Casanova Insaf

Casanova Insaf
CI 41 - Istriku, Amelia Salsabila


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dengan tenang. Berita menyebutkan Karto dihukum seumur hidup karena banyak sekali kejahatan yang dia punya dari penyelundupan, perdagangan manusia, hingga pemerkosaan. Sedangkan putrinya tidak ditemukan dimana keberadaanya.


Media melihat putri Karto terakhir di rumah sakit. Namun setelah itu sudah tidak tampak lagi keberadaannya.


Wanita yang tengah menjadi objek pencarian itu berada di rumah seorang pria yang menjadikannya budak **** nya. Jelita setiap hari digagahi oleh Nico hingga terkadang ia terkulai lemas. Setiap Jelita pingsan Nico selalu merawatnya dengan baik namun ia akan memainkan wanita itu saat sudah kembali sehat.


Tak jarang jelita mencoba mengakhiri hidupnya. Tapi selalu gagal karena Nico selalu bisa mencegahnya dan mengobatinya.


" Jangan harap kau bisa mati sebelum aku mengizinkanmu untuk mati."


Jelita menangisi keadaannya. Ia merasa hidupnya bukan lagi miliknya. Dalam hati ia memilih kematian daripada menjalani hidup yang seperti ini.


🍀🍀🍀


Lia kini tengah berada di ruangan Adit menyiapkan makan siang. Beberapa hari ini Adit selalu meminta Lia memasak  makan siang dan mereka akan makan siang bersama. 


" Mas… kalau mereka tahu gimana?"


" Ya biar saja, kita udah sah kok. Halal mau ngapa ngapain juga. Oh iya sayang sepertinya kita memang harus mengumumkan pernikahan kita. Bagaimana menurutmu?"


" Tapi mas…"


Adit mengikis jarak, ia meraih dagu lia dengan tangannya. Ia menatap lekat manik mata sang istri.


" Kita harus mengumumkan pernikahan kita kepada semua karyawan agar tidak timbul fitnah. Jika kau tidak sanggup menerima omongan orang orang, kamu tidak perlu berangkat di rumah. Nyonya Adit jadilah nyonya baik di rumah dan menunggu suami pulang kerja setiap harinya."


Adit menghentikan ucapannya, tangannya beralih mengusap perut Lia yang datar.


" Aku hanya tidak ingin jika suatu saat nanti Adit Junior tumbuh di sini akan ada fitnah yang menerpa mu."


Lia mengangguk paham. Apa yang diucapkan Adit semuanya benar. 


" Apa kamu setuju sayang."


Lagi lagi Lia hanya mengangguk. Adit yang kelewat gemas dengan sang istri langsung meraup bibir istrinya. Mereka saling membelit lidah dan bertukar saliva. Adit yang hasratnya mulai naik langsung menyusupkan tangannya kedalam baju Lia. Lia sempat menahan tangan Adit namun ia kalah. Tenaga suaminya itu lebih besar.


" M-mas jangan di sini. Takut ada yang masuk."


" Tidak apa apa. Tidak ada yang akan masuk."


Adit merebahkan tubuh Lia ke sofa. Baru ia ingin membuka kancing baju istrinya tiba tiba terdengar suara yang sangat ia kenal.


" Bos, ada klien mau ke...te...mu. Ups sorry bos sorry."


Lia langsung bangkit dan berdiri. Ia merapikan bajunya yang sedikit kusut. Beruntung kancing bajunya belum dilepas oleh Adit.


" Silahkan mas Doto, Lia mau kembali ke ruangan."


Lia berlalu sambil mencubit lengan Adit dengan keras.


" Sayang sakit."


" Biarin."


Lia sedikit berlari, sungguh ia sangat malu kepergok Doto. Sepeninggalnya Lia, Adit memandang tajam ke arah sang asisten itu.


Mateng, singa jantan ngamuk karena ditinggal betinanya. Habis sudah aku, batin Doto


" Mau apa?"


" Ada klien mau ketemu."


