Casanova Insaf

Casanova Insaf
CI 37- Sedihmu Sedihku, Bahagiamu Bahagiaku


__ADS_3

Dibawah ini mengadung adegan yang sedikit panas, jadi mohon di skiiiiip yang masih belum mencukupi umur.


Happy reading


...****************...


Kedua wanita seksi mantan partner ranjang  Adit itu benar benar terkejut oleh perilaku Lia. Lia mempersilahkan kedua wanita itu masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan duduk dengan sopan. Lia juga mengambilkan minuman untuk semua orang. 


Jika Lia begitu santai lain halnya dengan Adit. Adit nampak begitu tegang, bahkan tangannya berkeringat dingin. Lia yang tahu dengan apa yang terjadi pada suaminya langsung duduk disebelah Adit dan memegang erat tangan sang suami.


" Tenanglah mas. Tidak apa apa."


" Huft… terimakasih sayang."


" Maaf mbak.. Ada apa ya, datang ke rumah kami?"


Mendengar pertanyaan Lia, Jelita langsung menyenggol Selena agar segera bisa memulai akting yang tertunda. Selena mengedipkan matanya lalu memulai dramanya.


" Hisk…. Aku… Aku hamil anak Adit. Jika tidak percaya kamu bisa lihat."


Ucapan frontal Selena yang tanpa pembukaan basi basi itu membuat Lia sedikit terkejut, namun gadis berhijab itu tetap tenang. Ia ingat apa yang dikatakan Rama, apapun yang terjadi dia harus mempercayai suaminya.


Selena mengeluarkan dan menunjukkan alat tes kehamilan yang berjumlah 3 buah itu kepada Adit dan Lia. Adit yang tidak merasa pernah menyemburkan benihnya tentu saja mengelak dengan keras.


" Tidak…. Aku tidak pernah menghamilimu, maksudnya aku selalu memakai pengaman. Ya Allaah,,, astagfirullah .. Lia...bener mas nggak…"


Lia sama sekali tidak panik ataupun marah. Wanita berhijab itu hanya tersenyum kearah sang suami lalu membuat anggukan kecil mengisyaratkan bahwa ia percaya akan ucapan suaminya.


" Oh… mbak nya hamil? Sama mas Adit? Dudsh betapa minggu ya? kalau begitu mari kita bawa mbak ini ke rumah sakit mas. Kita cari tahu sudah berapa umur kehamilannya. Dan kita akan cocokkan kapan terakhir kalian berhubungan."


Lia berkata dengan tenang dan tanpa ada kemarahan sama sekali. Sedangkan Jelita ia mengepalkan tangannya karena saking kesalnya mendengar jawaban cerdas Lia. Rencana yang sudah ia susun menguap begitu saja.


" Oh… itu… itu… Anu." Selena tergagap. Wanita ini tidak bisa menjelaskan apapun.


" Maaf kita permisi dulu. Sepertinya ada yang salah."


Jelita langsung menarik tangan Selena untuk pergi dari rumah Adit. Keduanya tampak marah. Sedangkan Lia hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.


" Hihihi… mengusir ulat bulu berhasil. Mas…"


Adit termangu, kedatangan Jelita dan Selena semakin menjelaskan akan perilaku bejatnya selama ini. Ia menundukkan kepalanya dan terisak.


" Mas… mas kenapa?"


" Maafkan aku Yaya… Sungguh aku minta maaf. Aku semakin merasa tidak pantas bersanding dengan mu."


Adit beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Lia yang tengah terdiam seorang diri. Adit bahkan masuk ke kamar lain. Lia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


" Mas Adit… "

__ADS_1


Lia membiarkan suaminya itu berada di kamar. Sedangkan ia tengah sibuk membuat makan malam.


Tok… tok… tok….


" Mas… makan yuk, Yaya udah masak nih"


Sunyi, tidak ada jawaban dari Adit. Lia mencoba mengetuk sekali lagi.


" Sayang… makan yuk… mas…. Huft…"


Lia kembali ke kamarnya. Tampaknya ia benar benar harus memakai baju kurang bahan yang waktu itu dibelikan Doto untuk mengerjai Adit.


" Baiklaah…."


Lia mengambil lingerie merah tersebut dan memakainya. Ia menganga saat melihat tampilan dirinya di cermin. 


" Ya Allaah, baju macam apa ini. Mana tipis menerawang. Bahannya minim. Itu mengapa jadi terlihat semua. Tapi nggak pa pa… Demi mas suami."


Lia memantapkan hatinya untuk mengenakan baju halal bagi istri itu. Ia bahkan memoles wajahnya dan menata rambutnya. Tak lupa ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


Lia berjalan perlahan menuju kamar yang satunya dimana sang suami berada. Lia sengaja tidak memakai alas kaki agar jalannya tidak terdengar. Lia juga sudah membawa kunci cadangan untuk membuka kamar tersebut. 


Klik… Ceklek…


Lia melihat sang suami tengah duduk di atas sajadahnya. 


" Eh.. Mas Adit udah selesai belum ya. Udah kali." Lia bergumam pelan.


