
"Pemikiran kamu cukup jauh ya, aku bahkan ga kepikiran sampai kesitu loh. Hehe" Sahut Sarah tersipu malu mendengar perkataan Khofid.
Sebelum baca jangan lupa klik vote dan like yaa, Jika perlu tambahkan ke favorit jadi bisa liat kapan UP nya hehe. Dukungan pembaca sangat berarti buat author😢. Terimakasih. Selamat membaca😊
****
Akhirnya tiba dimana masa mereka (Sarah,Khofid dan Dhimaz) memasuki Kuliah. Khofid, Sarah dan Dhimaz serta beberapa teman seangkatan mereka memasuki Kuliah yang sama. Dimana Kuliah yang bisa dibilang hanya orang tertentu yang bisa masuk.
Hari demi hari Khofid dan Sarah lewati bersama selama dalam masa pengenalan kuliah (OSPEK). Karena Khofid tidak ingin berpisah dengan Sarah, Khofid pun memilih jurusan yang sama dengan Sarah, yang mana jurusan tersebut juga diminati oleh Khofid.
Tak mau kalah dengan Khofid, Dhimaz pun akhirnya mengikuti langkah Khofid dan Sarah, yang justru Jurusan yang sangat bertolak belakang dengan keinginan Dhimaz.
Setelah selama 1 Minggu menjalani Masa pengenalan diri di kampus, Akhirnya mulailah pembelajaran seperti biasa seperti yang sedang dilakukan kakak senior mereka.
"Emhh, Khofid? Kenapa kamu memilih jurusan yang sama dengan aku?" Kata Sarah
"Tentu saja aku harus melakukan itu! Aku juga sudah memikirkan nya kok, jadi tenang saja, aku akan menerima konsekuensinya jika kelak aku tidak bisa bertahan dengan Jurusan yang kupilih. Tapi aku merasa ini adalah Jurusan yang sangat tepat untuk ku." Sahut Khofid
"Emhh begitu ya? Jadi ceritanya kamu mau deket deket dengan aku terus nihh?" Ucap Sarah yang menggoda Khofid.
"Ya iya lah sayangg, Aku ga mau sampai kamu jatuh hati sama orang lain" Sahut Khofid seraya memegang lembut dagu Sarah.
Dari sisi sudut kelas terlihat Dhimaz yang sedang memperhatikan Sarah dan Khofid.
"Kalian bisa bersenang senang untuk beberapa saat semasa kuliah. Tapi sebentar lagi lihat saja! Akan kupisahkan kalian! sekalipun harus dengan maut! Ha ha ha ha" Ucap Dhimaz dengan suara pelan dan tertawa kejam.
****
Semenjak kuliah Khofid membawa mobil untuk menuju kampus bersama Sarah. Karena semasa SMA khofid tidak pernah diizinkan oleh kedua orang tuanya untuk ke sekolah menggunakan mobil kecuali dengan supir pribadi keluarganya. Karena tidak ingin malu dihadapan teman temannya Khofid lebih memilih menggunakan Motor kesayangan nya ketimbang harus diantar sekolah menggunakan mobil tapi bersama supir seperti anak mami saja. Fikir Khofid.
Tak terasa sudah dua minggu Khofid dan Sarah memulai pembelajaran yang baru dikampus hingga tiba saat tragis yang sangat mengenaskan bagi hidup Sarah dan Kekasihnya yaitu Khofid.
Setelah pulang dari kampus Sarah dan Khofid berniat untuk mengunjungi salah satu restoran mewah yang ada di kota tempat tinggal Sarah dan Khofid. Akan tetapi saat perjalan menuju restoran, Hal buruk terjadi pada mereka, mereka kecelakaan dengan tragis karena mobil yang Khofid bawa mengalami rem blong sehingga mereka menabrak sebuah mobil truk yang melaju dengan kencang dari arah kiri mereka.
BRAKKK
Terdengar keras suara hantaman mobil Khofid menabrak mobil truk yang melintas dihadapan mereka.
