
Jelita memasuki Thirsty Bar sambil mengedarkan pandangannya mencari Nico. Namun ia tidak menemukan sosok pria itu sama sekali.
"Hei…. Jelita, sini."
Suara seorang wanita yang ternyata adalah Selena membuyarkan lamunannya. Ia tersenyum kaku dan langsung menghampiri Selena.
" Apakah sudah lama menunggu? Maaf ya."
" Tidak. Belum kok. Lagian disini asik. Jadi nggak berasa juga. Apa kabar baik yang mau kau katakan."
" Oh iya… hampir lupa. Aku sudah mendapatkan alamat rumah Adit yang baru ia tempati."
" Wouw… cepat juga ya kamu bergerak."
Jelita tersenyim bnagga dwngan pujina yang Selena lontafkan. Ia pun menyerahkan sebuah kertas berisikan alamat milik Adit.
" Terus kapan aku mesti kesana. Dan aku sungguh kesulitan mendapatkan tespeck yang bertanda positif."
" Tenang saja. Aku sudah mempersiapkannya untukmu. Kamu tinggal beraksi saja."
Jelita mengeluarkan tiga buah tespek bekas pakai yang memiliki tanda positif semuanya. Selena yang melihatnya sungguh kagum. Jelita bisa mendapat benda itu dengan mudahnya.
" Woaaah… aku akui kau memang hebat Jelita. Nampaknya rencanamu ini benar benar matang."
"Tentu saja. Aku yakin Adit akan hancur saat wanita yang dicintainya tak lagi percaya padanya atau mungkin bahkan meninggalkannya."
" Kau benar Jelita. Aku sudah tidak sabar melihat wajah Adit yang menderita hahahah."
Selena terbahak membayangkan keberhasilan rencana mereka berdua. Sungguh ia begitu naif. Selena tidak mengetahui bahwa ia hanyalah alat yang digunakan Jelita.
" Ya aku juga sudah tidak sabar menanti wanita kampung itu meninggalkan Adit." Jelita bergumam sangat pelan.
" Baiklah Jelita aku akan pulang dulu. Jika aku memulai aksiku, aku akan mengabarimu."
Jelita mengangguk dan tersenyum. Ia pun melambaikan tangannya kepada Selena.
" Huft…. Kemana pria itu ya. Mengapa tidak muncul?"
Jelita kembali menengok kekanan dan ke kiri. Mencoba mencari sekali lagi pria itu tapi nihil pria itu sama sekali tidak tampak.
" Mencariku hmmm."
" Kau… dari mana saja aku mencarimu dari tadi."
Nico tersenyum. Pria yang dicari cari jelita itu muncul dari balik punggungnya. Nico langsung duduk di sebelah Jelita dan langsung mencium pipi Jelita.
" Apa begitu merindukanku, hingga kebingungan mencariku?"
" Haish… kau percaya diri sekali."
Nico tergelak, ia tahu wanita itu ketagihan dengan permainannya. Bahkan sebelum Jelita datang, ia sangat yakin bahwa wanita itu akan segera mencarinya.
Nico secara tiba tiba langsung menggendong Jelita dan membawanya ke kamar. Ia merebahkan tubuh Jelita dan langsung melucuti semua pakaian wanita itu.
Jelita hanya tersenyum melihat aksi Nico. Ia memang menanti Nico melakukan permainan nya.
__ADS_1
Des*han demi des*han menggema di ruang 4x 5 meter itu. Jelita tersenyum puas dengan setiap sentuhan Nico. Bahkan Jelita tidak peduli lagi Nico tidak menggunakan pengaman. Karena baginya Nico sangat memabukkan.
Jelita pun tertidur karena kelelahan yang luar biasa. Ia pun sampai abai dengan bagian intinya yang membengkak.
Nico yang merasa kasihan mengeluarkan sebuah salep dan mengoleskannya.
" Tidurlah manis. Aku harus pergi dulu untuk waktu yang lama."
Nico menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu mengenakan pakaiannya. Ia membereskan baju Jelita dan meletakkannya di samping ranjang lalu segera pergi meninggalkan bar tersebut.
🍀🍀🍀
Tiga hari berlalu, Adit sudah diperbolehkan pulang. Namun tidak dengan Revina. Revina dirujuk ke rumah sakit ketergantungan obat. Berita tentang Revina yang mengonsumsi obat penenang itu pun menyebar ke seluruh media sosial. Portal portal berita online ramai memberitakan mengenai Revina yang masuk ke rumah sakit ketergantungan (RSKO).
Mereka sampai rumah pribadi mereka sendiri. Ternyata di dalam sudah ada Ahmad, Ibu Widya, dan Ayah Aji. Ketiga nya menyambut Adit dengan senyum kebahagiaan.
" Selamat datang Adit…."
" Terimakasih semuanya."
" Alhamdulillah kamu sudah sembuh nak."
" Iya bu.. Maaf jadi merepotkan."
" Jangan bilang gitu Dit. Kan kita keluarga."
" Iya bang…"
Adit tersenyum. Sungguh ia bersyukur mendapat keluarga baru yang sangat baik kepadanya. Dalam hati, Adit berdoa agar selamanya ia bisa seperti ini berada ditengah tengah keluarga yang hangat.
