Casanova Insaf

Casanova Insaf
CI 31 - Adit Hanya Diam


__ADS_3

Adit dan Lia berangkat ke perusahaan bersama. Mereka berangkat lebih pagi agar menghindari tatapan para karyawan yang lain. Karena merea belum mau mempublikasikan pernikahan mereka, jadi mereka harus berhati hati datang ke perusahaan. Namun tetaplah kebersamaan mereka diketahui oleh segelintir orang. Salah satunya para security yang memang selalu ada meskipun kantor sepi sekalipun.


" Pagi pak Adit, mbak Lia."


" Pagi pak…"


Lia membalas sapaan security dengan anggukan kepala dan senyuman. Namun tidak dengan Adit. Adit tetaplah Adit dengan gaya presdir dingin nan cuek. Lia hanya tersenyum melihat tingkah sang suami.


Mereka pun kembali berjalan melewati lobby perusahaan. Lia yang hendak menuju ruangannya ditarik oleh Adit untuk ikut masuk ke dalam lift.


" Lho mas… aku mau ke ruangan ku."


" Nanti saja masih pagi. Ke ruangan mas dulu aja ya."


Lia pasrah, memang saat ini masih sangat pagi. Dan bisa dipastikan ruangan divisinya masih sangat sepi.


" Oh iya. Yaya jangan senyum senyum begitu ke pria lain oke."


" Eh… maksud mas pak security yang tadi?"


Adit mengangguk, namun seketika Itu juga Lia malah tertawa.


" Mas… jangan bilang mas cemburu?"


" Kalau iya kenapa. Sungguh aku tidak suka melihatmu senyum senyum seperti itu ke pria lain."


" Baiklah… Aku ikut kata suamiku saja."


Adit tersenyum dengan ucapan Lia. Kini mereka berdua telah sampai di ruangan milik Adit. Namun keduanya terkejut mendapati seseorang yang berada di sana.


" Astagfirullaah …" 


Lia dan Adit mengucapkan istigfar bersamaan. Keadaan ruangan yang gelap membuat mereka tidak mengenali siapa yang berada di ruang milik Presdir tersebut. Orang tersebut bahkan terbaring di lantai dengan beberapa barang yang berserakan.


Klik


Adit menyalakan lampu ruangannya. Seketika ruangan tersebut menjadi terang dan mereka bisa melihat orang tersebut.


" Ya Allaah mas… itu… itu Revina Angel."


Adit termangu melihat sosok wanita yang ia kenal itu. Wanita yang melahirkan nya namun tega menelantarkannya. Wanita yang mempunyai predikat ibu namun tidak pernah sekalipun berperan menjadi seorang ibu di kehidupannya.


Adit hanya membatu dan membisu. Matanya menatap nanar, tidak sekalipun hatinya tersentuh melihat kondisi sang ibu. Lia lah yang buru buru mendekat untuk melihat kondisi ibu mertuanya itu.


" Bu… ibu… bangun bu… mas…. Mas…. Mas Adit.. Ibu Revina pingsan. Mas…"


Adit tidak menyahut ucapan sang istri. Dia malah melenggang ke luar ruangannya dan duduk di kursi depan ruangannya.


Lia tergugu menyaksikan suaminya itu. Dalam kebingungan dia masih ingat untuk menghubungi seseorang . Pilihannya jatuh ke Doto, Liapun pun langsung segera menghubungi Doto.


" Hallo nyonya bos."


" Mas Dot cepat kesini. Cepat ke kantor… Sekarang!!"


" Baik..!!"


Doto yang mendengar teriakan Lia seketika langsung menyambar kunci mobilnya. Dia tidak berkesempatan bertanya apapun. Beruntung dia sudah mandi jadi aman untuk langsung pergi. Jalanan yang belum terlalu padat memudahkan Doto untuk sampai ke kantor lebih cepat. Ia pun berlari menuju lift.


Tring….


Lift terbuka lebar. Doto heran melihat Adit yang hanya duduk terdiam. Pandangan mata Adit begitu kosong.


" Sebenarnya ada apa ini." Doto bergumam.


Doto ingat akan Lia. Ia pun segera berjalan melewati Adit dan masuk ke ruangan terlebih dahulu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


" Asataghfirullaah."


Doto terkejut melihat Revina Angel tergeletak di lantai.


" Lia kenapa bisa begini?"


" Nggak tau mas. Tadi saat aku sama mas Adit datang bu Revina sudah ada di dalam."


Doto mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa wanita ini masuk ke perusahaan.


" Baik ayo bawa dulu dia ke rumah sakit."


Lia mengangguk ia membantu Doto menggendong Revina ke mobil. Ketika keluar dari ruangan Lia hanya mendesah berat. Suaminya itu masih membatu dengan wajah dingin dan tatapan mata yang kosong.


" Ya Allaah mas. Sebesar apa rasa sakit dan trauma mu itu."


Lia bergumam pelan lalu meminta Doto untuk terus berjalan. Tetapuli Doto sejenak menghentikan langkahnya. Ia menengok ke arah Lia.


" Terus Bos Adit gimana?"


" Nanti aku kembali lagi mas Doto. Sekarang bawa bu Revina dulu."


Doto mengangguk lalu membawa tubuh Revina yang berada di gendongannya ke mobil. Beruntung masih pagi sehingga tidak banyak yang tahu kejadian tersebut.


