
Adit terlihat begitu geram melihat perlakuan ayah Lia kepada Lia. Meskipun Adit tidak tahu isi percakapan mereka, namun Adit berkesimpulan bahwa orang tua itu pasti sedang memaksa Lia. Hal itu tampak saat Lia berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman sang ayah. Lia pun menggelengkan kepalanya berkali kali hingga ia mendapat tamparan.
Brak….
" Brengsek… dasar orang tua laknat!!"
Doto yang melihat sang bos tampak murka langsung ikut melihat rekaman cctv tersebut.
" Astagfirullaah…. Bos… Lia ditampar sama siapa?"
" Ayahnya."
" Ya Allaah… tega banget. Masa anak sendiri digituin."
" Itu bukan hanya yang pertama ku lihat Dot. Waktu kapan aku juga melihat tangan Lia dicengkram kuat oleh ayahnya dan hijabnya ditarik sampai hampir terlepas."
"Wah bos… itu sudah masuk dalam ranah kdrt itu."
Adit mengangguk membenarkan ucapan Dot.
" Dot… cari orang, tempatkan satu pengawal di sisi Lia tapi jangan sampai Lia tahu. Terus satu lagi kirim satu orang untuk mengawasi ayahnya Lia."
" Siap bos…. Laksanakan!!!"
Doto kembali berlari keluar untuk melaksanakan tugas yang diberikan Adit.
Adit merasa sedikit bingung dengan dirinya yang begitu mengkhawatirkan Lia. Ia merasa tidak terima Lia diperlakukan buruk oleh ayahnya.
Dalam hati Adit ia ingin sekali melindungi Lia. Ia ingin melindungi senyuman wanita berhijab itu. Adit ingin selalu bisa melihat senyumannya. Senyuman yang telah membuat Adit merasa senang dan hatinya tenang.
***
Di rumah sederhana milik Aji Bratasena, Aji sedang membuat sebuah cake. Sambil menunggu cake tersebut Aji menanam sebuah tanaman tanaman kecil pada sebuah pot kecil juga.
Tok….. Tok…. Tok….
Tring…..
Suara pintu diketuk bersamaan dengan bunyi oven yang menandakan bahwa cake yang ia buat sudah matang. Aji memilih mengangkat kuenya terlebih dulu dari oven.
Tok...tok...tok….
Pintu rumah Aji diketuk kembali. Adik meletakkan kuenya lalu berjalan sedikit berlari ke arah pintu.
" Ya tunggu sebentar."
Ceklek…
__ADS_1
Huft.. . Aji membuang nafasnya kasar saat melihat seseorang yang berdiri di balik pintu.
" Mau apa kau datang kemari kau tidak takut diikuti oleh para wartawan?"
" Ayolah Adik jangan sarkas biarkan aku masuk."
Mau tidak mau Aji membiarkan wanita tersebut masuk ke dalam rumahnya meskipun sebenarnya dia sangat enggan.
" Apa yang kau inginkan?"
" Waaah rumahmu sangat bagus Aji. Meskipun lebih kecil daripada rumah kita yang dulu tapi ini sangat nyaman."
" Berhentilah berbasa-basi Apa yang kau inginkan Revina?"
Revina, adalah mantan istri Aji yang dengan tega meninggalkan anak dan suaminya untuk karir dan pastinya untuk pria lain.
" Aku hanya ingin mengatakan padamu jangan membuat putra kita membenciku?"
Aji memicingkan matanya mencoba mencerna ucapan Revina.
" Apa maksudmu? Lagian sejak kapan Adit putraku menjadi putra kita. Bukannya kamu tidak mengakui dia sebagai putra mu?"
Hah…. Revina membuang nafasnya kasar. Ia menegapkan tubuhnya dan merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih serius.
" Kemarin aku ke perusahaannya, dia mengusirku dan melontarkan kata kata kasar."
Revina tersentak dengan ucapan Aji. Apa yang diucapkan mantan suaminya itu semuanya benar. Dia sendiri pun menyadari bahwa selama ini dia tidak pernah ada untuk putranya. Namun saat Adit begitu membencinya bahkan mengusirnya dengan tegas hati Revina begitu terasa sakit.
" Apakah kau tidak bisa menasehatinya lagi agar dia mau menerimaku? Atau paling tidak dia tidak membenciku."
" Oh…..Ayolah Revina, Adit itu sudah dewasa dia bisa tahu mana yang baik dan buruk. Dia juga tahu apa yang dia lakukan. Jujur aku selalu menasehatinya agar dia mau menemuimu. Tapi semua kembali lagi pada pribadi dan hatinya. Asal kau tahu, kau sudah menorehkan luka terlalu dalam di hati Adit, Revina."
