
Doto tertawa puas di dalam mobil miliknya, hingga Bagas sedikit heran akan tingkah atasannya tersebut.
" Pak… kenapa gitu ketawa sampai segitunya.'
" Hahahah… aku lagi ngebayangin muka si bos. Pasti terkejut abis. Hahaha."
" Memangnya kenapa pak."
" Udah… Anak dibawah umur nggak perlu tahu."
" Tapi saya udah 23 tahun pak, sudah cukup dengan hal hal yang berbau 21+."
" Haish… umur sih 23 tapi kadang isi pikiranmu masih 17. Sudah jangan banyak tanya ayo cepet pulang."
" Siap.."
Doto masih tertawa membayangkan wajah Adit. Dia benar benar puas kali ini bisa mengerjai bos nya itu.
" Pak... Pak Doto nggak takut gajinya dipotong sama big bos?'
Glek....
Doto baru mengingat hal tersebut.
" Mati aku... Aku melupakan hal yang paling krusial di kehidupanku saat ini."
Seketika tawa Doto sirna. Bukan hanya gaji yang akan melayang namun dirinya juga bisa melayang hingga ke pulau sebrang sana.
Sedangkan di kamarnya Adit benar benar kesal dengan ulah sang aspri. Rasanya ia ingin mengucel ucel wajah Doto saat ini juga. Jika bisa Adit akan langsung melemparkan Doto ke pulau sebrang.
" Doto..!!!! Awas kau ya… benar benar asisten lucknut."
" Mas… sudah… nggak apa apa sini aku simpen aja."
" Maaf ya.. Sungguh aku nggak nyuruhh Doto beli begituan. Demi Allaah. Ini pasti Doto mau ngerjain aku."
" Hehehe nggak apa apa. Sini aku saja yang simpan. Adakah lemari yang kosong."
Adit menunjuk sebuah lemari, di sana memang tidak kosong sepenuhnya. Ada beberapa baju Adit tapi tidak banyak. Lia kemudian membawa lingerie tersebut dan menyimpannya di sana.
" Sudah, masalah baju itu sudah selesai. Nggak usah marah sama mas Doto. Mungkin dia hanya berinisiatif. Apa jangan jangan dulu mas sering nyuruh mas Doto buat beli baju seperti itu ya hahahaha... Sudah sudah ... Aku cuma bercanda. Aku juga minta maaf nggak seharusnya kaget cuma lihat baju itu. Meskipun aku juga baru pertama kali ini lihat sih heheh. Ya sudah mas aku mandi dulu."
Adit bernafas lega, Lia tidak marah dengan lingerie itu. Meskipun begitu Adit merasa tidak enak dengan Lia. Lagi lagi ia merasa sangat bejat. Ia merasa semakin tidak pantas berdampingan dengan Lia. Apa lagi tadi Lia sempat berpikir kalau dirinya sering membeli baju seperti itu.
" argh..... Awas kau Doto. Tidak ada bonus selama setengah tahun ke depan. Biar tahu rasa. Dasar asisten lucknut."
***
Kini bertiga, Adit, Lia, dan Aji sudah berada di meja makan. Aji menyiapkan makan malam yang spesial kali ini karena kedatangan menantunya.
" Ini semua ayah yang masak?"
" Iya, Lia suka?"
" MasyaaAllah, ayah enak banget masakannya. Lia insecure. Lia bisa masak tapi nggak seenak ini."
__ADS_1
" Alhamdulillah kalau Lia suka. Makanlah nak."
Lia dan Adit makan dengan lahap. Aji sungguh bahagia. Baru beberapa saat Lia berada di rumah ini sudah membuat suasana rumah semakin berwarna.
" Dit, kapan kamu mau mendaftarkan pernikahan mu ke KUA."
" Dapat jadwalnya 3 hari lagi Yah, tadi Adit sudah minta Doto buat ngurus surat suratnya."
" Alhamdulillah kalau gitu. Terus Kalian rencana mau tinggal di mana?"
" Adit pengen nyari rumah lagi yah."
" Bagus… ayah senang mendengar itu."
Semuanya kembali makan dengan hikmat. Setelah selesai Lia kemudian membantu Aji untuk membereskan meja makan dna dapur. Adit pun ikut turun membantu. Padahal selama ini mana perna Adit mau menginjakkan kaki ke dapur.
Aji tersenyum senang, memang Adit sedikit berubah dari sebelumnya.
***
Berada di kamar kini keduanya saling diam. Suasana canggung menghinggapi mereka.
" Aduuuh aku harus ngomong apa ya." Batin Adit.
" Ya Allaah, canggung banget. Masa iya mau ngomongin kerjaan." Batin Lia.
Huft… keduanya bersamaan menghembuskan nafas mereka dengan kasar.
" Yaya, aku mau tanya sesuatu tapi kamu jangan marah ya."
Akhirnya Adit memulai percakapan juga. Sungguh ia tidak tahan harus diam diaman saja saat berdua dengan Lia.
" Haish… itu soal ayah kamu. Apa emang dari dulu begitu?"
" Oh… Bapak. Iya emang udah dari dulu. Bahkan dulu kita sering kena pukul. Sekarang juga sih. Bang Ahmad yang kasihan sering jadi tameng aku sama ibu."
