Cerita Cinta Sahabat

Cerita Cinta Sahabat
Episode 15 - Ruang Baru


__ADS_3

Angga berusaha membuka wajah Sarah yang tertutup dengan kedua tangannya. "Kamu nih ya, mana mungkin aku bohong, coba deh kamu lihat dulu"


Perlahan Sarah membuka matanya, Ia masih terbayang wajah seram dan mengerikan mbak sisil.


Sebelum baca jangan lupa klik vote dan like yaa, Jika perlu tambahkan ke favorit jadi bisa liat kapan UP nya hehe. Dukungan pembaca sangat berarti buat author😢. Terimakasih. Selamat membaca😊


****


Dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit keberaniannya, akhirnya Sarah mulai memberanikan diri untuk membuka matanya dan melihat wajah mbak sisil.


Dan ternyata benar kata Angga, bahwa mbak sisil sudah merubah dirinya menjadi versi yang lebih cantik. Akan tetapi tetap saja, ia memiliki wajah yang pucat pasi dan bagi Sarah itu masih menyeramkan.


"Hayy cantikk, gimana aku? udah cantik kaya kamu belom?" Ucap mbak sisil dengan senyum khas miliknya.


"Maaf ya tadi aku menakutimu. Aku hanya bercanda doang kok, ga maksud lain. Ha ha ha" Ucap mbak sisil lagi.


"Bercanda palelu, dah jelas wajah menyeramkan begitu dibilang bercanda. Gila kali ya ni mbak kunti" Batin Sarah.


"Ehh iya gapapa kok mbak, lain kali jangan pasang wajah kaya gitu lagi ya! serem tau" Kata Sarah


"Iya deh iya aku janji depan kamu aku bakal cantik biar kamu ga takut sama aku" Balas mbak sisil


"Oh iya kenalin nama aku SISILIA JELITA" Ucap mbak sisil seraya menyodorkan tangan kanannya ke arah Sarah.


"Ehh iya mbak, kenalin aku Sarah. Tangan mbak sisil dingin ya kaya batu es, sama noh kaya si Angga"


"Etdahh ni anak, ya iyalah dingin kan kami udah mati. Hahaha" Tawa mbak sisil


"Tauni si Sarah" Balas Angga.


"Yaudah ah, aku mau cabut dulu"


"Ehh kemana mbak?"


"Angga jelasin deh aku mau kemana. Ha ha ha. Daa cantikk" Ucap mbak sisil dan melambaikan tangannya ke arah Sarah.


"Angga mbak sisil mau kemana tuh?"

__ADS_1


"Biasa cari mangsa"


"Hahh?! Mangsa?" Seketika tubuh Sarah bergetar mendengar ucapan Angga.


"Sarah kok kamu kaya menggigil gitu sih? Ohh pasti karena ucapan aku tadi ya? Hahaha"


"Maksud aku tuh bukan mangsa kaya begituan. Biasa mbak sisil mau ke Bar tempat dimana dia mati, mau goda om om disana. Katanya sebelum dia mati belum sempat nikmat. Hahaha." Ucap Angga kembali


"Nikmat apaan?"


"Udah ga usah difikirkan. Oh iya kamu mau beres bereskan? mau pindah jam 3 sore nanti? Aku bantu ya?"


"Emang kamu bisa bantu aku? kamu kan hantu"


"Dihhh sepele amat sih kamu, ya bisalah, tapi kalau orang ga bisa ngeliat aku dia bakal ngelihat benda benda seperti terbang atau bergerak sendiri. Hahahaha"


"Ohhh jadi begitu ya, tapi seumur umur aku belum pernah tuh liat hantu, ini pertama kalinya aku kaya gini, dan aku sangat menyesal" Ucap Sarah dengan raut wajah sedih.


"Jadi maksud kamu, kamu menyesal ya bertemu aku?"


"Ehh bukan begitu kok maksud aku. Aku tidak menyesal jika harus bertemu kamu. Hanya sajaa..."


"Iya aku mengerti kok. Tapiii...."


"Tapi? Tapi apa Sarah?


"Maukah kamu berjanji menjaga aku sebelum Kekasih aku tersadar dari komanya. Karena selama ini dia yang selalu menyemangati aku dan menjaga aku. Bahkan dia rela jika harus bertukar nyawa demi keselamatan aku. Aku sayang sekali dengan dia. Tapi kenapa dia belum juga tersadar. Apa yang harus aku lakukan?"


