
Lia yang tidak mengerti apa yang tengah terjadi di belakangnya memasuki rumah dengan tenang bersama Ahmad.
" Assalamualaikum….."
" Waalaikumsalam…"
" Gimana Bu udah beres tadi urusannya?"
" Sudah nak… tinggal menunggu panggilan dari pengadilan untuk sidang."
" Alhamdulillah kalau begitu. Lia masuk ke kamar dulu ya untuk membersihkan badan."
Widya mengangguk, Ahmad pun juga ikut masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.
Selepas anak-anak nya masuk ke dalam kamar masing masing. Pintu rumahnya tiba tiba diketuk dengan sangat keras oleh seseorang dengan.
Duagh…. Duagh…..duagh….
" Widya keluar!!! Cepat sebelum aku dobrak pintu rumahmu."
Duagh...duagh...duagh.....
Suara teriakan dari luar rumah tersebut sangat Widya kenal. Widya pun berjalan menuju pintu depan rumahnya dan membuka pintu dengan perlahan.
Ceklek…
" Mau ap……"
Belum juga Widya menyelesaikan kalimatnya Setyo sudah menerobos masuk bersama para bodyguard nya.
Tak lama ada sekelompok orang juga yang ikut menyusul masuk. Sekelompok orang tersebut adalah orang orang suruhan Doto. Mereka berdiri di depan Widya, untuk melindungi. Tapi Widya yang tidak tau apa apa terkejut. Paslanya ia tidak mengenal orang orang itu sama sekali. Widya oun juga tidak berkesempatan bertanya mengenai siapa mereka.
" Mana Lia…??"
" Tuan… sebaiknya anda berbicara sopan saat bertamu ke rumah orang lain." Ucap orang suruhan Doto.
" Heh… Siapa kamu. Jangan ikut campur urusan keluargaku."
" Nyonya, apakah tuan ini keluarga nyonya?"
" Bu-bukan. Kami sudah tidak ada hubungan."
" Dasar wanita jal*ng."
Setyo hendak memukul Widya namun berhasil dihadang oleh orang suruhan Doto. Mereka akhirnya terlibat adu jotos.
Ahmad dan Lia yang mendengar suara ribut diluar kamar pun keluar.
__ADS_1
" Astagfirullaah…" Ucap Ahmad dan Lia bersamaan. Kedua adik kakak itu sungguh bingung mengapa dalam rumahnya begitu ramai.
Jika Ahmad langsung berjalan ke ruang tengah tempat kubu Setyo dan kubu Doto adu jotos. Maka Lia kembali masuk ke kamarnya untuk memakai hijabnya. Soalnya jika tidak ada tamu dan hanya dirinya beserta ibu dan abang nya Lia tidak memakai hijab nya.
Lia pun berlari menyusul Ahmad. Ia mendekap tubuh sang ibu yang bergetar ketakutan.
Ahmad berkali kali berteriak menyuruh mereka berhenti namun tidak digubris oleh mereka. Ahmad pun mencoba melerai namun ia malah jatuh terpental terkena pukulan Setyo.
" Abang…."
Lia berteriak histeris melihat sang kakak jatuh ke lantai dengan bibir berdarah.
" Berhenti……!!!!"
Sebuah teriakan terdengar begitu menggelegar. Semua orang di dalam rumah berhenti melakukan perkelahian dan mata mereka tertuju pada asal suara.
" Pak Adit…." Lia bergumam pelan, bahkan sangat pelan. Namun gerak bibir Lia bisa dibaca oleh Adit. Adit tersenyum melihat Lia yang menatap ke arahnya. Adit pun memberikan anggukan kecil kepada Lia, seolah olah mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.
Doto memberi isyarat kepada anak buahnya agar kembali mundur dan menempatkan diri di belakangnya dan Adit. Mereka pun mengangguk patuh dan langsung berjalan dan menempatkan diri seperti perintah Doto.
Adit melenggang masuk dan duduk di sofa. Setyo pun ikut duduk namun tidak dengan Ahmad, Lia, dan Widya. Mereka memilih berdiri di tempat mereka yang sedikit agak jauh dari sofa ruang tamu.
" Heh… Siapa kamu. Mau apa kamu kemari."
" Maaf sepertinya saya yang harus bertanya seperti itu kepada anda. Apa yang anda lakukan di rumah saya."
" Ba-bagaimana bisa ini rumahmu."
Setyo tergagap namun sebisa mungkin ia menguasai dirinya agar tidak terlihat gugup di depan Adit.
" Ah sudah… persetan dengan siapa pemilik rumah ini. Yang jelas aku akan membawa Lia pergi dari sini."
" Mau kau bawa kemana anakku hah?"
Kali ini Widya angkat bicara. Jika berhubungan dengan putrinya Widya tidak bisa tinggal diam. Ia memiliki firasat buruk dengan ucapan dengan ucapan Setyo.
