
Adit dan Lia sama sama terpesona satu sama lain. Namun keduanya menutupi raut wajah mereka dengan kembali bersikap tenang. Baru kali ini Adit berada di kamar berdua dengan seorang wanita tapi ia tidak memiliki hasrat untuk bercinta. Biasanya nafs*nya akan membara saat berduaan dengan wanita.
" Mungkin memang yang halal itu jauh lebih menenangkan ketimbang yang haram" Gumam Adit dalam hatinya.
Adit pun merasa atmosfer kamar Lia sangat jauh berbeda dengan kamarnya. Rasa tenang dan nyaman begitu terasa.
" Apakah mas sudah siap untuk mengimami sholat."
Adit mengangguk, dia adalah tipe orang yang cepat belajar sehingga ia tidak kesulitan mengingat kembali bacaan bacaan sholat yang dulu pernah ia pelajari. Adit, dulu oleh ayahnya juga diajak untuk menjalankan kewajiban agama. Namun pertikaian kedua orang tuanya malah membuat Adit jauh dari agamanya.
" Lia… biarkan aku sholat taubat dulu. Ada banyak dosa yang ku perbuat. Dan kamu pasti tahu itu."
Lia tersenyum lalu mengangguk ada rasa tidak percaya dalam hati Lia dengan perubahan Adit yang begitu cepat. Tapi Lia menepis semua itu. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa mungkin saja Adit memang sedang berusaha untuk berubah. Dan karenanya Lia sebagai istri harusnya membantu Adit untuk kembali ke jalannya.
Adit menjalankan sholat taubat 2 rakaat. Lalu ia siap menjadi imam Lia.
Suara takbir mengalun indah dari bibir Adit. Lia terpaku sejenak saat mendengarnya. Ia tidak menyangka suara Adit sungguh indah. Mereka pun menyelesaikan 3 rakaat itu tanpa ada cela. Walaupun Adit masih terbata namun itu sudah sangat baik untuk seseorang yang lama meninggalkan kewajiban agamanya.
Kini mereka berdua duduk di atas sajadah masing masing. Lia meraih tangan Adit dan menciumnya. Lagi dan lagi Adit tersentuh dengan perlakuan Lia. Adit pun memberanikan diri mencium kening Lia. Ada getaran luar biasa yang menyentuh hatinya.
" Ya Allaah… Seperti inikah rasanya bersama pasangan yang halal? Ada rasa yang menenangkan di dalam hati" Adit bergumam dalam hati
" Mas… maafkan aku jika…"
Lia menunduk, ia merasa sungguh bingung harus bagaimana saat ini.
" Jangan diteruskan. Kau paham aku kan tadi sudah bilang. Aku akan menunggumu. Kita menikah bukan berdasar cinta tapi aku yakin memilihmu. Kita belajar saling menerima. Dan bantu aku untuk menjadi imam dan suami yang baik untuk mu."
" Terimakasih mas dan maaf memang saat ini kau belum ada rasa apapun terhadapmu. Rasaku masih sekedar aku menghormatimu sebagai atasanku. Dan sekarang bertambah menjadi menghormatimu sebagai suamiku. Iya mas... Mari sama sama belajar untuk saling menerima."
" Tidak masalah. Aku tahu dalam hatimu masih ragu terhadapku. Apalagi label casanova yang melekat padaku."
" Maaf…."
Lia merasa tidak enak. Dia tahu kewajibannya sebagai seorang istri tapi di lubuk hatinya sungguh ia belum siap. Ia masih meragu bahkan takut.
__ADS_1
Sedangkan Adit, ia merasa ini adalah hukuman yang Allaah berikan padanya. Jika kemarin dia bebas menyentuh setiap wanita kini ada wanita yang halal di depannya namun belum bisa ia sentuh dan ia raih. Ia bertekad untuk memenangkan hati Lia terlebih dulu. Ia tahu istrinya itu belum mencintainya. Jangankan cinta, mungkin rasa suka oun belum. Mulai malam ini mungkin Adit akan mulai melaksanakan projek memenangkan hati istri.
Lia masih sangat ragu terhadap Adit. Hal tersebut dapat ia ketahui saat Lia melepas mukenanya dan ternyata di balik mukenanya Lia masih memakai hijabnya.
Adit tersenyum kecut. Jika sebelumnya mata liarnya bisa melihat tubuh wanita tanpa sehelai benang pun kini ia hanya bisa melihat wajah dari bagian tubuh sang istri. Namun Adit tidak protes, ia akan menerima semuanya. Adit sudah berjanji untuk menunggu Lia, hingga istrinya itu siap.
