
Jika kedua insan itu tengah memadu kasih untuk memupuk cinta diantara keduanya. Dua insan sesama jenis ini tengah berada di Thirsty bar dengan perasaan marah. Mereka karena rencana yang gagal total.
" Sialan kau Jelita. Rencanamu gagal. Dasar tidak becus."
" Heh brengsek kau Selena. Kau yang terlaku bodoh tidka bisa menjawab apa yang diucapkan wanita kampungan itu. Dasar wanita jal*ng sungguh aku menyesal memakaimu. Kesempatanku untuk mendapatkan Adit lagi lagi terhalang."
" ooh aku tahu, kau hanya memanfaatkan ku bukan. Dasar murah*n."
Selena yang tidak terima dirinya dimanfaatkan sangat marah dan tidak terima. Selena akhirnya mengambil sebuah botol minuman dan memukulkannya di kepala Jelita.
Prang…. Argh….
Jelita menjerit, darah segera mengucur dari kepalanya. Selena yang melihat Jelita berdarah segera pergi dari sana. Selena berlari sekencang mungkin, ia kemudian mengemudikan mobilnya dan melesat menjauh.
" Persetan dengan Adit. Ngapain juga aku ngurusin orang yang sudah menikah. Brengsek memang Jelita, ternyata dia hanya memperalat ku. Seharusnya aku sudah tahu dari awal rencana busuknya. Lebih baik aku segera pergi dari kota ini sebelum wanita itu membuatku kesulitan. Aku harus bisa bersembunyi darinya. Argh.... Sialan."
Brummm..... Selena menekankan pedal gasnya dalam dalam. Ia harus segera bisa meninggalkan kota ini. Selena tahu Jelita bukanlah orang yang sederhana, dia tidak mau terlibat lebih jauh lagi dengan Jelita.
Sedangkan di dalam Thristy Bar, Jelita nampak kesakitan. Ternyata ada pecahan beling botol minuman yang mengenai sebelah matanya.
" Argh… Sakit…."
Pekerja bar langsung memanggil ambulan untuk membawa Jelita ke rumah sakit. Mereka sebenarnya tidak mau tahu dengan urusan pribadi pelanggannya. Namun jika terjadi kecelakaan seperti ini mereka harus bertanggung jawab.
Sedangkan di kediaman juragan Karto, sang pemilik tengah menikmati malamnya.
" Argh sayang… kau sangat luar biasa. Ini enak sekali. Akh…."
" Juragan… ponselmu berbunyi."
" Hmm… biarkan saja. Aku masih ingin menikmati tanganmu. Argh… kau sungguh hebat Sur."
" Juragan bisa saja memuji Surti. Surti hanya pernah belajar memijat. Syukurlah kalau juragan puas."
Surti sedang mengurut Juragan Karto di kamarnya. Ponsel yang berkali kali berdering diacuhkan oleh Karto. Tapi setelah dibiarkan beberapa kali akhirnya juragan Karto pun mengangkat panggilan telepon tersebut.
" Ya hallo…. Apa??? Bagaimana bisa… ya… baik saya akan segera ke sana."
Juragan Karto langsung bangkit dari posisi telungkupnya. Dia pun memakai bajunya dan segera berjalan keluar kamar.
" Ada apa juragan, mengapa begitu terburu buru?" Surti mengekor juragan Karto.
" Jelita… Jelita kepalanya dipukul oleh seseorang dengan menggunakan botol minuman. Sekarang dia di ada rumah sakit."
" Oh Ya Tuhan… cepat juragan kasihan non Jelita."
" Ya.. Tunggu aku di rumah sayang."
Surti mengangguk dan tersenyum ke arah Karto sambil melambaikan tangannya. Karto yang terlihat begitu khawatir segera masuk ke mobilnya dan melesat menjauh meninggalkan rumah.
__ADS_1
Lambat laun senyum Surti pun menghilang seiring dengan menghilangnya mobil Karto diujung jalan. Senyuman itu berubah jadi seringaian lalu berubah lagi menjadi tawa yang sinis
" Rasakan kau Karto. Itu belum seberapa. Aku akan menunggu karma yang lebih kejam lagi. Tampaknya bukan hanya aku yang sudah kau buat sengsara."
Surti melenggang masuk ke rumah sambil bersenandung. Ia sungguh menikmati wajah panik Karto.
Surti dengan santai menaiki tangga lalu menuju ke kamar Karto. Ia mencari cari sesuatu di sana. Tidak ada satupun art yang menegur Surti saat ia masuk ke kamar pribadi Karto. Semua itu karena izin Karto. Dan Karto telah mengumumkan bahwa Surti adalah pelayan pribadinya jadi Surti bebas untuk keluar masuk kamar Karto.
" Dasar pria bejat. Disuguhi tubuh mulus sedikit saja sudah terlena. Apa yang perlu kulakukan sekarang. Aah… Aku tahu, aku harus mencari bukti kejahatan Juragan bangsat itu."