" Aku masih memiliki hak akan anak ku. Aku akan membawa Lia ke juragan Karto untuk dinikahkan."
" Apa….????"
Widya dan Ahmad sangat terkejut dengan ucapan Setyo. Namun tidak dengan Lia, karena Lia sudah tahu tadi pagi bahwa ayahnya memintanya untuk pergi bersamanya karena ingin dinikahkan.
Air mata Lia akhirnya luruh juga, Widya memeluk sang putri dengan erat dan mencoba menenangkan. Ahmad yang melihat adiknya di zolimi oleh sang bapak merasa murka.
" Jangan harap bisa membawa adikku selangkahpun dari rumah ini!"
" Heh bocah ingusan mau melawanku apa kau tidak lihat orang orang yang ku bawa."
__ADS_1
Setyo berucap congkak. Ia lupa disana masih ada Adit dan juga orang orangnya.
" Sepertinya anda lupa posisi anda tuan. Saya dengar anda saat ini sedang proses cerai dengan ibu Widya, betul? Berarti anak anak anda bebas memilih akan bersama dengan siapa hidupnya."
" Dasar bocah tengik, aku tidak butuh ceramahmu."
Adit mengangkat kedua tangannya seperti tanda menyerah pada lawan. Tapi sejurus kemudian ia berdiri dan berjalan menghampiri Lia yang masih tersedu. Lia sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran bapak kandungnya itu.
Setelah berada di depan Lia, Adit mengeluarkan sebuah kotak beludru cincin berwarna merah dan mengeluarkan sebuah cincin berlian.
" Lia, apa kamu mau menikah denganku?"
Duar……
Seperti terkena sambaran petir semua orang yang ada di dalam rumah itu kecuali Doto pastinya sangat terkejut atas tindakan spontan Adit. Terlebih Lia, ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh bos nya itu.
" Pak Adit… apa-apa an. Ini bukan waktunya bercanda." Bisik Lia ditengan isakannya.
" Saya tidak bercanda. Saya serius. Tuh saya sudah bawa penghulu sekalian dan saya juga sudah menyiapkan mahar." Ucap Adit serius.
Lia sungguh dibuat bingung, bagaimana sang bos dengan predikat cassanova itu bisa tiba tiba mengajaknya menikah. Jujur Lia takut dengan pria yang berada di depannya itu. Lia takut menjadi salah satu mainan sang Casanova.
" Oh iya bang, saya menganggap Bang Ahmad sebagai wali sah Lia. Karena orang yang di sana sungguh tidaklah pantas menjadi wali Lia. Jadi saya akan meminta Lia kepada abang. Apakah abang dan juga ibu mengizinkan saya untuk meminang Lia."
Ahmad merasa bingung dengan semua kejadian yang ada di depan matanya. Bagaimana bisa semuanya terjadi.
" Heh...sialan.. Apa yang kau lakukan. Juragan karta akan memberiku 500 juta untuk bisa menikahi Lia."
Lia kembali terkejut mendengar penuturan sang ayah. Ternyata ia hanya dijadikan objek untuk dijadikan bahan pertukaran dengan uang. Lia kembali menangis tersedu sedu. Ia merasa seperti makan buah simalakama. Jika menolak Adit maka Setyo akan terus mengejarnya, jika ia menerima Adit maka dia harus siap untuk menjadi salah satu dari banyak wanita mainan Adit. Seperti itulah pikiran Lia saat ini.
Lia merasa ingin menenggelamkan tubuhnya di dasar laut terdalam dan menghilang dari semua orang. Namun kemudian ia sadar, bahwa semua harus dijalani.
Lia menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Ia mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.
" Baiklah pak Adit, apakah saya boleh mengajukan syarat?"
Ahmad dan Widya hanya bisa pasrah. Ahmad merasa jika ia tidak akan bisa melindungi sang adik semakin lama bila Bapaknya terus menerus mengejar dengan para bodyguard yang pasti Ahmad tidak bisa melawannya. Sehingga dalam.hati terdalam Ahmad dia memilih menyetujui Adit menikahi Lia.
Sedangkan Adit yang mendengar Lia berbicara seketika langsung tersenyum dan mengangguk.
" Apapun syaratmu akan ku penuhi."
" Pertama, saya tidak mau dimadu atau diduakan. Kedua saya harap pernikahan yang akan kita jalani nanti adalah pernikahan yang sehat. Jadi saya tidak ingin melihat ada wanita wanita lain di hidup anda lagi."
Kalimat terakhir Lia katakan dengan berbisik di telinga Adit. Adit pun mengangguk setuju.
" Disaksikan oleh abang dan ibumu aku berjanji akan memenuhi syarat yang kau ajukan."
__ADS_1
TBC