"Aa Ara Sayang..." Samar samar suara Khofid memanggil nama Sarah.
"Khofidd kepala kamu berdarah sangat banyak" Ucap Sarah dengan suara lirih.
"Sayang kamu bertahan ya, kamu pasti selamat" Sahut Khofid yang menahan sakit kepalanya yang terus mengeluarkan darah segar dari kepalanya.
Sarah tidak menjawab sepatah katapun dari Khofid. Karena ia menahan sakit diperut akibat tancapan kaca dari kaca mobil Khofid yang pecah.
__ADS_1
Dengan menyeret tubuhnya yang lemas dan kesakitan Sarah menggengggam tangan Khofid yang sudah tidak sadarkan diri.
"Too tolong kaa mii" Ucap Sarah lirih.
Tak perlu menunggu waktu lama, melihat kejadian yang menimpa Sarah dan Khofid, warga setempat langsung menelpon Rumah Sakit terdekat beserta Polisi untuk segera datang Ke TKP untuk melakukan penyelidikan sebab terjadinya kecelakaan.
(Dirumah Sakit)
"Sarahh sadarlah nak. Mami mohon kamu bangun nak, kamu sudah sangat lama tertidur sayang, Mami mohon jangan tinggalkan Mami dan Papi nak" Tangis Mami Sarah yang terus menerus memeluk tubuh putrinya yang masih lemas tidak berdaya.
Semenjak kejadian kecelakaan Sarah mengalami Koma selama 2 minggu. Tetes demi tetes air mata Mami Sarah berjatuhan dan mengenai tangan Sarah.
Sarah perlahan menggerakkan jari jarinya dengan pelan. Perlahan Sarah mulai membuka matanya untuk melihat sekelilingnya.
"Maa Mamii, Paa Pii" Ucap Sarah lirih.
"Papi Ara sadar Pi!" Teriak Mami Sarah memanggil Papi yang sedang berbincang dengan dokter yang menangani Sarah.
Mendengar Teriakan Mami Sarah, Dengan secepatnya ia masuk kedalam ruang ICU untuk melihat keadaan apa yang terjadi dengan putri semata wayangnya.
"Ada apa Mi?"Ucap Papi Sarah yang panik.
"Pii Ara bangun Pii, cepat panggil dokter Pi Cepat!!" Teriak Mami Sarah yang sedih sekaligus terharu akhirnya putri satu satunya sadar dari Koma selama 2 minggu.
5 menit menunggu, akhirnya Papi Sarah memasuki ruangan ICU bersama seorang dokter muda yang tampan dan bernametack "IQBAL LUTHFI HARDIAN"
"Alhamdullilah Sarah sudah melewati masa komanya pak, dan sekarang dia sudah lebih baik. Tapi mohon maaf untuk beberapa hari kedepan Sarah masih perlu rawat inap untuk pemulihan dan melihat apakah ada luka serius di dalam tubuhnya" Ucap Dokter Iqbal menjelaskan.
"Baik Dok. Saya mengerti, lakukan yang terbaik untuk putri saya Sarah" Sahut Papi.
"Baiklah pak, nanti jam 3 sore Sarah sudah bisa dipindahkan ke ruangan perawatan. Saya permisi dulu" Kata Dokter Iqbal.
"Baik dok terimakasih banyak" Sahut Papi Sarah dengan bahagia.
"Mami, maaf kan Ara. Lagi lagi Ara membuat Mami dan Papi Cemas" Ucap Sarah meneteskan airmatanya.
"Tidak apa apa nak, yang penting sekarang kamu sudah sadar"
"Iya sayang, Papi harap semoga tidak terjadi apa apa lagi dengan mu ya nak"
"Aamiin Pi, Ara janji akan lebih berhati hati lagi, dan tidak membuat Papi dan Mami cemas lagi"
Lalu Papi dan Mami Sarah memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang, dan berharap semoga Sarah cepat diberi kesehatan.
"Mami? Papi? Bagaimana keadaan Khofid? Apakah dia baik baik saja?"
