Casanova Insaf

Casanova Insaf
CI 33 - Kebusukan Karto


__ADS_3

Lia masih berada dalam pelukan Adit. Adit merasakan sebuah kenyamanan dan ketenangan dalam dekapan tubuh sang istri. Ia berkali kali menghirup aroma istrinya yang menenangkan tersebut.


" Mas… apakah belum cukup."


" Belum… Aku masih ingin seperti ini."


" Tapi aku pegel mas."


" Eh… maaf maaf."


Adit pun melepaskan pelukannya terhadap Lia. Wanita berhijab itu pun bangkit dari pelukan Adit lalu menggerak gerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri.


Adit melihat istrinya itu dengan tersenyum geli.


" Ya Allaah Yaya, apakah sebegitu pegelnya ya. Padahal nggak ada 10 menit lho."


Lia hanya nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi giginya. 


" Maaf mas, tapi emang pegel. Mungkin kalau posisinya nggak kayak tadi misalrebahan mungkin berbeda."


Adit menyeringai mendengar ucapan sang istri.


" Oke lah… Berarti kalau begitu nanti malam kamu temenin mas tidur di sebelah mas."


Lia terbengong. Ia merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.


Nggak gitu juga konsepnya bambaaang…, ucap Lia dalam hatinya. 


Tapi Lia tersenyum, dirinya sungguh bersyukur bisa melihat Adit sudah kembali seperti semula.


" Mas…"


" Hmmm… "


" Tadi memangnya apa yang ada dalam pikiran mas Adit? Apa mas tahu. Aku sangat takut tadi."


Adit meraih tangan sang istri dan menggenggamnya erat. Ia merasa bersalah telah membuat Lia ketakutan. Dari ucapan Lia yang bergetar Adit bisa mengetahui hal tersebut.


" Maafin mas ya. Mas juga nggak tahu apa yang mas rasakan waktu itu. Mas hanya enggan melihatnya. Tubuh mas ingin meraihnya tapi hati mas tidak. Ia ingin berlari jauh."


" Tidak apa mas. Istirahatlah dan maaf tadi aku meninggalkanmu sendirian."


Sambil tersenyum Lia mengusap usap tangan Adit. Ia ingin memberikan ketenangan untuk sang suami. Lia yang tadinya ingin menceritakan mengenai kondisi Revina akhirnya urung. Lia tidak ingin menambah apa yang menjadi pikiran Adit.


***


Jelita tersenyum puas saat mendapat kabar dari anak buahnya. Jelita mulai kembali bersemangat untuk menjalankan rencana yang sudah ia susun. Tentu saja ia akan menggunakan bidak catur yang telah ia miliki.

__ADS_1


Jelita mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Selena.


" Hai beb… ini aku Jelita."


" Oh kau, ada kabar bagus apa?"


" Apakah kau sibuk? Bisakah kita bertemu?"


" Tidak. Tentu, dimana?"


" Tristhy bar."


" Oke."


Jelita menyeringai. Entah apa yang ia rasakan. Tapi ia ingin kembali ke tempat itu dimana pria yang bisa mengikuti permainan nya berada. Ia merasa tubuh pria tersebut merupakan sebuah candu untuknya. Jelita selalu ingin mengulang kembali permainannya dengan pria yang ia temui di bar tersebut.


Jelita melenggang keluar rumah dengan senyum yang mengembang. Di depan rumah ia bertemu dengan Juragan Karto sang papa.


" Anak papa cantik banget, mau kemana sayang?"


" Mau ketemu temen pah. Papa dari mana?"


" Dari tutup showroom. Baiklah hati hati dan jangan pulang larut oke."


" Ayolah pa. Jelita bukan anak sd lagi."


" Baik pa."


Jelita mencium pipi sang papa sekilas. Ia lalu menaiki mobilnya dan brum….. Mobil tersebut melesat menjauh.


" Beberapa hari ini anak itu tampak tenang. Ia tidak lagi merengek untuk urusan Adit.  Jo… tetap awasi dia. Jangan sampai dia melakukan sesuatu yang nekat."


" Siap juragan."


Juragan Karto melangkah masuk ke dalam. Seorang pelayan yang masih muda dan cantik mendekat ke arahnya memberikan secangkir teh kepada sang juragan.


" Apa jelita tidak rusuh sayang?"


