Casanova Insaf

Casanova Insaf
CI 40 - Tamu Mendadak


__ADS_3

Nico sudah menunggu Jelita tepat di alamat yang ia berikan. Alamat itu tidak lain dan tidak bukan adalah rumah milik Nico. Nico sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Jelita.


Ckiiit…


Sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumah tersebut. Sosok seorang wanita cantik turun dari mobil dengan luka kepala yang masih diperban.


" Hai sayang, mari masuk. Aku sudah menunggumu."


" Benarkah itu?"


Jelita terlihat sangat senang mengetahui bahwa Niko telah menunggunya. Ia pun menerima uluran tangan Nico dan keduanya berjalan beriringan.


Sesampainya di dalam rumah Jelita terkejut mendapati beberapa orang di rumah Nico. Jelita pun segera melepaskan gandengan tangan Nico dan memundurkan tubuhnya.


" Nic… a-apa maksudmu?"


" Tck… tidak usah munafik Jelita. Bukankah kau suka dengan pria pria perkasa itu. Aku yakin mereka bisa memuaskanmu."


" Tidak… aku tidak mau. Sungguh… a-aku tidak menginginkannya."


" Jika begitu, apa yang kau inginkan hmmm."


Nico terus mengikis jarak hingga Jelita tersudut ke dinding. Nico terus menyeringai melihat wajah Jelita yang penuh dengan ketakutan.


" Ayolah, apa yang kau takutkan. Bukankah dari dulu kau suka bersenang senang?"


" A-apa maksudmu."


" Hahahaha Jelita… Jelita kau sungguh naif. Tck… baiklah aku beri kau 2 pilihan. Menarilah sekarang di depan mereka tanpa pakaian mu atau kau jadi budakku."


Jelita menelan salivanya kasar. Nasibnya sungguh sial. Niat hati ingin lari dari jeratan kasus polisi tapi kenyataannya dia malah masuk sarang serigala.


Jelita masih memiliki ego yang tinggi. Dia tidak sudi memperlihatkan tubuhnya kepada pria pria tidak jelas itu. Dia lebih memilih menjadi budak Nico.


" Cepatlah, aku tidak suka menunggu."


" A-aku lebih memilih jadi budakmu."


Nico tertawa terbahak bahak. Ia pun menyuruh orang orang tersebut meninggalkan rumahnya. Kini hanya tinggal mereka berdua saja.


" Lepaskan bajumu sekarang juga."


" T-tapi Nic… aku masih sakit."


" Tck, yang sakit itu kepalamu bukan itu mu."


Jelita terisak, Nico sungguh berbeda. Sebelumnya Nico adala pria yang begitu lembut tapi ternyata dia adalah seorang yang kejam. Jelita menurut ia membuka satu persatu pakaiannya hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.


Nico menatap Jelita dengan lapar. Pria itu pun langsung menuntaskan hasratnya kepada Jelita, tidak hanya sekali namun berkali kali. Sekali dua kali Jelita masih menikmati tapi setelahnya Jelita sudah merasa tidak sanggup. Ia merasakan sakit di area intinya. Nico benar benar maniak.


" Nic… stop… a-aku… S-sudah t-tidak s-sanggup."


Jelita akhirnya pingsan di atas Sofa.

__ADS_1


" Tck… Dasar wanita lemah."


Nico membawa tubuh Jelita ke kamar dan merebahkannya. Ia membuka kaki Jelita lalu mengoleskan salep di area inti wanita itu.


" Ini tidak boleh terjadi apa apa. Aku belum puas dengan tubuhmu sayang hahahaha salah siapa kau datang dengan sukarela kepadaku. Jadi sekarang kau harus menikmati hidupmu menjadi budakku selamanya."


🍀🍀🍀


Adit dan Lia yang tengah menonton televisi di rumah melihat berita mengenai penangkapan Karto. Keduanya saling tatap dan saling menghembuskan nafas lega.


" Alhamdulillah dia sudah tertangkap. Apa kau tau sayang Karto itu ayahnya Jelita."


" Benarkah?"


" Heem, mungkin ayahmu juga dikompori dia."


" Astagfirullah, adakah orang yang begitu kejam."


" Nyatanya ada begitu kok. Baiklah sudah tidak perlu dibahas. Biarkan mereka mendapatkan pembalasan yang sesuai dengan perbuatannya."


" Iya mas. Mas, apa kamu tidak malu mempunyai istri yang ayahnya seorang kriminal."


