
Sebelum Baca Jangan lupa Like dan Vote ya guys... karena dukungan kalian sangat berarti demi kemajuan novel ini. Hehe😊
HAPPY READING GUYSSS😊
****
(Dibelakang Sekolah)
"Aku tidak menyangka bahwa Dhimaz sekasar itu sama aku. Dia seperti bukan lagi Dhimaz yang kukenal" Ucap Sarah yang menangis tersedu sedu.
"Bawell, maafkan aku, aku tidak bermaksud membentak kamu tadi" Ucap Dhimaz yang penuh penyesalan.
"Ara? Are you okay beib?" Ucap Khofid terengah engah karena berlari mengejar Sarah dan Dhimaz.
"Pergi kamu, aku ga mau melihat kamu, kamu jahat!"
"Bawel maaf aku ga bermaksud..." Ucap Dhimaz terputus karena Dipotong langsung oleh Sarah.
"Kamu sampai marah marah kaya gini ke aku dan Khofid hanya karena tahu kami berpacaran?! Aku tahu kamu suka sama aku, Kamu sayang sama aku. Aku juga sayang sama kamu tapi sebatas sahabat ga lebih."
"Kamu tahu kalau aku suka sama kamu?"
"Iya aku tahu. Kamu seharusnya bahagia melihat sahabat sahabat mu bahagia!"
"Kalian yang tega! kalian berdua bahagia diatas penderitaan sahabat kalian sendiri!" Pekik Dhimaz kembali Emosi.
"Dhimaz Stop!!!" Pekik Khofid dan menghamtam Dhimaz dengan tinjunya.
"Sayang jangan dia sahabat kita. Huhuhu" Tangis Sarah, yang membuat Khofid berhenti meninju Dhimaz.
"Aduhhh kepala aku sakit banget" Ucap Sarah yang memegang kepalanya karena sakit.
Brakkk
Tiba tiba Sarah pingsan dan tidak sadarkan diri. Setelah di bawa ke UKS ia tetap tidak bangun meskipun telah diberi banyak minyak kayu putih di hidungnya. Karena pihak sekolah takut terjadi apa apa dengan muridnya, pihak sekolah pun langsung membawa Sarah kerumah sakit terdekat diikuti oleh Khofid dan Dhimaz.
Sesampainya di rumah sakit Sarah langsung dibawa keruang IGD untuk diperiksa tindak lebih lanjut untuk mengetahui keadaan Sarah yang pingsan dan penyebabnya apa.
Melihat kejadian tersebut Khofid langsung menelpon Mami dan Papi nya Sarah untuk memberi tahu keadaan Sarah.
Sekitar 15 menit Mami dan Papinya Sarah pun tiba di Rumah Sakit XX
__ADS_1
"Gibran gibran? Gimana keadaan Ara nak?
apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Tante takut penyakit Sarah kambuh nak." Ucap Mami Sarah dengan mata berkaca kaca dan mengeluarkan setetes demi setetes air matanya.
"Tante Gibran tidak tahu kenapa Ara bisa jadi sperti ini, dia tiba tiba saja pingsan"
"Pi gimana ini pi? Mami takut Ara kenapa kenapa. Mami takut Penyakit Sarah Kambuh"
" Mami yang tenang ya Mi, Ara pasti akan baik baik saja" Ucap Papi Sarah dengan tenang namun wajahnya memperlihatkan bahwa iya juga sangat khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya.
"Maaf Tante, Gibran boleh nanya ngga?"
"Iya nak tanya saja"
"Ara sakit apa Tante sampai sampai ia pingsan seperti ini? Apakah penyakitnya parah?
"Iya nak penyakitnya cukup parah. Ara menderita penyakit LEUKIMIA, sekarang ia sedang menjalani masa pengobatan dengan kemoterapi agar bisa sembuh, dan kembali hidup normal"
"Gibran tidak pernah tahu Tante dengan penyakit yang Ara derita. Dia tidak pernah cerita, dan Gibran pun tidak memperhatikan sepenuhnya bahwa ia sakit, karena Ara selalu tersenyum di manapun ia berada"
Kemudian Dhimaz yang tadinya duduk di kursi IGD menghampiri Maminya Sarah seraya bertanya.