Ia merasa ini adalah awal perjuangannya mendapatkan cinta dari sang istri.
Kini keduanya duduk di ranjang. Namun Adit segera berdiri dan menanyakan dimana letak tikar dan selimut kepada Lia. Lia pun heran dengan pertanyaan Adit.
" Untuk apa mas tanya tikar?"
" Untuk tidur. Aku akan tidur di bawah."
" Astagfirullaah mas… Aku nggak setega itu membiarkanmu tidur di lantai. Tidurlah di tempat tidur."
Adit sedikit terkejut dengan ucapan Lia namun ia senang setidaknya Lia tidak membiarkannya tidur di lantai.
" Tidurlah di sini mas akan ke kamar ibu."
Adit melongo melihat Lia keluar dari kamarnya. Adit merasa diterbangkan ke langit dan dihempaskan ke bumi dengan sangat keras.
"Huft…. Sabar sabar. Emang ujian orang yang mau tobat itu berat. Baiklah… Waktunya tidur. Malam pertama yang apes dan dingin hanya ditemani bantal dan guling."
Adit bermonolog mengusir rasa sepinya. Ia pun segera merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Apa selang lama dia pun tertidur terbuai oleh malam.
***
Tok...tok...tok….
" Bu… Apakah Lia boleh masuk?"
" Masuklah nak."
Widya mengerutkan kedua alisnya melihat anak perempuannya masuk ke kamar miliknya. Di malam pengantinnya Lia memilih pergi ke kamar ibunya.
__ADS_1
"Haish… gadis ini apa yang ada dalam pikirannya." Gumam Widya penuh keheranan.
Lihat duduk di samping ibunya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu dan membuang nafasnya perlahan.
" Ada apa, apa yang kau pikirkan hmmm? Mengapa kamu di sini dan meninggalkan suami mu sendirian di kamar?"
" Bu… Lia masih belum siap menjadi istri mas Adit."
Widya tersenyum, ia sangat tahu Lia begitu awam mengenai hubungan pria dan wanita. Lia sama sekali belum pernah memiliki kekasih. Kekasih pertama Lia ya Adit yang jadi suami nya sekarang.
" Apa yang Lia tahu tentang pernikahan?"
" Maksud ibu?"
" Ya menurut kamu pernikahan itu apa?"
" Menikah adalah bersatunya dua insan dalam sebuah ikatan suci dengan janji di depan Allaah. Melaksanakan ibadah menikah karena Allaah. Bersama sama saling bahu membahu dalam kehidupan berumah tangga. Saling percaya, saling memahami."
" Jadi….??"
Lia pun bangkit dari sisi ibu nya, ia mencium sekilas pipi sang ibu dan meninggalkan kamar. Widya tersenyum melihat tingkah putrinya itu. Lia memang harus banyak belajar mengenai hubungan pria dan wanita. Gadis itu memanglah sangat polos bahkan ia belum mengenal cinta. Selama ini ia selalu fokus belajar dan belajar.
Ceklek
Lia membuka pintu kamarnya perlahan. Ia melihat Adit yang sepertinya sudah tertidur pulas di ranjang miliknya. Ia menutup pintu kamarnya kembali dan berjalan mendekat. Ia memandang lekat wajah Adit yang terlihat lelah.
" Maaf mas, aku sungguh minta maaf kepadamu. Hatiku masih sangat ragu dan takut. Bantu aku mas, bantu aku menjadi istrimu yang baik dan bantu aku untuk bisa mencintaimu."
Lia membenarkan selimut Adit, lalu ia pun naik ke atas ranjang dan tidur di sebelah Adit. Tak berselang lama Lia pun tidur. Nafasnya mulai beraturan. Adit pun gantian membuka matanya. Sebenarnya ia dari tadi tidak tidur. Dia bahkan mendengar Lia membuka pintu kamarnya.
" Aku yang minta maaf Lia, kamu harus mendapatkan pria brengsek sepertiku. Aku yang harus minta bantuan mu untuk menjadi imam yang baik. Lindungilah aku dari nafsu dan hasrat ku, karena aku ingin hanya kau yang memiliki diriku sepenuhnya."
Keduanya kini tidur bersama. Malam pertama pengantin yang tidak seperti orang kebanyakan. Malam pengantin yang menjadi malam introspeksi dan saksi pertobatan Adit. Pernikahan mereka memang tidak dilandasi oleh cinta. Namun di hati terdalam keduanya berharap pernikahan ini akan membawa cinta mereka menuju cinta Tuhan mereka.
TBC
__ADS_1