" Ayo."


Adit keluar diikuti Doto untuk bertemu klien. Beruntung semuanya lancar dan tanpa drama saat mood bos nya tengah begitu buruk.


Setelah sejam meeting dadakan itu Adit kembali ke ruangannya. 


" Doto kamu tahu apa kesalahanmu?"


" Iya bos maaf."


" Tck...tck...tck… tidak semudah itu ferguso. Kau harus dihukum."


" Yah bos, jangan potong gaji ya jangan pula pending bonus… pleaseee."


" Tenang, kamu tidak akan potong gaji ataupun bonus. Kamu hanya harus lembur malam ini."

__ADS_1


" Lembur???"


Doto mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa yang dipikirkan bosnya yang sedang senyum senyum sendiri.


***


Jam pulang kerja Adit mengantar Lia ke rumah ibunya. Ia beralasan akan lembur dengan Doto di perusahaan.


" Apa mas tidak mau aku temani?"


" Tidak perlu sayang, sudah ada Doto. Nanti kamu capek. Kamu tidur di rumah ibu saja, besok aku jemput. Aku kepikiran kalau kamu di rumah sendiri."


Lia mengangguk pasrah dengan keputusan sang suami. Ia menurut saja apa yang jadi pengaturan suaminya.


Doto yang sudah diberi maklumat oleh sang bos  langsung mencari dekorasi ruangan saat itu juga.


" Emang bos gendeng. Magrib magrib begini suruh nyari WO. Huft…"


Doto mengomel sepanjang jalan. Beruntung dia punya kenalan orang WO jadi memudahkan dia untuk menemukan orang yang mau mendekorasi sebuah hall perusahaan malam ini juga.


Hall perusahaan sungguh terlihat sibuk. Adit datang dengan membawa sejumlah makanan dan minuman untuk orang orang WO.


" Bikin sederhana tapi elegan, jangan glamor istri saya tidak suka."


Semua orang mengangguk. Adit menginginkan konsep sederhana. Ia akan mengumumkan pernikahannya dengan membuat sebuah pesta pernikahan di hall perusahaan. 


Semua itu dengan tujuan agar para karyawannya tahu bahwa dia sudah memiliki istri agar tidak lagi ada yang berharap padanya.


6 jam berlalu, hall perusahaan tersebut disulap menjadi gedung resepsi pernikahan yang cantik. Warna putih mendominasi dengan hiasan bunga bunga. Ada dua buah kursi di pelaminan, dibelakangnya terdapat inisial AA untuk nama Amelia dan Aditya.


" Bagaimana pak Adit, apakah sesuai dengan yang anda inginkan."


" Good … saya suka. Baiklah terimakasih atas pekerjaan kalian. Doto akan mengurus pembayarannya."


Pihak WO tersebut bernafas lega sang klien merasa puas dengan hasil kerjanya.


" Aku sudah tidak sabar melihat reaksi Lia besok."


***


Keesokan paginya selepas subuh Adit sudah sampai di kediaman ibu Lia lengkap dengan gaun yang ia pesan untuk sang istri. Adit juga membawa make up artis untuk merias istrinya. Adit juga sudah menyiapkan pakaian untuk ibu dna Bang Ahmad.


" Lho mas… pagi bener. Ini siapa?"


Tidak mau banyak bertanya, Adit langsung membawa Lia masuk kamar dan meminta MUA untuk merias sang istri. Sedangkan ia meminta Ibu Widya dan Bang Ahmad untuk berganti pakaian juga. Ia menyampaikan akan membuat sebuah syukuran resepsi. 


2 jam berlalu, Lia keluar dari kamar dengan gaun yang dipilihkan Adit dan sudah lengkap dengan riasan. Meskipun pernah melihat istrinya didandani Adit tetaplah terpukau.


" Sayang, kamu cantik sekali."


" Makasih mas, kita mau apa memangnya. Kenapa harus dandan segala."


