
Adit menyetujui apa yang menjadi permintaan Lia. Dalam hati Adit sudah bertekad untuk tidak membuat Lia menangis. Jadi dengan kata lain ia akan berusaha membuat Lia bahagia, dan salah satunya yakni mengikuti apa yang menjadi persyaratan Lia.
Setyo yang melihat adegan tersebut sungguh sangat murka ia berjalan pelan dan hendak memukul Adit.
Bugh….
Bukan Adit yang jatuh tersungkur melainkan Setyo.
" Sialan… anak durhaka kau Ahmad. Berani berani nya kau memukul bapakmu."
Ternyata pukulan Setyo dihadang oleh Ahmad. Jika Lia memutuskan menerima Adit sebagai suaminya maka Ahmad pun akan menerima Adit sebagai bagian dari keluarganya. Dan sudah sewajarnya sesama anggota keluarga saling melindungi.
" Tidak ada sebutan anak durhaka dari seorang ayah yang tidak pernah melakukan tugas dan kewajibannya."
" Brengsek… apa yang kalian lihat cepat hajar bocah tak tahu diri ini."
Para bodyguard bawaan Setyo mulai maju namun langsung dihadang oleh orang orang dari kubu Adit.
Mereka kalah telak karena jumlah dari kubu Adit tiga kali lebih banyak dari pada orang di kubu nya. Ternyata di luar rumah masih ada beberapa orang lagi yang berjaga. Setyo dan keempat anak buah Juragan Karto pun diseret keluar. Setyo berteriak histeris sembari memaki tiada habisnya.
" Brengseeek… Sialan… Awas kalian… Akan ku hancurkan… aku tidak akan tinggal diam. Adit… sialan… aku akan membunuhmu."
Widya jatuh terduduk di lantai dan menangis. Ia merasa sangat malu dan menyesal bisa menikahi Setyo dan bertahan begitu lama dengan keburukan.
" Maafkan ibu nak… maafkan ibu. Seharusnya dari dulu ibu berpisah dengan bapak kalian sehingga kalian tidak akan menderita seperti sekarang ini."
Lia dan Ahmad memapah sang ibu untuk duduk di sofa. Adit pun berinisiatif ke dapur untuk mengambil air untuk sang calon ibu mertua. Ia lalu menyerahkan ke ibu Widya.
Widya menerima nya dan langsung meminumnya perlahan. Doto terkejut melihat aksi sang bos.
" Eeeh… itu bener si bos… bisa gitu ya. Selama ini apa apa Dot… eh bisa juga doi simpati ke orang." Gumam Doto pelan.
Ahmad dan Lia yang memahami kesedihan sang ibu berusaha untuk menghiburnya.
" Ibu tidak perlu minta maaf. Semua sudah digariskan oleh Allaah. Dengan adanya orang seperti dia Ahmad jadi belajar bagaimana harus menjadi pria yang bertanggung jawab."
" Apa yang dikatakan abang benar bu. Lia juga jadi belajar dari ibu bagaiman menjadi seorang wanita yang kuat dan mandiri serta sabar."
Adit sungguh haru terhadap keluarga Lia. Mereka menguatkan satu sama lain di saat salah satu dari mereka terpuruk.
" Nak Adit, apakah kamu serius dengan Lia?"
" Ya bu… Saya serius."
" Apa kau bisa memegang janjimu?"
" Bisa bang."
" Baiklah kalau begitu, jika kau memang serius dengan adikku jangan sakiti dia. Jangan pernah gunakan tanganmu untuk menyakitinya. Lia adalah anak gadis yang kami sayangi, dan aku kami berharap kau pun bisa menyayanginya. Jika kausudah tidak lagi menyukainya kembalikanlah kepada kami, kami akan menerima kembali. Jangan pernah kau sakiti dia dengan kata kasar atau perbuatan kasar."
Adit terenyuh dengan ucapan sang kakak. Disini Adit menyadari bahwa Ahmad begitu menyayangi adiknya.
" Iya bang. Saya akan mengingat kata kata abang. Saya akan menikahi Lia malam ini juga. Lalu besok saya akan mengurusnya ke KUA."
__ADS_1
Ahmad mengangguk. Berat sebenarnya melepaskan sang adik untuk menikah saat ini. Namun entah mengapa dalam hati terdalam Ahmad ia merasa Adit adalah orang yang bisa melindungi Lia. Ahmad akan berusaha percaya dengan Adit.
Seorang penghulu yang masih berada di mobil dijemput oleh Doto. Ia lalu duduk di sofa dan siap menikahkan Adit dengan Lia.
" Nak Adit, apakah maharnya sudah siap."
" Sudah pak."
" Yang akan jadi walinya adalah…"
" Saya kakak kandungnya pak."
" Baiklah kalau begitu kita mulai ya. Bismillahhirrohmannirohhim… saya nikahkan dan kawinkan saudara Aditya Putra Bratasena bin Aji Bratasena dengan ananda Amalia Salsabila binti Setyo dengan mas kawin uang sebesar satu Milyar rupiah dibayar tunai.
" Saya terima nikah dan kawinnya Amalia Salsabila binti……"
"Bagaimana saksi, sah?"
" Sah!!"