Adit membuang nafasnya kasar mendengar pertanyaan sang istri. Tampaknya Lia lupa jika ibunya juga bukanlah orang baik.


" Sayang, apa kau lupa siapa ibuku. Dia juga orang yang brengsek."


Lia bungkam, keduanya sama sama menjadi korban dari keegoisan salah satu orang tua mereka.


" Sayang…."


" M-mas…"


Lia mendes*h saat kedua asetnya dimainkan oleh Adit. Adit pun langsung meraup bibir Lia dan merebahkan tubuh istrinya itu di sofa.


" M-mas… aku…."


Adit berlagak tuli dengan ucapan sang istri. Ia pun membuka baju Lia dan juga membuka penutup benda kenyal mainannya itu. Adit lalu meraupnya dengan rakus dan menyesapnya bergantian. Ia memilin dan memainkan lidahnya di puncak bukit tersebut.


Tangan Adit meraba turun ke spot favoritnya, namun ia menjumpai sesuatu benda asing disana.


" Sayang… itu apa."


" Itu pembalut mas, aku lagi kedatangan tamu bulanan baru aja. Jadi mas puasa dulu.".


" Yaaah… kenapa nggak bilang."


Adit terkulai lemas, hasratnya yang sudah meninggal tiba tiba menguap begitu saja.


" Yaya sudah mau bilang dari tadi tapi mas Adit nya aja yang langsung nyerang."


Lia tertawa geli melihat ekspresi kekecewaan di wajah sang suami.


" Terus berapa lama itu tamu tak tau diri perginya."

__ADS_1


" Seminggu lah mas."


" Astagfirullah, baru aja buka puasa eh suruh puasa lagi mana seminggu lagi huft…."


Adit membenamkan wajahnya ke dada sang istri. Ia sejenak bersemayam di antara bukit kenyal istrinya itu. Adit memulai lagi yang sedikit tertunda.


" Baiklah main ini saja lah."


Adit menyesap lagi bukit kembar sang istri untuk sekedar menutupi rasa kecewanya. Lia pun mengusap rambut Adit dengan kembut.


Tok… tok...tok….


" Ya Allaah… Apa lagi ini."


Lia terkekeh geli. Ia segera merapikan bajunya yang sudah berantakan dan berlaku ke kamar untuk mengambil hijabnya. Sedangkan Adit, ia berjalan menuju pintu untuk membuka dna melihat siapa yang datang.


Adit begitu terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu.


" Mau apa lagi kamu, bukannya kamu di RSKO mengapa bisa disini?"


" Ibu diberi ijin tapi tetap diawasi itu mereka di sana. Adit ibu hanya mau minta maaf sama kamu."


" Tck… semuanya tidak akan selesai dengan hanya meminta maaf."


" Terus kamu mau apa?"


Adit diam, ia sendiri tidak tahu apa yang ia inginkan dari ibunya itu. Tapi yang jelas Adit sudah enggan dengan semua tingkah laku ibu nya.


" Lho ibu Revina, silahkan masuk."


" Tidak usah, dia tidak boleh lama lama. Sebentar lagi dia sudah harus pergi."


Lia menatap ekspresi sang suami. Ia pun mengalah dan membiarkan apa yang jadi kemauan Adit.


" Ibu sudah lebih baik?"


" Sudah nak terima kasih."


Tidak banyak pembicaraan hingga akhirnya Revina dibawa kembali oleh petugas rumah sakit.


Ya Revina memohon kepada pihak rumah sakit untuk mengizinkannya menemui Adit. Awalnya pihak rumah sakit menolak namun Revina mengancam akan menyakiti dirinya jika tidak diizinkan.


Setelah Revina berlalu, Adit seketika langsung terjatuh ke lantai. Ia kembali menangis di sana. Lia mendekap tubuh sang suami kemudian membimbingnya masuk ke dalam rumah.


" Mas…. Menangislah yang keras jika itu bisa melegakanmu."


Adit benar benar menangis, ia menangis di pelukan sang istri.


" Yaya, aku harus apa. Aku harus bagaimana menghadapi dia. Sungguh hatiku sangat sakit. Setiap melihatnya selalu mengingatkanku akan semua perbuatan buruknya kepada kami."


Lia terdiam, dia tidak berada di posisi Adit jadi dia sendiri tidak bisa berkata banyak.


" Ikhlaskan dan lupakanlah mas, meski itu berat. Sholat istikharah, mintalah petunjuk Allaah disetiap kebimbanganmu."

__ADS_1


TBC


__ADS_2