Casanova Insaf

Casanova Insaf
CI 30 - Duo Ulat Bulu


__ADS_3

Adit membawa Lia ke sebuah rumah yang baru saja ia beli. Ia manh sengaja menjual apartemennya yang lama karena disana terdapat banyak hal maksiat yang pernah ia lakukan. Dan Adit memilih membeli rumah karena dia ingin kehidupan rumah tangga nya lebih privasi.


"Masuklah, nomor pin kunci rumahnya tanggal pernikahan kita hari ini."


Lia mengangguk dan tersenyum. Adit menarik koper milik Lia dan membawanya masuk.


" MasyaaAllaah bagus mas rumah nya."


" Alhamdulillah kalau kamu suka. Maaf tidak besar."


" Nggak pa pa mas. Ini cukup untuk kita berdua. Lagian kalau besar besar susah ngebersihinnya."


Adit sellau senang dengan celetukan celetukan spontan yang diucapkan Lia.


Kini keduanya menuju ke kamar mereka untuk berganti pakaian. Lia mengeluarkan baju baju nya dan menaruh di dalam lemari. Tapi ternyata lemari tersebut sudah terisi oleh pakaian pakaian wanita dan beberapa hijab.


" Lho mas… ini…"


" Ooh iya, aku minta Doto menyiapkannya. Kalau kamu tidak suka nanti kita bisa beli lagi."


" Tidak usah mas, cukup. Aku tidak pemilih yang penting sopan dan tidak menyalahi aturan dalam berbusana sebagai seorang muslimah."


Adit tersenyum ia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dulu ke kamar mandi. Sedangkan Lia ia mengganti gaunnya di kamar dengan baju rumahan. Kali ini ia tidak memakai hijabnya. Ia membiarkan rambutnya terlihat oleh sang suami. Lia menggulung rambut panjangnya ke atas sehingga lehernya yang putih terlihat jelas.


Adit yang baru saja keluar dari kamar mandi sungguh terkejut melihat tampilan Lia yang tidak mengenakan hijabnya.


"Ya ya…. Kamu…."


Lia tersenyum dengan keterkejutan Adit. Ia pun mendekat ke arah sang suami.


" Mas… aku akan belajar menerimamu dengan membiarkanmu melihatku seperti ini."


" Ya Allaah, kau begitu cantik. Aku sungguh beruntung menjadi pria pertama yang melihatmu seperti ini.'


Lia tersipu dengan pujian Adit. 


" Tapi mas aku masih belum siap untuk memenuhi kewajiban ku."


" Tak apa sayang. Tidak usah terburu buru. Aku akan menunggumu." 


" Mas sudah ambil wudhu?"


" Sudah…"


" Baiklah tunggu aku."


Adit mengangguk, ia amat bersyukur Lia mulai mempercayainya. Adit berjanji ia tidak akan pernah membuat Lia kecewa.


🍀🍀🍀


Wanita yang tadi melihat Adit dengan tatapan geram sudah ada di depan pintu. Dia ingin segera bisa menampar wajah Adit saat ini juga.


Tok...tok….tok….


" Adit… buka pintunya… keluar kau!"


Ceklek…


Muncul seorang wanita dari dalam, wanita tersebut bingung kedatangan tamu yang tidak ia kenal.


" Maaf mbak siapa ya?"


" Mana Adit, kamu wanita keberapanya Adit hah?"

__ADS_1


" Maaf mbak , Adit siapa ya. Disini tidak ada yang namanya Adit mbak."


" Bukannya ini apartemen milik Adit?"


" Oooh mungkin yang mbak maksud pemilik apartemen yang lama, saya adalah penghuni baru apartemen ini. Apartemen ini sudah dijual oleh pemiliknya dan sudah saya beli."


" Oh … maaf kalau begitu. Apakah anda tahu pemilik lamanya pindah kemana?"


" Waah maaf mbak.. Tidak tahu. Coba mbak tanya ke bagian marketingnya saja."