Menyebut nama Ahmad membuat Lia tampak sedih.
" Kenapa, kok ngomongin bang Ahmad jadi kusut gitu mukanya."
" Sebenarnya aku masih ada hal yang belum aku wujudkan. Aku masih ingin membuatkan Bang Ahmad sebuah yayasan perguruan Islam untuk anak anak belajar agama. "
" Ohhh masalah itu. Mas bisa bantu."
" Nggak… nggak usah mas. Aku bicara begitu bukannya mau ngrepotin mas. Aku pengen semua atas usahaku sendiri. Aku ingin membalas hal yang dilakukan bang Ahmad."
Adit tersenyum, ia kemudian bangkit dari duduknya dan berjongkok di depan Lia. Lia terkejut dengan tindakan Adit.
" Mas… mau apa?"
" Yaya dengerin mas. Kita ini suami istri. Ayo belajar terbuka satu sama lain. Ayo belajar menerima satu sama lain dan belajar saling tolong menolong. Bukankah pernikahan itu adalah menyatukan yang berbeda namun bukan berarti harus dijadikan sama tapi saling menerima perbedaan agar bisa selaras. Jika Yaya nggak mau terima bantuan dari mas, Yaya kan bisa pakai mahar yang mas berikan kemarin. Itu sudah sepenuhnya milik Yaya juga kan."
Lia seketika tersenyum, mata nya berbinar. Ia baru ingat tentang mahar yang diberikan Adit waktu menikah kemarin malam.
" Tapi mas.. Kesannya aku matre banget."
__ADS_1
" Hahaha wanita matre terkadang harus, apalagi sama suaminya sendiri. Katanya saat suami memberikan nafkah kepada istrinya maka rejeki akan mengalir deras. Dan mahar yang kuberikan itu sudah jadi milikmu, sudah jadi hak mu."
Lia tertegun dengan apa yang diucapkan oleh Adit. Iya tidak menyangka bahwa suaminya itu mengerti banyak hal tentang hubungan suami istri.
" Oh iya aku lupa."
Adit beranjak dari posisi jongkoknya ia kemudian mengambil sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkan kepada Lia.
" Ini, ini adalah nafkah dariku untukmu. Pakailah sesukamu. Tapi ini bukanlah black Card unlimited seperti kisah para CEO dalam novel. Ini hanyalah atm biasa yang setiap bulannya aku isi. Di sana sudah ada saldonya. Pinnya tanggal pernikahan kita."
Lia menerima kartu ATM tersebut, ia terdiam sejenak. Lalu dengan tiba tiba ia memeluk Adit.
" Terimakasih mas… terimakasih telah berbuat banyak untukku."
Adit terkejut mendapat pelukan dadakan dari Lia. Namun ketika ia tersenyum. Ia menepuk bahu Lia pelan.
" Sama sama, kita ini suami istri bukan? Sudah sepatutnya saling membantu."
Lia kemudian mengendurkan pelukannya. Ia lalu duduk tegak, ia merasa sangat canggung setelah memeluk Adit dengan tiba tiba. Wajahnya merona bagai tomat yang telah matang dan siap untuk dipetik.
" Kenapa kok jadi malu gitu?"
" Eh… nggak apa apa mas."
Adit sangat suka melihat wajah merona Lia. Ia pun punya ide untuk mengerjai sang istri. Adit sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
" Kenapa menghindariku, apa wajahku sungguh jelek sampai kau tidak mau melihatku."
" Bu-bukan mas. Mas ganteng kok nggak jelek."
" Woaah ternyata istriku memujiku ganteng. Aku sungguh tersanjung hehehe."
" Mas… kau mengerjaiku."
Adit tertawa terbahak melihat wajah cemberut Lia. Dia sangat suka melihat sisi Lia yang seperti anak kecil tersebut.
" Maaf Yaya, jangan marah. Mas gemes aja lihat kamu malu malu gitu. Apa sebelumnya kamu tidak pernah punya pacar atau teman dekat."
Lia menggeleng, memang selama ini dia tidak pernah berpacaran. Waktunya ia habiskan untuk belajar.
" MasyaaAllaah.. Berarti mas adalah lelaki pertama untukmu?"
Lia mengangguk, Adit memang pertama untuknya. Mengetahui fakta tersebut Adit sedikit merasa minder. Melihat perubahan air muka Adit, Lia sedikit paham pasti suaminya itu insecure lagi.
" Mas… tidur yuk. Sudah malam."
Adit mengangguk ia lalu merebahkan tubuhnya, dan Lia ikut berbaring disebelah Adit.
" Mas… tunggu aku menerimamu. Aku janji akan belajar membuka hatiku."
Adit mengangguk lalu tersenyum.
" Dan tunggu aku menjadi imam yang pantas untukmu, ingatkan aku jika aku berada di jalan yang salah. Yaya... Bolehkah aku memelukmu?"
Lia hanya mengangguk, Adit pun mendekatkan tubuhnya dan mendekap Lia. Ada rasa nyaman yang menjalar di hatinya. Lia yang sudah berjanji akan membuka hatinya pun menerima perlakuan Adit dangan ikhlas.
__ADS_1
Mereka berdua tidur dengan memeluk satu sama lain. Meskipun belum ada cinta dalma pernikahan mereka namun mereka akan belajar mencintai.
TBC