
Di rumah sakit Revina tengah berada di IGD. Ia sedang ditangani oleh dokter. Lia dan Doto masih terlihat khawatir. Lia juga merasa khawatir kepada suaminya yang ia tinggalkan tadi di perusahaan.
" Seharusnya tadi aku membawa mas Adit, huft... Kua sungguh bodoh Lia." Ia merutuki kekeliruannya seharusnya ia membawa Adit ikut serta bersamanya bukan malah meninggalkannya.
" Semoga pak Rama bisa membawa pulang mas Adit dulu."Lia berucap lirih. Berdoa dalma hati agar suaminya tidak apa apa.
" Dokter… dokter… tolong!!!"
Baru saja Lia hendak duduk di kursi, tiba tiba terdengar suara yang amat Lia kenal.
" Bu Sita, mas Doto… bukannya itu bu Sita dan itu…"
" Ya Allaah itu Bos Adit lagi di gendong Bos Rama."
Lia memicingkan matanya, dan seketika Lia pun berlari mendekati Adit. Oleh Rama Adit langsung diletakkan di brankar agar bisa langsung diperiksa.
" Mas…. Mas Adit kenapa. Kenapa basah kuyup begini. Mas…. Mas Adit bangun!"
Lia terus mengusap tangan Adit yang dingin. Gadis itu juga mengusap wajah Adit yang basah.
Melihat perlakuan Lia terhadap Adit. Membuat Sita dan Rama saling pandang. Sepasang suami istri itu merasa aneh dengan perlakuan Lia terhadap Adit. Lia terlihat begitu mengkhawatirkan Adit. Bahkan gadis itu terlihat ingin menangis melihat Adit yang tak sadarkan diri.
Adit dibawa masuk ke ruang IGD untuk mendapat penanganan medis. Lia yang terlihat begitu khawatir mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi seseorang.
" Assalamualaikum ayah, mas Adit di rumah sakit… iya… baik… Lia tunggu ayah di sini."
Lia lalu duduk di kursi tunggu depan ruang IGD dengan raut wajah yang begitu cemas.
Sita ingin menanyai Lia tapi ia sendiri bingung harus bertanya bagaimana. Sedangkan Doto ia tadi dipanggil pihak rumah sakit untuk mengurus administrasi Revina dan juga Adit.
" Mas… kenapa Lia begitu?"
" Lah mana mas tau. Mereka kan satu kantor dengan mu. Seharusnya kamu yang lebih tau, apalagi Lia anggota tim kamu kan?"
" Lia bukan korban Adit yang baru kan. Awas aja Adit kalau itu benar."
" Eh… "
Rama hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal tampaknya Sita bisa ngamuk kalau benar itu terjadi.
Sita akhirnya memutuskan duduk di kursi sebelah Lia. Namun Sita tidak mengatakan apapun. Malah Lia lah yang mulai pembicaraan.
" Terimakasih bu Sita sudah membawa mas Adit ke rumah sakit."
" Iya, bagaimanapun juga di adik iparku."
Lia tersenyum dan mengangguk. Seorang pria paruh baya berjalan pelan mendekat ke arah mereka.
" Nak… bagaimana Adit?"
" Ayah, mas Adit masih di dalam."
" AYAH??!!"
__ADS_1
Rama dan Sita berucap bersamaan. Keduanya terkejut Lia memanggil Aji dengan panggilan ayah.
" Lho.. Rama Sita kalian juga di sini?"
" Itu yah, pak Rama dan Bu Sita yang membawa mas Adit kemari."
" Alhamdulillah… terimakasih ya. Sebenarnya ini ada apa?"
Aji sendiri bingung mengapa bisa Adit dibawa ke rumah sakit oleh Rama dan Sita. Sebaliknya, sebenarnya Rama dan Sita ikutan bingung dan pusing dengan situasi saat ini. Mereka mencoba mencerna setiap perkataan dan sikap dua ornag yang berada di depan mereka.
" Oke… Sebentar, maaf Rama sungguh bingung om. Mengapa Lia bisa kenal Om, dan kenapa Lia memanggil Om Aji dengan sebutan Ayah. Lalu memanggil Adit dengan sebutan mas. Padahal selama ini yang Rama tahu Adit tidak pernah dekat dengan karyawannya. Sehingga sangat tidak mungkin Adit membiarkan karyawannya memanggilnya seperti itu. Ya kali Adit bawa karyawannya ke rumah buat dikenalin ke Om Aji."
Aji menghela nafasnya dalam. Dia lupa Keluarga kakaknya itu memang tidak diberi tahu tentang pernikahan Afit dan Lia. Lia sendiri menundukkan wajahnya, ia bingung bagaimana mengatakannya.
" Huft… begini Rama, Sita. Adit dan Lia sudah menikah kemarin."
" Apa???!!!"
" Om… om nggak lagi bercanda kan.Adit sang casanova menikah?"
Mendengar ucapan frontal sang suami membuat Sita langsung mengeplak lengan Rama dengan kencang.
"Auch… sakit…."