__ADS_1
"Kenapa Mami dan Papi diam? Tolong jawab Ara. Dimana Khofid? Dia sudah sehatkan?"
Mendengar pertanyaan Sarah, Mami dan Papi Sarah masih tetap terdiam.
"Mi Ara mohon tolong jawab Ara! Dimana Khofid?" Ucap Sarah lirih yang terus menerus meneteskan air matanya karena ia sama sekali tidak tahu dimana keberadaan kekasihnya Khofid.
"Ara sayang, Maafkan Mami nak, Khofid sekarang berada di kamar sebelah kamu"
"Dia sudah sadarkan Mi? Iyakan? Mi Papi, tolong antarkan Ara kekamar tempat Khofid dirawat, Ara mohon"
"Baiklah sayang, kami akan mengantarkan kamu, tapi kamu harus naik ini dulu ya nak" Ucap Papi seraya mengambilkan kursi roda untuk Sarah.
"Iya Pi iya, yang penting Ara bisa menemui Khofid"
Dengan sekuat tenaga yang Sarah miliki ia berusa untuk tampak baik baik saja di depan Mami dan Papinya agar ia diperbolehkan melihat keadaan Khofid. Saat keluar dari ruang ICU. Sarah terkejut melihat sosok seorang lelaki yang tengah tertunduk, dengan wajah yang pucat pasi terus meneteskan air matanya didepan kamar tempat Khofid dirawat.
"Mami? Kenapa ada laki laki disana?" Ucap Sarah seraya menunjuk sosok tersebut.
"Dimana sayang? tidak ada apa apa disana. Kamu jangan mengada ngada deh. Kayanya kamu hanya halusinasi karena sudah 2 minggu koma" Sahut Mami tidak percaya.
"Ohh iya Mi mungkin Ara salah liat"
saat melintas didepan sosok laki laki tersebut, Sarah merasakan ada hawa dingin saat berpapasan dengan sosok itu.
Sarah terus menatap sosok laki laki itu seolah ia kenal dengan nya.
Sampailah Sarah didalam ruangan tempat Khofid dirawat, Khofid masih terbaring lemah dengan infus di tangan kanannya dan selang pernafasan yang digunakannya. Sarah yang melihat keadaan Khofid menangis sejadi jadinya.
"Huaaaaa...Khofid bangun sayangg, kamu kenapa belum bangun!" Tangis Sarah memecah keheningan.
"Khofid kamu berjanji bukan, akan menikah dengan aku kalau kita udah lulus kuliah dan mendapakatkan pekerjaan yang mapan"
"Ayolah Khofidd bangunn! Huaaaaa...." Tangis Sarah sejadi jadinya sambil terus memeluk dan sesekali mengguncang pelan tubuh Khofid.
"Kamu udah janji bakal jaga aku sekalipun itu bertukar dengan nyawa kamu! Tapi bukan ini yang aku mau Sayangg, Aku mohon bangunlahh"
"Sudah lah nakk, kamu juga harus istirahat, kamu yang sabar ya sayang, bentar lagi pasti Gibran bangun" Ucap Tante Citra menenangkan Sarah agar ia tetap bersabar walapun Tante Citra begitu perih menerima kenyataan anak semata wayangnya masih terbujur lemah tidak berdaya.
"Tantee maafin Araa, ini semua salah Ara, andai saja Ara tidak mengajak Khofid pergi waktu itu, pasti ga bakalan kaya gini jadinya" Ucap Sarah memeluk Tante Citra.
"Sayang(mengelus rambut Sarah)Ini sudah takdir nak. Kita ga bisa mutar waktu kembali" Ucap Tante Citra membalas pelukan Sarah"
****
HAPPY READING GUYS😊 JANGAN LUPA KLIK❤ DAN VOTE SERTA TINGGALKAN KOMENTAR YAA, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DEMI KEMAJUAN NOVEL INI. HUHU...KEEP ENJOY YA GUYSS, SEMOGA BETAH MEMBACA NOVEL INI SAMPAI SELESAI.
__ADS_1