" Lho yah… kok cepet sudah mau pulang ibu sama bang Ahmad juga."
" Iya nak, di kulkas sudah ada makanan tinggal diangetin ya. Kami pulang dulu biar kalian bisa istirahat."
" Kami pulang dulu ya, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Lia membawa Adit masuk ke kamar dan membantunya untuk merebahkan tubuh di tempat tidur.
" Mas mau makan?"
" Nggak ya. Mas nggak pengen makan."
" Kalau gitu bentar ya Yaya ganti baju dulu."
Lia berlalu menuju kamar mandi. Ia pun segera melepas bajunya dan mandi sekalian mengingat tubuhnya yang sangat lengket.
Ketika hendak memakai baju Lia kebingungan pasalnya dia lupa membawa baju ganti dan tidak mungkin memakai bajunya yang tadi karena sudah dimasukkan di keranjang pakaian kotor. Lia pun melilitkan handuk pada tubuhnya. Ia ingin meminta tolong Adit namun mengingat suaminya baru sembuh ia pun urung. Akhirnya Lia keluar dari kamar mandi dengan berjalan perlahan.
Tak… tak… tak…
Lia mengintip mencoba melihat Adit sedang melakukan apa. Ternyata suaminya sedang tidur.
" Huft… Alhamdulillaah… mas Adit lagi tidur."
__ADS_1
Lia pun berjalan pelan menuju lemari pakaiannya. Ia membuka lemarinya perlahan agar tidak membangunkan Adit. Namun ternyata Adit tidak tidur. Bahkan Adit sudah berdiri tepat di belakang Lia.
" Sayang….."
Lia meremang mendengar panggilan sayang dari mulut Adit. Tubuh Lia membatu di depan lemari.
" M-mas… Yaya pikir mas tidur hehehe." Lia tertawa kaku.
" Yaya… apa kau sedang menggodaku hmm…."
Suara berat Adit yang didengar Lia dengan penuh tekanan membuat Lia kesusahan menelan salivanya.
" Sayang… apa kau tidak tahu. Kau sedang membangunkan macan tidur hmm…"
" M-mas… aku…."
Greb… Adit memakaikan selimut untuk menutupi tubuh Lia lalu memeluknya dan mencium pucuk kepala sang istri. Ternyata Adit hanya menggoda Lia. Adit sudah berjanji tidak akan menyentuh Lia sebelum Lia siap lahir dan batin menerima Adit menjadi suaminya.
" Ya Allaah Yaya… kamu sudah gemetaran begitu. Maaf aku cuma bercanda. Maaf ya."
Lia membalikkan tubuhnya menghadap ke Adit. Ia tertunduk di sana dan Adit bingung mengapa Lia diam saja.
" Sayang… maafin mas ya… mas nggak bermaksud menakutimu. Sungguh… mas cuma bercanda."
Lia masih bungkam dan Adit semakin bingung. Dia harus melakukan apa untuk membuat istrinya bicara.
Cup…
Tiba tiba Lia berjinjit dan mencium bibir Adit. Tidak hanya sekedar kecupan tapi Lia mencoba untuk ******* bibir Adit. Adit yang tidak siap terang saja terkejut mendapat serangan Lia. Matanya membelalak sempurna.
" Sa-sayang."
" Aku siap mas."
" A-pa k-kau yakin?"
Lia mengangguk. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Adit. Selimut yang berada di tubuh Lia pun terjatuh dan menyisakan lilitan handuk saja di tubuh mungil gadis itu.
Adit merangkul pinggang kecil Lia agar menempel di badannya. Adit merasakan benda kenyal itu di dadanya. Ia lalu mencium kening Lia, turun ke mata lalu mencium bibir Lia dengan lembut. Keahlian yang dia miliki mampu membantu Lia merasa nyaman dan menikmati setiap sesapan sesapan yang bibir Adit lakukan.
Lia yang masih amatir sedikit pasif dan lebih banyak menerima. Tapi Adit sungguh suka. Ia benar benar merasakan hal yang jauh berbeda saat bersama Lia.
" Apakah ini yang dinamakan nikmat halal. Rasanya sungguh berbeda. Aku ingin melakukannya dengan lembut dan perlahan dan tidak terburu buru." Monolog Adit dalam hati.
Adit melepaskan pagutannya dan membiarkan sang istri bernafas terlebih dahulu. Lia meraup nafas dalam dalam. Wajahnya memerah. Ia merasa malu dengan apa yang ia lakukan tadi.
" Sayang… berarti ini juga ciuman pertama mu?"
Lia mengangguk. Ia menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.
" Ya Allaah… beruntungnya aku mendapatkanmu dan semua adalah yang pertama. Tapi mungkin kesialan bagimu karena mendapatkan barang bekas karena aku …"
Tidak ingin suaminya merasa insecure lagi Lia kembali meraup bibir Adit. Ia mencoba membungkam Adit dengan bibirnya. Adit pun mengikuti apa yang Lia mulai. Lia berusaha melakukan yang terbaik meskipun masih sangat kaku.
Tiba tiba lilitan handuknya terlepas. Tubuh Lia terlihat dengan sempurna. Adit semakin merasakan benda kenyal itu di dadanya. Tangannya mulai meraba punggung Lia dan meremas bokong sintal istrinya.
__ADS_1
TBC