Air mata Sarah kembali memenuhi pelupuk matanya. Tak tahan pelupuk mata Sarah menampung air mata. Akhirnya air mata Sarah kembali menetes dengan deras. Membuat Angga tak tega melihatnya.


"Sarah. Kamu cukup berdoa saja, pasti kekasih kamu akan sadar secepatnya. Kamu harus yakin Sarah, bahwa rencana yang maha kuasa diluar dugaan dan pasti akan membuat kita bahagia suatu saat" Ucap Angga yang menyemangati Sarah dan menyerka air mata Sarah.


"Terimakasih ya, kamu bersedia menjaga aku. Aa...aku sungguh tidak menyangka bakal dapet berteman dengan hantu sebaik kamu"


"Aku lebih tidak menyangka dapat kembali berteman dengan manusia"


"Sarah andai kamu tau, kamu mirip sekali dengan mantan kekasih yang sudah meninggal. Hanya saja dia ada ta* lalat di dagunya" Batin Angga.

__ADS_1


"Yaudah yuk bantuin aku beres beres"


"Okaayyy"


****


Sebelum jam 3 sore Papi dan Mami Sarah telah kembali dan akan menemani Sarah pindah keruang barunya.


Setelah jam 3 sore seperti yang dikatakan oleh salah satu perawat Sarah dipindahkan ke ruang perawatan, kini Sarah tidak lagi harus berada diruang ICU yang tentunya membuat Sarah tidak nyaman"


Diruang baru Sarah terdapat 1 ranjang tidur pasien, 1 ranjang tidur tamu, 1 lemari berukuran sedang, 1 buah tv LED yang berukuran 24 inc, 1 kulkas berukuran sedang, Despenser, Ac yang cukup untuk menyejukkan ruangan, Dan sebuah kamar mandi yang cukup besar yang didalamnya sudah tersedia alat alat untuk mandi.


"Wahhh Mami Papi Ini Hotel atau rumah sakit sih?"


"Kenapa sayang? Apakah ini terlalu kecil? atau kamu mau mami pindahin ke ruang perawatan lainnya yang lebih besar? tapi itu dilantai atas. dan itu terlalu jauh untuk kamu jika ingin keruang Gibran" Ucap Mami


"Tidak Mi, bukan begitu maksud Ara,ini sudah terlalu mewah, dan ini juga lumayan jauh dari ruang Khofid"


"Ini tidak terlalu jauh kok sayang, hanya beberapa blok saja menuju ruangan Gibran"


"Tapi Mii, apakah tidak ada ruangan yang lebih dekat dengan Khofid?


"Ara Sayang, dengar Papi dulu deh, ada ruang disebelah Gibran, dan disana sudah ada 3 pasien dan tersisa 1 ranjang yang kosong, dan menurut Papi itu tidak bagus untuk kesehatan kamu nak, karena disana ribut sekali seperti pasar. Hahahaha" Ucap Papi Sarah yang menambah ucapan Mami.


"Betul kata Papi kamu nak, kami ingin kamu tenang menjalani proses pemulihan. Tanpa ada suara atau pun kericuhan dari tamu pasien seperti yang ada disana tadi" Sahut Mami


"Tapi mii..."


"Ara sayang, kamu kebanyakan tapi mulu sih, udah nurut ya sama Mami dan Papi, ini demi kebaikan dan kesehatan kamu nak. Apa kamu tidak rindu dengan rumah? Dengan kuliahmu? Kamu sudah bolos kuliah 2 minggu lebih karena sakit sayang, jadi Mami mohon, segeralah Ara sembuh nak, Mami hanya ingin lihat Ara tumbuh dewasa dan melihat Ara menikah dan memiliki cucu untuk Mami dan Papi" Ucap Mami Sarah yang menangis sambil tersenyum menutupi luka hatinya yang teriris melihat kondisi Sarah.


"Baik Mi Papi, Ara nurut kok sama Mami dan Papi"


Lalu keluarga kecil Sarah berpelukan dengan hangat dengan penuh kasih sayang dan cinta.


Angga hanya menangis haru melihat kejadian itu.


****

__ADS_1


HAPPY READING GUYS😊 JANGAN LUPA KLIK❤ DAN VOTE SERTA TINGGALKAN KOMENTAR YAA, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DEMI KEMAJUAN NOVEL INI. HUHU...KEEP ENJOY YA GUYSS, SEMOGA BETAH MEMBACA NOVEL INI SAMPAI SELESAI.


__ADS_2