Revina tertunduk, namun seketika ia menegakkan kepalanya kembali. Ia tersenyum sinis kepada mantan suaminya.
" Aku tidak percaya kau benar-benar membujuk adik untuk bisa berbaik hati kepadaku. Aku yakin kau pasti mengatakan hal buruk tentangku."
Bukannya menyadari kesalahannya, lagi-lagi Revina melimpahkan kesalahannya kepada Aji.
Aji begitu geram melihat tingkah sang mantan istri yang tetap terlihat angkuh dan arogan.
" Terserahlah padamu lah Rev… aku sudah tidak mau berkomentar. Oh iya jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan lebih baik kau pulang. Aku sibuk."
Aji berkata ketus kepada Revina. Sungguh ia sudah sangat muak dengan tingkah sang mantan istri.
" Cih… aku juga tidak sudi berlama-lama berada di rumahmu yang kecil ini sumpek."
Revina melinggang keluar dari rumah Aji. Tepat di depan pintu Adit datang.
__ADS_1
" Heh… mau apa kau mendatangi rumah ayahku?"
" Adit… tidak bisakah kau berbicara lebih lembut kepadaku. Aku ini ibumu."
Adit memalingkan wajahnya. Ia mengepalkan tangannya dengan erat menahan amarah dalam dada.
" Hahahaha… ayah dapat wangsit dari mana wanita ini mengaku-ngaku sebagai ibuku. Maaf ya Nyonya ibuku sudah mati tepat setelah dia meninggalkan rumah kami demi karir dan pria lain."
Adit melenggang masuk merangkul pundak sang ayah dan menutup pintu dengan keras.
Brak……
" Apakah ayah baik baik saja. Wanita itu tidka menyakitimu kan?"
Adit memindai tubuh sang ayah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia sungguh merasa khawatir terhadap ayahnya. Meskipun selama ini Aji terlihat baik-baik saja namun Adit tahu sesungguhnya Aji merasa sangat sakit hati bahkan trauma terhadap pernikahan. Berkali-kali Adit meminta ayahnya untuk menikah lagi namun Aji selalu menolak. Iya selalu berkata bahwa ia hanya ingin melihat Adit tumbuh mempunyai istri dan menimang cucu.
" Hei …. hei… Ayah tidak apa apa nak. I'm ok… lagian ibumu itu seorang wanita. Apa yang bisa ia lakukan kepada ayah."
" Huft… jangan katakan lagi. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak punya ibu yang seperti itu. Sampai sekarang juga dia nggak sadar sadar. Bahkan sekalipun dia tidak pernah meminta maaf pada ayah ataupun kepadaku "
Aji hanya bisa menanggapi apa yang diucapkan Adit dengan senyuman. Ia pun mengajak sang putra untuk duduk di ruang makan dan menikmati cake yang baru saja matang.
" Oh iya, kenapa masih siang begini kamu pulang. Kamu bolos ya dari perusahaan? Awas kalau mas mu tahu bisa dicincang kamu."
" Kalau ayah nggak ngomong mas Rama nggak akan tahu."
" Lha… Di kantor kan ada mbak mu."
" Oh iya hahahahha."
" Terus… ada apa kamu pulang."
Adit terdiam, baru kali ini ia merasa kikuk berbicara kepada sang ayah. Ia ingin menanyakan apa yang ia rasakan terhadap Lia. Dari tadi selama di kantor Adit sama sekali tidak fokus kepada pekerjaan dan akhirnya memilih untuk pulang menemui sang ayah.
" Begini yah… aku tuh merasa bingung dengan apa yang aku rasakan. Di perusahaan ada seornag gadis manis, dia berhijab. Aku selalu ingin membantu gadis itu."
Aji yang tadinya begitu serius mendengarkan cerita sang putra tiba tiba tertawa terbahak bahak. Memang Adit adalah presdir hebat namun ternyata soal hati Adit sungguh nol besar.
" Laaah… ayah malah ketawa gitu."
" Maaf maaf… Dit.. Tandanya kamu sudah jatuh cinta. Tapi ayah yakin itu akan sulit. Gadis itu pasti tidak terpesona oleh mu."
" Eh….."
Adit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang diucapkan sang ayah sepenuhnya benar. Lia memang berbeda dengan wanita wanita yang menghabiskan malam dengannya. Lia terlihat tidak tertarik dengan Adit. Saat para wanita berlomba menarik perhatian Adit, Lia terkesan cuek.
TBC
__ADS_1