" Mas…. Mas yakin nggak mau makan? Apa mau makan aku aja."


Bulu kuduk Adit meremang mendengar nada sensual yang keluar dari bibir Lia. Ia mencium parfum Lia. Seketika Adit pun membalikkan badan ke arah snag istri.


" Ya-ya, a-apa yang kamu pakai?"


Adit sampai berdiri melihat Lia yang memakai lingerie. Kulit yang putih mulus itu berbalut lingerie merah menyala sungguh sangat kontras. Lia menggerai rambutnya dan sedikit dibuat ikal, ia juga memoles tipis wajahnya membuat tampilannya begitu sempurna.


Glek…


Adit menelan salivanya dengan susah payah. Ia berkali kali mengedipkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Istrinya itu sungguh cantik, bahkan sangat cantik. Paha dan kaki Lia tampak jenjang karena baju halal itu hanya sebatas paha. Bulatan kenyal berjumlah dua milik Lia terlihat menyembul, semakin membuat kesan seksi.


" Mas.. Mau makan aku sekarang?"


Lia terus mendekat ke arah Adit ia meraih leher sang suami dan mulai mencium bibir suaminya. Ia menuntun tangan Adit yang satu ke pinggangnya dan yang satu ke aset kenyal miliknya. Lia meminta Adit meremas benda kenyal itu.


" Mas… Sentuh aku. Aku milikmu seutuhnya. Jangan takut dan ragu. Kita akan sama sama mengarungi bahtera rumah tangga ini. Sedihmu juga sedihku, bahagiamu juga bahagiaku. Mari kita nikmati surga dunia halal yang telah Allaah berikan kepada kita."


Tes… air mata Adit menetes mendengar setiap ucapan Lia. Adit mengangguk dan mengucapkan basmallah untuk memulai kegiatan malam pertamanya.


" Bismillaahirohmanniroohim."

__ADS_1


Adit mulai membelai lembut punggung istrinya dan mencium bibir Lia dengan penuh perasaan. Adit mencurahkan semua rasa sayang dan cintanya kepada sang istri. Ciuman tersebut berpindah ke leher, Adit langsung merobek lingerie merah tersebut.


 Kreek….


" Mas… kenapa di robek?" lia masih sempat protes ditengah tengah kegiatan panas mereka.


" Nanti beli lagi yang banyak. Setoko tokonya juga boleh."


Adit bicara asal, ia kemudian menghisap benda kenyal itu berganti gantian. Akh… suara seksi tersebut lolos dari bibir mungil sang istri. Adit tersenyum puas. Ia lalu menggendong tubuh Lia yang sudah polos itu ke ranjang. Adit pun segera melucuti semua pakaiannya. Ia kembali melihat pedangnya, Adit tersenyum saat pedangnya telah berdiri sempurna.


Adit memejamkan matanya untuk kembali beristighfar atas segala kesalahannya. Lalu ia menatap wajah sang istri. Lia tersenyum dan mengangguk.


" Lakukanlah mas, aku milikmu sepenuhnya dan yang pasti aku halal bagimu."


" Terimakasih sayang, terimakasih sudah mau menerimaku dengan segala keburukanku."


Adit mencium kening Lia dan kembali menciumi setiap inci tubuh wanita halalnya.


Akh… Lia memekik saat lidah Adit bermain di lembah basah miliknya.


" Sayang aku mulai."


Adit membaca doa. Ia mengambil nafas dalam dalam dan membuangnya perlahan.


Adit mulai mengarahkan pedangnya menuju sarung yang sudah sangat basah itu. Lia merasakan benda tumpul itu menyentuh dinding pertahanan gerbang miliknya. Lia memejamkan matanya, kedua tangannya mencengkeram kuat sprei tempat tidur.


Adit merasa sedikit kesulitan, namun dia tidak menyerah. Kali ini Adit menghunuskan pedangnya dengan sedikit lebih keras. Bleb… Akh… Lia sedikit berteriak saat pedang tumpul itu menerobos gerbang miliknya. Dan Adit merasakan ada yang mengalir di pedangnya.


Adit tertegun, dan kembali meneteskan air matanya.


" Terimakasih sayang, aku adalah pria pertama untukmu."


Afit mencium bibir Lia kembali agar Lia lebih santai. Setelah istrinya itu terlihat tenang Adit mulai menggerakkan pinggulnya. Argh… Adit mengerang merasakan sebuah kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


" Panggil namaku sayang."


" M-mas… Adit… maas akuuu."


" Bersama sayang, Arghhh…."


Keduanya mencapai puncak bersama. Adit menyemburkan benihnya di rahim sang istri, ia lalu mencabut pedangnya dan mencium kening sang istri.


" Terimakasih… terimakasih sudah menjaganya untukku. Terimakasih sudah mau menerimaku, pria yang penuh dengan dosa ini."


" Terimakasih juga mas, mas udah mau kembali ke jalan yang benar."


Adit memeluk Lia dengan sayang, ia mengusap lembut perut Lia yang masih rata.


" Semoga disini segera Adit Junior. Aamiin."

__ADS_1


TBC


__ADS_2