" Baik terimakasih. Sekali lagi maaf."


Wanita tersebut pun sungguh malu, pasalnya yang berada di apartemen itu bukanlah Adit.


" Sialan kau Adit, lihat saja aku akan menemukanmu. Jangan panggil aku Selena jika tidak bisa menghancurkanmu."


Selena pun pergi dengan amat kesal. Ia tidak tahu bahwa dirinya telah diikuti oleh seseorang. Hingga saat ia hendak masuk mobil ia dihadang oleh seseorang tersebut.


" Namamu Selena bukan?"


" Iya bagaimana kamu tahu dan siapa kamu?"


" Tidak ada wanita yang berhubungan dengan Adit yang tidak diketahui identitasnya olehku. Namamu Selena, berkencan dengan Adit sekitar 3 bulan yang lalu bukan?"


" Ya.. Lalu siapa kau."


" Kenalkan aku Jelita, sepertinya kita punya tujuan yang sama. Kita sama sama ingin menghancurkan Adit. Aku adalah pacar Adit. Kami sudah menjalin hubungan selama 5 bulan."


" Apa…??? Jadi… argh… dasar pria brengsek itu."


Selena terlihat sangat geram. Dia taunya adalah wanita satu satunya yang yang dikencani Adit. Tapi ternyata dia salah, dia hanyalah salah satu koleksi mainan Adit. 


Melihat wajah marah Selena malah membuat Jelita tersenyum devil.


" Bagus, marahlah. Semakin kau marah semakin menguntungkan buatku. Aku akan memanfaatkanmu untuk memisahkan Adit dari wanita kampungan itu." Batin Jelita.


" Apa yang kau inginkan dariku. Jangan jangan kau mau memanfaatkanku?"


" Jangan berburuk sangka. Aku hanya kasihan padamu yang telah ditipu oleh Adit. Kita ini di perahu yang sama. Sama sama dikecewakan Adit. Aku hanya menawarkan kerja sama untuk menghancurkan Adit. Bukankah itu yang kau inginkan?"


Selena tampak berfikir. Sebenarnya tidak ada alasan juga untuk mencurigai Jelita, toh mereka di sini sama. Sama sama ingin membalas Adit.


" Baiklah… katakan apa rencanamu."


Jelita menyeringai ia kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Selena dan mengatakan rencananya.


" Itu cukup bagus. Tapi aku tidak tahu dimana tempat tinggal Adit sekarang."


" Itu hal yang mudah, berikan nomor ponselmu nanti akan ku hubungi jika aku sudah menemukan rumah Adit."


" Baiklah setuju."


Keduanya berjabat tangan dan saling tersenyum. Jika dalam pikiran Selena benar benar ingin membuat Adit menderita, maka lain dengan apa yang dipikirkan Jelita.


Jelita berpikir jika Adit dan Lia berpisah maka ia akan datang sebagai dewi penolong untuk Adit. Ia akan mengisi kekosongan hati Adit katena ditinggalkan Lia. Skenario yang luar biasa yang telah Jelita siapkan dengan apik. Jelita sangat yakin rencananya akan berhasil.


" Baiklah Jelita, aku harus pergi dulu. Senang bekerjasama denganmu."


" Tentu saja Selena. Tunggu kabar baik dari ku. Daa… hati hati di jalan."


Brak…


Brummm…..

__ADS_1


Selena melesat menjauh dari tempat parkir apartemen yang dulunya ditempati oleh Adit itu. Sedangkan Jelita ia tertawa terbahak.


" Hahahahah…. Dasar gadis bodoh. Mau saja kau ku jadikan bidak catur ku. Tck...tck… wanita yang sakit hati ternyata mudah sekali di manipulasi. Tapi baguslah, dengan begini Aku tidak perlu mencari orang lain lagi untuk membuat Adit dan wanita kampung itu berpisah. Tunggulah Adit sayang Dewi penolong akan datang."


