikahi Lia dari salah seorang anak buah Papa nya yang mengikuti Detyo tadi malam sangat murka. Ia melempar semua benda yang berada dekat dengannya. Bahkan para art-nya dibuat takut dengan kelakuan Jelita yang sangat kekanak-kanakan.
" Jelita sayang… cukup!!!"
" Hu hu hu… papa jahat. Papa nggak sayang Jelita lagi."
" Bukan begitu sayang. Semua karena si bodoh Setyo itu. Tenang papa akan dapatkan apa yang putri papa mau ok. Jadi jangan begini lagi."
Jelita tersenyum senang dengan ucapan sang papa. Ia pun menghentikan aksinya melempar barang dan kembali masuk ke kamarnya.
" Bersihkan semua ini sekarang juga aku tidak mau melihat satu serpihan beling pun tercecer."
" Baik juragan."
Semua art langsung bergerak untuk membersihkan pecahan-pecahan beling yang berserakan. Mereka semua hanya bisa patuh terhadap setiap perintah yang diberikan oleh juragannya. Padahal mereka sering mengeluh dan menggerutu terhadap sikap ayah dan anak yang menurut mereka sama saja.
" Huft… nggak anak… nggak bapak… semua gelo…"
" Ho oh… aneh aja. Anak udah gede gitu masih dimanjain kayak anak sd."
" Iya… dari dulu nggak ada berubahnya. Bapaknya geblek… anaknya ikutan geblek juga."
__ADS_1
Para art itu hanya bisa bergumam dan saling berbisik membicarakan Juragan dan anak juragannya.
TBC