" Tidak juragan."


" Oh ayolah… jangan panggil seperti itu saat kita tengah berdua. Panggil aku sayang oke."


" Tapi… Saya takut di dengar yang lain juragan. Saya di sini masih baru, takut mereka membuli saya."


" Jika ada yang macam macam denganmu bilang padaku akan ku bereskan mereka."


" Tidak perlu begitu juragan. Mereka baik semua kok." 

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu ayo ke atas."


Karto membawa pelayan cantik di rumahnya itu ke lantai atas. Pelayang cantik yang baru bekerja satu minggu itu ternyata berhasil menarik perhatian Karto.


Surti memang cantik. Kulitnya yang putih mulus, bokongnya yang sintal dan benda kenyalnya yang penuh dan kencang membuat Karto tertarik.


Namun tidak ada yang tahu. Surti memang sengaja masuk ke rumah Karto untuk menggoda sang juragan. Dan rencananya berhasil, Karto pun tergoda dengan Surti. Bahkan lebih cepat dari prediksinya.


Di lantai atas Karto meminta Surti untuk duduk di pangkuannya.


" Sur… mengapa kau sungguh cantik."


" Sayang… kau sungguh pintar memuji."


" Apa kau mau menjadi istriku Sur."


Surti menyeringai mendengar ungkapan Karto. Namun seketika itu juga ia merubah seringai nya menjadi senyuman nakal dan menggoda.


" Aku tidak berani berpikir sampai ke arah sana juragan. Begini saja Surti sudah bahagia."


Karto tersenyum. Ia sungguh menemukan wanita yang sangat menarik. Karto pun mulai mencium bibir Surti. Surti lalu menghadap ke arah Karto dan mengalungkan tangannya ke leher pria tersebut.


Lihat saja, aku akan menghancurkanmu sehancur hancurnya. Seperti apa yang telah kau lakukan kepadaku dulu. Surti bermonolog dalam hati.


Setelah mencium bibir Surti, Karto langsung membawa surti ke kamarnya. Ia mulai melepaskan baju Surti. Matanya membelalak sempurna saat melibat bulatan kenyal yang sintal itu.


" Sur… kau sangat cantik Sur. Sungguh kau begitu indah. Apalagi itu...."


Karto langsung melahap bulatan kenyal milik Surti dengan lapar. Tangannya mulai meraba ke bawah dan menemukan spot kesukaanya. Ketika hasratnya benar benar membuncah dan matanya sudah berkabut gairah. Surti tiba tiba menghentikan aktivitas karto.


" Kenapa Sur. Apa kamu takut. Aku akan melakukannya dengan perlahan."


Surti yang sudah polos berdiri mengambil sebuah minuman dan memberikannya kepada Karto.


"Minum dulu sayang baru kau boleh memiliki tubuhku ini sepenuhnya."


Karto menurut, ia meminum air mineral yang diberikan Surti hingga tandas. Karto kembali meraih tubuh Surti namun tiba tiba pandangannya kabur dan dia terjatuh di atas ranjang miliknya.


Surti menyeringai, ia lalu menuju ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dan mengenakan kembali pakaiannya.


" Dasar pria bejat. Apa kau tidak mengingatku sedikitpun hah.... Gadis yang kau paksa memenuhi nafsu bejatmu dan kau jual ke rumah bordil mu. Apa aku sungguh sudah berubah sampai kau tidak ingat lagi? Huft …. Dasar pria laknat. Aku akan menghancurkanmu setelah apa yang kau lakukan kepadaku."


Surti merupakan salah satu korban Karto. Surti yang yatim piatu waktu itu tengah melintas saat Karto mabuk. Ia menyeret tubuh gadis muda itu kedalam mobilnya dan memaksa gadis itu. Melihat tubuh gadis itu yang bagus Karto malah membawa gadis itu ke rumah bordil dan menjualnya. Surti yang memang memiliki wajah cantik menjadi primadona di rumah maksiat itu. Namun setelah 2 tahun berlalu Surti berhasil keluar dari sana. Dengan pundi rupiah yang ia kumpulkan Surti berhasil merubah sedikit wajahnya dengan operasi plastik. 


Surti kemudian melamar sebagai pelayan di rumah Karto. Misi utamanya adalah membalas semua perlakuan Karto terhadap dirinya. 


TBC

__ADS_1


__ADS_2