Jelita kemudian kembali masuk ke mobilnya. Suasana hatinya kali ini sangat bagus. Ia pun menuju ke sebuah bar untuk membuat perayaan kecil atas rencananya.


Ckiit….


Jelita memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung Bar. Saat ini masih siang hari, dari luar bar tampak masih sepi namun siapa sangka di dalam sudah banyak pengunjung yang datang.


Dentuman musik mulai terdengar saat Jelita memasuki bar tersebut. Ia kemudian melepaskan jaketnya dan hanya menyisakan tanktop serta rok mini berbahan denim. Ia memesan sebotol minuman yang langsung ia tenggak tanpa menggunakan gelas. Tampak seorang pria menghampiri Jelita. Tubuhnya yang memang seksi membuat pria tersebut tertarik.


Selama beberapa hari ini Jelita memang mengistirahatkan otaknya dengan mengunjungi bar ini. Dan pria tersebut sudah menargetkan Jelita saat Jelita pertama kali datang.


" Hai cantik.. Boleh gabung."


Jelita mengangguk namun dia sedikit acuh. Jelita kembali meminum minumannya.


Glek… glek…


Cara minum Jelita tampak begitu seksi di mata pria tersebut. Pria itu pun berkali kali menelan salivanya dengan susah payah. Ia berulang kali menatap tubuh Jelita dengan tatapan penuh hasrat. Jelita yang paham arti tatapan pria itu pun meletakkan botol minumnya dan mendekat ke arah si pria.


" Apa yang kau inginkan hmm… apakah ini?"


Jelita menaikkan rok nya hingga pangkal paha hingga membuat nafas pria itu tak beraturan.


" Atau kau ingin yang ini?"


Jelita menurunkan tali tanktopnya sebelah hingga salah satu benda kenyalnya hampir terlihat sempurna.


" Apakah boleh aku…"


Belum selesai pria tersebut menyelesaikan kalimatnya Jelita sudah menarik salah satu  tangan pria tersebut ke pahanya. Dan tangan satu lagi ke dada nya.


Pria itu membelalakkan matanya, ia berpikir Jelita ini adalah seorang maniak. Namun pria itu menyeringai. Ia memainkan kedua tangannya di tempat yang berbeda 


Akh… jelita mengerang saat bagian bagian sensitifnya dimainkan oleh si pria.


" Ayo pindah ke kamar." 


Jelita berbisik di telinga pria tersebut. Sang pria langsung menggendong Jelita dan memesan sebuah kamar yang berada di bar tersebut.


Pria itu melempar Jelita di ranjang lalu mengungkungnya. Ia menciumi setiap tubuh jelita yang sudah semakin panas. Jelita yang sudah lama tidak mendapat sentuhan dari Adit seperti menggila.


"Akh… please.. Lakukan  sekarang aku sudah tidak tahan."


Jelita melepaskan semua bajunya dan baju si pria itu dengan buru buru. Sungguh pria itu sangat senang. Akhirnya ia mendapatkan lawan yang sepadan.


" Siapa namamu pria tampan?"


" Aku Nico."


Nico terus menaikkan tempo permainan sehingga membuat Jelita berkali kali memekik.


" Nico kau sungguh luar biasa. Baru kali ini aku bertemu pria yang sangat luar biasa… akh… bisakah lebih cepat lagi."


" Sesuai keinginanmu sayang."


Sepasang orang yang tidak saling mengenal itu bermain berkali kali tanpa ada jeda. Entah orang seperti apa mereka berdua ini. Namun keduanya sama sama puas. Mereka sama sama merasakan kepuasan yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya dari partner ranjang mereka.


Keduanya pun ambruk, peluh membasahi tubuh mereka. Namun mereka tersenyum puas.


" Terimakasih sudah memuaskanku Nico."

__ADS_1


Jelita sungguh berterima kasih dengan apa yang dibuat Nico. Hal itu sedikit mengobati rindunya akan sebuah sentuhan. Namun dalam hati Jelita tetap hanya Adit yang dia inginkan. 


TBC


__ADS_2