"Sejak kelas 3 SMP nak Dhimaz. Semenjak Kami mengetahui tentang penyakit Ara, kami langsung membawa dia berobat agar dia sembuh, dia tidak boleh kecapean, Emosi atau mendengar bentakan sedikitpun. Jika itu terjadi itu akan membuat ia menjadi sakit kepala dan membuatnya tidak sadarkan diri(Pingsan). Maka dari itu kami benar benar menjaganya, kami ga mau terjadi apa apa dengan putri kami"
"Maaf Tante ini semua salah Saya. Tadi saya tidak bermaksud membentak Sarah" Ucap Dhimaz dengan lirih.
"Sudahlah nak tidak apa apa, ini semua sudah terjadi, doakan saja yang terbaik ya nak"
Setelah menunggu sekitar 30 menit akhirnya seorang dokter keluar dari ruang IGD. Melihat dokter yang keluar dari ruang IGD Khofid langsung menghampirinya dan bertannya. Disusul dengan Dhimaz, Mami dan Papinya Sarah.
"Gimana keadaan Ara dok? Apakah ia baik baik saja?"Tanya Khofid dengan khawatir.
"Sarah tidak apa apa dek, hanya saja penyakit yang ia derita kambuh, tolong jangan sampai membuat ia banyak fikiran" Ucap Dokter paruh baya yang menjelaskan.
"Baik dok, terimakasih banyak" Sahut Khofid.
"Yasudah saya pamit dulu ya. Permisi semuanya" Ucap Dokter paruh baya yang berlalu pergi meninggalkan ruang IGD.
Setelah bepergian dokter yang tadi memeriksa Sarah, Khofid Dhimaz dan Orang tua Sarah langsung memasuki ruang IGD untuk memastikan keadaan Sarah.
"Ara Sayang, Bangun nak, jangan buat Mami dan Papi cemas" Ucap Mami Sarah yang memeluk Sarah.
__ADS_1
"Nak Bangun sayang, Papi mohon"
"Permisi Om, Tante? Bolehkah Khofid...?
"Oh iya silahkan nak..." Sahut Mami Sarah seraya melepas pelukannya dari Sarah seolah olah mengerti maksud dari perkataan Khofid.
"Sayang bangun, aku mohon ini hari pertama kita jadian, jangan buat aku khawatir, kamu harus kuat, aku akan temani kamu sampai kamu sembuh total dari penyakitmu" Ucap Khofid yang menciumi tangan kanan Sarah.
Tak sadar karena terlalu khawatir dengan Sarah, Khofidpun meneteskan airmatanya. Ini pertama kalinya Khofid menangis karena wanita yang dicintainya.
Akhirnya setelah beberapa waktu, jari tangan Sarah bergerak pelan, Menyadari hal itu Khofid langsung menatap wajah Sarah seraya menciumi kembali tangan kanan Sarah.
"Khofid, ka...kamu kenapa nangis? Jangan sedih ya sayang, Mami? Papi? kok disini? Aku dimana? dan Dhimaz kamu kenapa termenung seperti itu?"
"Ara? Akhirnya kamu sadar juga nak" Ucap Mami.
"Sadar kenapa Mi? Emang Ara dimana?"
"Kamu di Rumah Sakit nak"
"Maaf Mi lagi lagi Ara membuat Papi dan Mami khawatir dengan Ara."
"Sudahlah nak, Yang penting sekarang kamu sudah sadar" Sahut Papi Sarah sambil mengelus lembut rambut Sarah.
"Bawel, aku minta maaf ya, ini semua karena perbuatan aku kamu jadi kaya gini, andai saja aku tidak membentakmu tadi"
"Sudahlah Dhimaz, aku sudah memaafkan kamu, kan kamu sahabat akuu." Ucap Sarah sambil tersenyum manis.
"Makasih banyak ya Bawel, kamu sungguh baik! Bro gue minta maaf juga ya sama lu"
"Santai aja Bro ga apa apa kok, gue juga minta maaf ya tadi gue udah ninju lu, gue ngerti kok perasaan lu" Sahut Khofid sambil menepuk pelan bahu Dhimaz.
"Iya Bro it's okay. Im Fine. Ini semua kan salah gue. Btw Makasih ya bro udah maafin gue"
"Iya sama sama, Makasih kembali"
Akhirnya Dhimaz dan Khofid berpelukan layaknya Abang dan Adik.
HAPPY READING GUYS😊 JANGAN LUPA KLIK❤ DAN VOTE SERTA TINGGALKAN KOMENTAR YAA, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DEMI KEMAJUAN NOVEL INI. HUHU...KEEP ENJOY YA GUYSS, SEMOGA BETAH MEMBACA NOVEL INI SAMPAI TAMAT.
****
__ADS_1