
Surti terus mencari ke penjuru ruangan tersebut. Hari ini di harus segera mendapatkan buktinya. Ia tidak bisa mengulur waktu lagi. Nafsu juragan bejat itu tidak mungkin bisa ia tahan.
" Dimana pria brengsek itu menyimpannya. Tidak mungkin tidak ada disini kan. Hari ini aku harus dapat. Mumpung dia masih di rumah sakit."
Surti membuka satu persatu lemari milik Karto. Ia juga tidak melewatkan nakas serta laci laci yang ada di sana.
" Sial… Dimana ia menyembunyikannya. Apa mungkin di…"
Surti langsung bertiarap di lantai dan melihat ke kolong tempat tidur. Namun kosong disana juga tidak ada apa pun. Namun Surti menemukan hal lain. Dia pun menyeringai.
" Dapat. Tak kusangka, barang ini pasti akan langsung memasukkanmu ke jeruji besi."
Tak… tak.. Tak…
Suara langkah kaki mendekat ke kamar Karto. Surti menyadari hal tersebut. Mau tidak mau ia harus kembali melakukan hal yang tak ia sukai.
Surti membuka semua bajunya dan membelit tubuhnya dengan handuk.
Ceklek…
Karto yang terlihat begitu lelah tiba tiba menjadi segar kembali karena melihat tampilan Surti tersebut. Meskipun masih tertutup handuk namun hal tersebut sudah bisa menaikkan hasrat pria itu.
" S-sur… kau…"
" Juragan…."
Surti berucap sensual. Mau tidak mau ia harus melakukan itu. Toh dia juga bukan seorang gadis lagi. Ini akan sepadan dengan penderitaan Karto nantinya, itulah yang ada dipikiran Surti.
Karto menghampiri Surti dan langsung menciumi bahu mulus wanita yang ada di kamarnya itu. Tanpa berlama lama ia langsung menarik handuk Surti. Karto sungguh tercengang dengan tubuh Surti yang mulus tanpa cacat. Bokong sintal dan benda kenyal yang besar dan kencang.
Sebelumnya Karto sudah pernah melihatnya namun tidak sejelas ini. Terlebih Surti sengaja membiarkan korden jendela terbuka. Sinar matahari yang masuk dan mengenai tubuhnya menambah kesan bercahaya pada tubuhnya.
Mata Karto sudah dipenuhi oleh kabut gairah bahkan tombak miliknya sudah terasa sesak ingin segera dikeluarkan dari pembelenggunya. Karto meremas satu squishy milik Surti dan menyesap satu yang lainnya. Karto membuka kaki Surti dan memainkan jarinya di bawah sana.
Surti hanya diam mengikuti permainan Karto. Karto lalu membalikkan tubuh Surti agar membelakanginya lalu mendorong tubuh Surti perlahan hingga tersudut ke dinding. Karto yang juga sudah polos langsung melesatkan tombaknya ke lembah basah Surti dari belakang.
" Argh… " Surti merasakan sakit bukanlah nikmat. Rasanya sudah mati bagi Surti. Selama di rumah bordil Surti tidak pernah merasakan nikmat. Dalam alam bawah sadarnya ia membentuk perasaan kebal dalam dirinya. Sehingga saat bermain ia tidak merasakan apapun. Ia sendiri sudah sangat jijik dengan tubuhnya jadi apa yang para pria lakukan kepadanya sungguh tidak ada artinya.
Karto terus menggerakkan pinggulnya maju mundur dan Surti pura pura mendes*h. Karto melepas tombaknya lalu menggendong Surti dan melemparkan ke ranjang. Ia mengulangi lagi apa yang sudah ia lakukan tadi hingga Karto ambruk ke kasur.
Setelah karto tertidur Surti beranjak ke kamar mandi. Ia menggosok badannya sangat kuat hingga tertinggal bekas merah dan lecet di sana. Namun Surti tidak merasakan sakit sedikitpun.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengambil foto barang bukti yang ia temukan.
__ADS_1
Surti pun melenggang keluar rumah dan langsung menuju ke kantor polisi untuk membuat laporan.
" Baiklah saudari kami ucapkan terima kasih. Kami akan segera melakukan penyergapan. Sungguh ini temuan besar. Saya merasa dia adalah bandar besar."
Surti mengangguk dan tersenyum. Setelah membuat laporan itu Surti keluar lalu menghirup udara dalam dalam.
" Hah .. Waktunya pergi. Silahkan menikmati kesengsaraan Karto. Aku yakin bukan hanya hal tersebut saja yang akan jadi bukti."