Adit tidak menjawab hanya tersenyum lalu menggandeng sang istri menuju mobil. Di dalam sudah ada ibu Widya dan bang Ahmad. Keempatnya menuju ke perusahaan.


Di perusahaan kehebohan terjadi. Semua orang saling bertanya ada apa gerangan mengapa banyak sekali mobil catering makanan masuk ke perusahaan. 


" Ada pesta apa?"


" Entah… nggak tahu juga."


" Ekhem… perhatian perhatian. Seluruh karyawan JD Advertising diminta menuju Hall perusahaan sekarang juga. Harap tertib dan rapi."


Semua karyawan patuh dengan pemberitahuan tersebut. Mereka semua menuju ke hall perusahaan. Semuanya terkejut ketika sampai di sana. Sebuah dekorasi yang langsung mereka tahu bahwa itu adalah dekorasi untuk pesta pernikahan.


" Siapa yang nikah?".


" Masa pak Adit sih? Sama siapa?"


" Iya, sama siapa coba ya. Siapa yang beruntung dapat pak Adit."


Semua orang saling bertanya- tanya. Begitu juga dengan rekan kerja satu timnya. Anjar, Desi, dan Imam celingukan mencari sosok Lia.


" Lia mana Des?"


" Nggak tahu? Apa dia nggak masuk ya?"


" Des… bukanya itu Lia."

__ADS_1


" Mana??"


Lia datang bergandengan dengan Adit diikuti oleh Ahmad, Aji, dan Widya.


Tadi sesampainya di lobby Lia sedikit bingung. Pasalnya mengapa dia harus memakai gaun untuk ke perusahaan dan mengapa kantor begitu sepi. Namun saat memasuki Hall Lia sungguh terkejut melihat semua dekorasi yang sangat cantik itu.


" Mas… ini kamu yang nyiapin."


" Heem kamu suka?"


Lia terharu dengan kejutan dari Adit. Ia tidak bisa berbuat apa apa.


Di depan Doto sebagai MC acara mulai mengucapkan kata demi kata.


" Para karyawan JD Advertising. Di hari yang berbahagia ini. Izinkan saya mempersembahkan kepada kalian semua sebuah lagu untuk sepasang pengantin baru kita. Saya yakin kalian semua merasa bingung dan terkejut, hari ini adalah acara resepsi pernikahan presdir tersayang kita Aditya Putra Bratasena dengan wanita pujaannya Amelia Salsabila."


Suara gemuruh tepuk tangan membahana, mereka semua melihat ke arah Adit dan Lia. Ada rasa tidak percaya pada diri mereka bosnya itu akan menikahi karyawannya. Namun apa yang mereka lihat adalah kebenaran. Ucapan selamat pun didapatkan keduanya. Adit tersenyum ke arah Lia dan membawanya ke kursi pelaminan.


Betapa bahagianya hatiku


Saat ku duduk berdua denganmu


Berjalan bersamamu, Menarilah denganku


Namun, bila hari ini adalah yang terakhir


Namun, ku tetap bahagia, Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun, bila kau ingin sendiri


Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap, Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya t'lah tiba, Ku ingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana, kemari, dan tertawa


Namun, bila saat berpisah t'lah tiba, Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Namun, bila kau ingin sendiri


Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap, Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya t'lah tiba, Ku ingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana, kemari, dan tertawa


Namun, bila saat berpisah t'lah tiba


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku, Sudilah kau menjadi temanku


Sudilah kau menjadi


Istriku


Lagu Akad dari Payung teduh dinyanyikan Doto dengan sangat apik. Membuat semua orang di sana ikut larut dalam momen romantis yang tercipta.


" Baiklah, sekarang saatnya meminta sang pengantin untuk menyampaikan sepatah dua patah kata."


Adit maju ke depan, ia tersenyum ke arah sang Istri. Semua mata memandang penuh rasa takjub. Seorang Aditya Putra Bratasena bisa bersikap begitu lembut kepada orang lain.

__ADS_1


" Istriku….Amelia Salsabila."


TBC


__ADS_2