" Maaf om, mas Rama suka gitu. Lia apakah benar kamu dan Adit sudah menikah?"
Lia mengangguk membenarkan pertanyaan ketua tim nya itu.
Rama dan Sita terduduk di kursi untuk meredakan keterkejutannya.
Tak lama kedua pasien yang tidak lain adalah Revina dan Adit keluar dari ruang IGD bersamaan.
" Bagaimana dokter keadaan mereka berdua?"
" Untuk pasien pria dia hanya kedinginan. Dia mengalami syok dan stress. Untuk pasien wanita dalam tubuh pasien terdapat zat adiktif yang lumayan banyak. Juga pasien mengonsumsi obat tidur dalam jumlah yang lumayan banyak untuk beberapa waktu."
"Astagfirullaah."
Semua orang terkejut mendengar penjelasan dari dokter. Kini keduanya telah dibawa ke ruang perawatan masing masing.
Lia bersama Sita dan Rama ikut ke ruang perawatan Adit. Sedangkan Doto dan Aji ikut bersama ke ruang rawat Revina.
🍀🍀🍀
Revina mengerjapkan kedua matanya lalu melihat ke sekeliling.
" Rumah sakit…"
" Ya… kau berada di rumah sakit."
" Aji? Mengapa kamu bisa di sini?"
" Pertanyaan yang sama, mengapa kau bisa menyusup ke ruangan Adit dan apa yang kau lakukan di sana hingga pingsan."
__ADS_1
Revina terdiam, ia mengingat apa yang terjadi tadi malam.
Tadi malam selepas ia pulang dari pemotretan ia menjumpai sang suami tengah bercumbu dengan seorang wanita. Enggan ribut dengan suaminya, Revina memilih menyelinap pergi meninggalkan rumah dan entah mengapa ia memilih perusahaan JD Advertising sebagai tujuannya.
Revina yang masih menyimpan kunci ruangan presdir mencoba peruntungannya, dan siapa sangka ruangan Presdir masih memiliki kunci yang sama dari masa Aji masih menjabat.
Sebenarnya beberapa waktu ini Revina mengalami kesulitan tidur sehingga membuatnya mengonsumsi obat tidur. Permasalahan rumah tangga membuatnya menjadi seperti itu. Suaminya yang ia ketahui, akhir akhir ini sering membawa wanita yang berbeda ke rumah mereka setiap harinya.
" Jangan hanya diam Rev.. Apa yang kau lakukan di ruang kerja putramu?"
" Hhhhhh aku hanya sekedar mampir dan numpang tidur."
" Kau memang sudah gila Rev. Sebaiknya kau merawat kesehatan mental mu."
Aji dan Doto meninggalkan ruang rawat Revina. Aji sudah enggan melihat Revina. Bahkan tak ada lagi rasa iba di hati Aji melihat kondisi mantan istrinya itu.
Di ruang lain Adit masih juga belum sadar. Lia masih menunggui suaminya itu. Melihat perubahan Adit beberapa hari ini membuat Sita sedikit memahami, bahwa Adit memang mulai berubah menjadi lebih baik.
" Baiklah Lia, saya akan kembali ke perusahaan. Takut anak anak lain mencari."
" Baik bu. Bu Sita bisakah ibu merahasiakan ini?"
" Tenang saja. Tanpa persetujuanmu ataupun Adit aku tidak akan mengatakan apapun mengenai pernikahan kalian. Benar kan mas?"
" Iya. Kamu tidak perlu khawatir. Oh iya jagalah Adit, aku harap kamu bisa membantunya mengatasi traumanya. Dan jika ada ulet ulet bulu mendekat ingat untuk selalu percaya pada suamimu."
" Baik pak… terimakasih."
" Panggilah kami seperti Adit memanggil kami jika tidak berada di lingkungan kantor. Baik pak.. Bu.."
Sepasang suami istri itu pun melenggang keluar. Rama merangkul pinggang sang istri dan menantunya berjalan pelan. Lia tersenyum melihat sepasang suami istri itu. Dalam hatinya ia berharap agar pernikahannya seperti Rama dan Sita.
"Ergh….."
Keluar suara erangan dari bibir Adit. Lia langsung berdiri dan mendekat ke arah sang suami.
" Mas… kamu sudah bangun? Ada yang sakit? Aku panggil dokter ya?"
Arit menggeleng, ia lalu menarik tangan Lia hingga ia terjerembab di atas tubuh Adit.
" Mas… "
" Biarkan seperti ini dulu, sebentar saja aku mohon."
Lia diam, ia menuruti kemauan sang suami. Doto dan Aji yang hendak masuk urung saat melihat Adit begitu tampak nyaman di pelukan Lia.
" Alhamdulillaah Adit sudah siuman.Lebih baik kita pulang dulu Dot ambil baju Adit dan Lia."
" Baik tuan."
Keduanya juga meninggalkan ruang rawat Adit. Mereka memberikan waktu kepada Adit untuk menenangkan dirinya bersama sang istri.
TBC
__ADS_1