Surti melenggang pergi. Ia akan pergi menjauh dari kota ini. Meninggalkan semua kenangan buruk dan kenangan pahit, lalu ia akan memulai sebuah kehidupan yang baru tentunya. Kehidupan yang lebih baik dari yang telah dia alami.
Sepeninggalnya Surti dari kantor polisi tak lama Doto pun memasuki kantor polisi. Ia juga akan membuat laporan untuk kejahatan yang Karto perbuat.
Pihak kepolisian tersenyum menerima beberapa bukti yang diberikan oleh Doto.
" Ini sungguh menarik. Dua orang melaporkan orang yang sama dalam waktu satu jam."
" Maksud bapak bagaimana ya pak?"
" Iya tadi ada seorang wanita yang membuat laporan mengenai orang yang anda laporkan juga. Saat ini kami sedang membuat surat penangkapan dan penggeledahan terhadap orang tersebut."
" Woaah… Bisa pas gitu. Baguslah kalau begitu pak. Saya harap kasus ini bisa segera diungkapkan dan tersangka bisa dihukum dengan berat. Tapi siapa wanita itu pak."
" Dia hanya mengatakan bahwa dia adalah pelayan di rumah tersangka."
Doto mengangguk mengerti. Ia pun pamit undur diri.
Tok...tok….tok….
" Selamat siang kami dari pihak kepolisian ingin melakukan penggeledahan dan penangkapan kepada saudara Karto. Mohon kerjasamanya."
Art yang berada di rumah sungguh terkejut melihat beberapa polisi masuk menerobos ke dalam rumah. Mereka hanya berdiri mematung.
" Tck… ada apa sih ribut ribut begini."
Karto yang baru saja bangun dari tidurnya dibuat terkejut saat melihat banyak polisi. Ia pun tidak bisa menyembunyikan barang barang haram miliknya.
" Sial…"
Karto yang hendak berlari segera disergap oleh polisi.
" Anda ditangkap karena kasus kepemilikan narkoba, human trafficking, dan kepemilikan senjata api. Silahkan ikut kami di kantor dan jelaskan di sana."
Juragan Karto berteriak. Ia tidak terima digelandang ke kantor polisi.
__ADS_1
" Lepaskan… aku akan membawa pengacaraku!!!"
" Silahkan, tapi anda harus tetap ikut kami untuk melakukan pemeriksaan."
Karto tak lagi bisa melakukan apapun. Ingin lari juga percuma. Kali ini dia benar benar tamat.
" Brengsek, siapa yang telah melaporkan. Jelita… lalu bagaimana dengan Jelita."
Karto terus bergumam sepanjang perjalanan. Ia mengkhawatirkan putrinya yang ditinggal seorang diri di rumah sakit. Karto lupa, Jelita sudah dewasa yang bisa mengurus dirinya sendiri.
Berita temuan ganja seberat 1 kg langsung menggegerkan dunia maya. Hal tersebut merupakan temuan dan tangkapan besar bagi pihak kepolisian. Rumah Karto pun diberi garis polisi.
Jelita yang tengah duduk santai di ranjang rumah sakit seketika berdiri melihat sang ayah ditangkap polisi.
" Tidak… ini tidak mungkin. Aku harus segera pergi sebelum terseret oleh kasus papa."
Bukannya mengkhawatirkan orang tuanya Jelita lebih memilih mencari aman untuk dirinya sendiri. Ia bahkan melupakan obsesinya terhadap Adit.
Jelita langsung membereskan barang barangnya ke dalam tas. Ia pun segera pergi meninggalkan rumah sakit tanpa memberitahu perawat ataupun dokter yang menanganinya. Beruntung mobilnya masih ada di Thirsty bar, jadi dia pun langsung menuju Thirsty bar untuk mengambil mobilnya.
" Sekarang aku harus kemana?"
Jelita merasa kebingungan, dia kemudian teringat akan Nico.
" Oh iya Nico. Aku harus menghubungi dia. Waktu itu dia meninggalkan nomor ponselnya untukku."
Jelita merogoh tas nya untuk mengambil ponsel dan menekan nomor milik pria yang ia temui di bar waktu itu.
" Hallo… Apakah ini benar nomor Nico."
" Ya… Siapa ya."
" Aku Jelita yang pernah ketemu di Thristy bar."
" Ooh kau. Ada apa sayang."
" Aku sekarang sudah tidak punya tempat tinggal, bisakah kau memberikan tumpangan."
Di seberang sana Nico menyeringai mendengar penuturan Jelita.
" Tentu saja sayang. Datanglah ke alamat ini."
" Baik. Terimakasih."
__ADS_1
Jelita tersenyum puas karena apa yang dia inginkan tercapai. Dia tidak tahu saja ada hal lain yang sudah menunggunya.
TBC