Di rumah sakit Jelita terus berteriak saat lukanya dibersihkan.
" Sakit… Argh… Apa kalian tidak bisa pelan pelan. Mengapa aku tidak diberi anestesi. Auch… Mataku… Mataku sangat sakit. Tolong… ah… mataku sangat sakit sekali."
Seorang dokter kemudian memeriksa mata Jelita. Ia melihat pecahan beling itu mengenai bola mata.
" Sepertinya ini harus segera dilakukan tindakan untuk mengeluarkan pecahan beling tersebut. Dikhawatirkan nanti merobek kornea mata."
" Lakukan yang terbaik untuk putriku dokter."
Mendengar suara Karto, Jelita kembali berteriak dan kini ditambah dengan tangisan.
" Papah… Sakit… Jelita sakit banget."
" Sabar ya sayang, semuanya akan baik baik saja. Setelah dokter mengeluarkan pecahan beling tersebut maka kamu akan baik baik saja.."
" Baiklah tenang saja. Papa akan menemukan orang yang kau sebutkan tadi."
Juragan Karto sangat geram melihat kondisi putri kesayangannya. Ia pun segera meminta anak buahnya untuk mencari wanita yang dibicarakan putrinya tadi.
" Aku tidak mau tahu cari wanita yang bernama Selena. Ia menggunakan mobil Terios berwarna hitam."
" Siap juragan."
Anak buah Karto langsung menyebar ke segala arah. Meskipun mereka tidak tahu pasti dimana wanita itu yang penting mereka mencari.
🍀🍀🍀
Keesokan paginya Adit yang sudah berada di ruangan nya terlihat sangat bahagia. Sepanjang jalan menuju ruangannya semua orang disapa oleh Adit tanpa terkecuali.
Para karyawannya itu merasa heran dengan ulah sang bos. Sepanjang sejarah Adit menjabat sebagai presdir, baru kali ini ia menyapa setiap karyawan yang ditemui. Biasanya ia sangat dingin dan acuh.
Kasak kusuk Adit yang tersenyum menyapa setiap karyawan pun semakin terdengar luas hingga ke seluruh perusahaan.
" Pak presdir lagi dapat jekpot ya bahagia bener."
" Iya, dapat wangsit dari mana tuh pak bos jadi ramah gitu. Seumur umur boro boro menyapa karyawan, senyum aja pelit."
Lia yang melihat suaminya begitu bahagia hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Ia sampai tidak sadar bahunya ditepuk oleh seseorang.
__ADS_1
" Haish… Sepertinya lagi senang."
" Eh, bu Sita. Bagaimana triplet, kapan lahir?"
" Perkiraan sebulan lagi. Apa yang membuatmu begitu senang."
" Hehehe tidak apa apa kok bu. Yuk masuk ke ruangan."
Lia menggamit lengan Sita dan membawa ketua divisinya itu masuk ke ruang kerjanya. Ia tidak mau keceplosan mengenai apa yang terjadi semalam.
***
Doto melihat sang Bos yang penuh senyum dari pertama kali masuk langsung bisa menebak apa yang sudah terjadi.
" Gol bos??"
" Alhamdulillah"
Adit menjawab dengan senyum yang amat lebar. Beruntung Adit tidak menggempur Lia habis habis an. Ia hanya melakukan sekali saja dengan istrinya itu. Adit merasa tidak tega melihat istrinya yang kelelahan.
" Berapa ronde bos."
" Sekali cukup, sesuatu yang berlebih itu tidak baik."
" Halah.. Mbelgedes."
Doto melengos, ia tahu benar siapa Adit. Doto pun mengakhiri pembahasannya itu dengan masalah juragan Karto.
" Bos silahkan dilihat."
Adit melihat semua bukti laporan kejahatan Juragan Karto. Doto bahkan memberikan sebuah video yang membuat Adit terperangah.
" Astagfirullaah… gila… dia kejam sekali. Baru kali ini aku nemuin pria biadab begini."
Sebagai pria dan mantan casanova, Adit sungguh jijik melihat perbuatan Karto. Dengan santainya Karto bermain dengan lebih dari satu gadis muda. Jika dilihat dari wajah dan tubuh mereka bisa dikatakan mereka masih dibawah umur.
" Sepertinya para gadis ini diberi obat dulu sebelum dipermainkan."
" Hoek…. Hoek…. Sungguh… menjijikkan… asli aku tidak tahan. Matikan Dot."
Doto langsung mematikan video tersebut. Sebagai oria Doto juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Adit.
" Terus selanjutnya bagaimana Bos."
" Bawa semua bukti tersebut ke pihak yang berwajib. Jika mereka tidak melakukan apapun, sebarkan video video tersebut dengan akun noname dan blur untuk semua korban Tapi tampilkan dengan jelas tampang Karto."
" Siap bos."
TBC
__ADS_1