" Alhamdulillah…."
Lia menjatuhkan air matanya selepas kata akad diucapkan. Kini statusnya sudah berubah menjadi seorang istri. Kini surganya berada di suaminya. Entah apa yang akan terjadi dengan pernikahannya yang tidak dilandasi oleh cinta ini.
Adit menyematkan cincin di jari manis Lia. Lia mencium tangan Adit dengan hormat.
Serrr….
Ada getaran aneh dalam hati Adit saat bibir Lia menyentuh punggung tangannya. Ada rasa sejuk dan tenang yang mengalir di sana.
" Jaga adik ku, jaga baik baik dia untuknya dan untuk kami."
" Iya bang, bantu saya belajar menjadi laki laki yang layak untuk Lia. Saya sadar saya adalah pria dengan banyak sekali kekurangan. Saya merasa beruntung bisa menikahi Lia."
Giliran Lia yang meminta restu dari ibu dan abangnya. Mereka bertiga menangis bersama. Dalam hati Lia sungguh merasa bersedih karena cita citanya untuk mendirikan yayasan sekolah untuk Ahmad belum tercapai, dan entah kapan bisa tercapai.
" Lia sayang, sekarang kamu sudah menikah. Jadi prioritasmu adalah suami mu. Selalu minta izinlah pada suamimu setiap ingin melakukan hal."
" Iya dek, kamu bukan lagi tanggung jawab kami. Kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawab Adit sebagai suamimu. Bangunlah rumah tangga kalian baik baik dengan saling menjaga, saling mengingatkan jika ada yang melakukan khilaf. Dan selalu bersabar dalam setiap terjadi masalah."
Lia mengangguk, ia mengerti dengan semua ucapan ibu dan abangnya.
🍀🍀🍀
Semua kini telah pergi, namun Adit meminta Doto untuk terus membuat penjagaan di rumah Lia. Sehingga Doto meninggalkan beberapa ornag untuk mengamankan rumah sang nyonya bos nya yang baru. Adit tidak ikut pergi, ia tetap tinggal di rumah Lia.
Widya meminta Lia untuk membawa Adit beristirahat. Lia mengangguk patuh.
" Pak Adit, ayo saya antar bapak beristirahat."
Adit mendengar mendengar panggilan pak dari Lia. Namun dia diam saja dan mengangguk lalu mengikuti Lia ke kamar.
Memasuki kamar Lia jantung Adit berdetak semakin kencang. Ia seperti sedang naik histeria di salah satu taman bermain di kota J.
__ADS_1
Huft…. Adit berusaha menormalkan debaran jantungnya. Ia pun juga berusaha mengatur nafasnya dalam dalam.
" Pak…"
" Lia, bisakah kamu mengubah panggilanmu. Dari pak misalnya, atau sayang atau hubby atau apa gitu. Jangan pak… aku ngerasa jadi tua banget."
" Hahaha maaf maaf. Mas aja gimana?"
" It's good. Tadi seperti ada yang ingin kau katakan apa itu?"
" Itu mas… aku…"
Adit tersenyum, ia paham apa yang akan Lia katakan.
" Aku tahu. Aku tidak akan menyentuhmu sebelum kau mengizinkan aku memiliki dirimu sepenuhnya."
Lia tersenyum lega, ternyata Adit mengetahui apa yang ia pikirkan.
" Baiklah mas, mari kita sholat magrib dulu."
Glek… Adit menelan salivanya susah payah. Ia sudah lama tidak menjalankan kewajiban agamanya itu.
" Lia… Sebenarnya aku sudah lama tidak sholat. Apakah kamu mau membantuku belajar lagi."
Lia mengangguk ia pun mengajak Adit ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Lia mengajari langkah demi langkah. Karena Adit memang orang yang cerdas maka tidak sulit bagi Lia mengajari Adit.
" Apakah mas masih ingat bacaan sholat? Tidak mungkin kan mas dulu tidak belajar sama sekali."
" Bantu aku mengingatnya Lia. Aku akan berusaha."
" Baiklah, mari kita belajar sebentar."
Lia mengambil buku tuntunan sholat agar Adit bisa membaca dan mempelajarinya. Ia keluar sebentar untuk meminjam baju koko dan sarung milik Ahmad.
" Kamu dari mana Lia?"
" Ini mas, maaf tidak baru tapi bersih kok. Pakailah."
" Nggak apa apa. Sebentar aku ganti dulu ya."
Adit melenggang ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan koko dna sarung dari Lia.
Ceklek…
Adit keluar dengan tampilan yang menurut lia sungguh berbeda.
" Masyaallah, mas Adit ternyata sungguh tampan. Astagfirullah." Lia langsung menundukkan pandangannya dari Adit.
Adit pun terpesona dengan tampilan Lia yang menggunakan mukena. Tubuh Lia sama sekali tidak terlihat kecuali wajahnya yang terlihat bersinar.
" Ya Allaah… bidadari surga ku"
TBC
__ADS_1
Baru kali ini dengar babang Adit nyebut ya gaes hehehe… yuk dukung terus karya othor dengan selalu meninggalkan jejak sebelum maupun sesudah baca.
Happy reading Readers. Terimakasih. Matursuwun.