Sesampainya di mobil Doto meletakkan Revina di belakang bersama dengan Lia yang sudah di dalam.


" Mas Doto. Bisa untuk menghubungi pak Rama untuk menemui mas Adit dan membawanya pulang dulu ke rumah Ayah. Aku khawatir meninggalkannya"


" Oh iya benar bos Rama. Ya kau benar Lia. Bentar ya aku telpon bos Rama."


Lia mengangguk sambil terus mengusap usap tangan Revina yang dingin. 


" Bu bangun bu. Bangunlah Bu. Ada apa sebenarnya?"


" Hallo bos Rama."


" Ada apa Dot?"


" Itu bos… bos Adit sekarang lagi syok di depan ruang kantor. Tolong bos Rama datang ya antarkan bos Adit ke rumah tuan Aji. Sekarang saya lagi mau ngantar bu Revina ke rumah sakit. Tadi dia ditemukan bos Adit tergeletak di lantai ruangan bos Adit."


" Astagfirullaah… ya… ya… oke. Aku akan segera datang ke JD Advertising."


Doto bernafas lega. Ia lalu menyalakan mobilnya dan melesat ke rumah sakit Mitra Harapan.


🍀🍀🍀


Rama yang begitu khawatir terhadap adik sepupunya langsung melajukan mobilnya ke JD Advertising bersama dengan sang istri.


" Adit kenapa mas?"


" Nggak tau, kata Doto dia lagi syok berat."


" Maksudnya?"


Rama pun menceritakan kejadian yang diceritakan Doto di telepon tadi. Rama juga menjelaskan siapa Revina Angel.


" Ya Allah mas… kasian juga ya Adit."


" Sebenarnya iya, aku kadang juga ngerasa kasihan sama dia. Dulu waktu kecil Adit sering dititipin di rumah kami sering main bersama, jadi sedikit banyak aku tahu apa yang menimpanya."


" Oh iya mas, kemarin Adit udah sering ke mushola untuk sholat."


" Oh iya, Alhamdulillaah kalau dia sudah mau berubah."


Rama tersenyum mendengar cerita istrinya. Ia sungguh bersyukur jika Adit memang sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


Ckiiittt


Rama memarkirkan mobilnya tepat di depan lobby. Semua orang yang melihat Rama dan Sita datang menunduk memberi hormat. Rama hanya membalas dengan anggukan kecil sedangkan Sita ia lebih ramah dengan tersenyum kepada setiap orang yang mereka temui.


Tring… pintu lift terbuka dan sepasang suami istri itu menuju lantai atas untuk menemui Adit.


Tring….


Lift telah sampai di lantai atas.. Rama segera berjalan menuju ke ruangan Adit. Namun dia tidak menemukan Adit. Di depan ruangan yang dilaporkan oleh Doto pun Adit juga tidak terlihat di sana.


" Ya Allaah… dimana anak itu?"


" Mas… Sudah cek di kamar mandi?"


" Oh iya kamar mandi."


Rama menuju kamar mandi yang berada di luar namun nihil. Adit tidak ada di sana.


Sedangkan Sita dengan perut besarnya mencoba mencari Adit di kamar mandi dalam sembari berteriak memanggil nama Adit.


" Adit… Adit…."


Ceklek…


" Mas… mas Rama… sini mas… ini kamar mandinya di kunci."


Sita sedikit berteriak memanggil sang suami. Rama menghampiri Sita dan mencoba untuk membuka pintu kamar mandi dalam ruangan Adit.


Klek..klek...klek….


Rama berusaha membuka pintu tersebut namun sulit. Sita mencoba mencari kunci cadangan tetapi juga tidak menemukannya. Rama akhirnya mencoba untuk membuka paksa.


Brak… Brak…. Bruaaaak…. Blakkk…


Pintu kamar mandi tersebut terbuka. Tampak Adit duduk basah di bawah shower yang menyala. Wajah dan bibir Adit sudah terlihat membiru kedinginan.


" YA ALLAAH…. ADIIIIIT!!!!


Rama berteriak keras membuat Sita sangat terkejut. Wanita hamil itu ikut memasuki kamar mandi sambil memegang perutnya.


" Ada apa dengan Adit mas??"


Rama yang tengah mematikan shower dan berusaha mengangkat Dika hanya diam tanpa menjawab pertanyaan sang istri.


" Ya Allaah Adit… Ayo mas bawa ke rumah sakit. CEPET…!!!"


" Sayang kau hati hati. Peritmu itu besar sekali."


" Udah deh mas… buruan."


Akhirnya Rama menggendong Adit di punggungnya dan membawa Adit turun ke mobil. Beberapa karyawan melihat dengan penuh keheranan. Namun tidak ada yang berani bertanya. Sungguh urusan internal bos besar mereka tidak ada yang berani untuk ikut campur.


" Mas duduk di belakang saja sama Adit."


" Terus yang nyetir"


" Aku yang akan nyetir."


" Tapi kamu…"


" Mas aku hanya hamil bukan sakit parah."


Rama pasrah dengan kemauan sang istri. Kini kekhawatiran Rama bertambah. Selain khawatir dengan kondisi Adit, Rama juga khawatir dengan istrinya yang sedang mengemudi dalam kondisi hamil besar.


TBC

__ADS_1


__ADS_2