
"Tantee maafin Araa, ini semua salah Ara, andai saja Ara tidak mengajak Khofid pergi waktu itu, pasti ga bakalan kaya gini jadinya" Ucap Sarah yang menangis sesegukan dan memeluk Tante Citra.
"Sayang(mengelus rambut Sarah)Ini sudah takdir nak. Kita ga bisa mutar waktu kembali" Ucap Tante Citra membalas pelukan Sarah"
Sebelum baca jangan lupa klik vote dan like yaa, Jika perlu tambahkan ke favorit jadi bisa liat kapan UP nya hehe. Dukungan pembaca sangat berarti buat author😢. Terimakasih. Selamat membaca😊
****
Setelah sekitar dua jam didalam ruangan Khofid, Sarah memutuskan untuk keluar dari ruangan itu untuk menenangkan hati dan fikirannya.
"Ara saat sampai diruangmu nanti, Papi dan Mami harap kamu bisa langsung beristirahat ya nak" Ucap Papi yang menjelaskan sembari mendorong kursi roda Sarah keluar dari ruangan Khofid.
"Baik Pi" Sahut Sarah
Saat keluar dari ruangan Khofid, Sarah melihat sosok tadi yang ia lihat sebelum menuju keruangan Khofid.
"Papi? Mami? Bisakah tinggalkan Ara sebentar untuk berdiam diri disini?" Ucap Sarah memohon.
"Baiklah nak, Setelah itu kamu harus segera bersiap siap ya. Karena kamu harus pindah keruang perawatan jam 3 sore nanti" Ucap Mami.
"Iya Mi, Ara mengerti"
Lalu Papi dan Mami Sarah meninggalkan Sarah dengan sosok yang tentu tidak bisa dilihat oleh Mami dan Papinya.
Hening sejenak, Sarah terus memperhatikan sosok misterius yang terus tertunduk dan meneteskan air matanya.
Setelah 10 menit memperhatikan sosok tersebut, Akhirnya Sarah memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Maaf mas? kenapa mas nangis terus ya dari tadi?"
Sosok yang melihat Sarah berbicara kepadanya sontak terkejut dan mengusap kedua air mata di pipinya.
"Kaa kamu bisa lihat aku?" Ucap sosok dengan penasaran.
"Ya bisalah mas. Kan masnya manusia? Bukan Hantu kan?" Ucap Sarah tersenyum bingung.
"Serius kamu bisa lihat akuu!!! Akhirnya ada yang bisa melihat aku Tuhann" Ucap sosok itu kegirangan.
"Kok masnya ngomong gitu mulu sih? Emangnya selama ini ga ada yang bisa lihat mas gitu?" Sahut Sarah penasaran.
"Ga pernah ada yang menyadari aku selalu tertunduk dan menangis disini. Aku bahkan tidak pernah beranjak dari tempat duduk ini"
"Kenapa bisa begitu mas?"
"Karena aku sudah meninggal dunia"
__ADS_1
"Apaa!!!" Ucap Sarah terkejut
"Maaf aku ga bermaksud membuat mu takut. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku disini, aku tidak punya teman disini" Ucap sosok itu memohon kepada Sarah sembari melipatkan kedua tangannya di dada.
"Sa saya benar benar tidak tau bahwa masnya udah engga hidup lagi. Yang saya lihat mas berparas seperti manusia pada umumnya dan tidak ada bekas darah atau apapun ditubuh mas"
"Ya begitulah aku juga tidak tau kenapa aku bisa begini. Yang aku ingat terakhir kali aku berada diruangan ini" Ucap sosok itu seraya menunjuk ruangan tempat Khofid dirawat.
"Ruu ruangan Ini? Ini kan ruangan pacar saya mas"
"Pacar? apakah yang terbaring dikamar itu pacar kamu?" Tanya sosok itu dengan penasaran.
"Iya mas, dia pacar saya. 2 minggu lalu saya dan pacar saya mengalami kecelakaan, dan kata mama saya koma selama 2 minggu. Tapi kenapa di saat saya sudah terbangun dari koma pacar saya tetap belum sadarkan diri. Dan kenapa sekarang saya bisa melihat yang sebelumnya tidak pernah saya lihat?" Ucap Sarah yang kembali meneteskan air matanya.
"Maaf aku tidak bermaksud mengingatkan mu pada kejadian yang kamu alami"
"Iya mas tidak apa apa kok. Saya harus yakin sebentar lagi pasti pacar saya sadar mas"
"Aamiin, maaf aku hanya bisa bantu berdoa saja"
" Iya mas tidak apa apa. Itu saja sudah cukup kok" Ucap Sarah sembari mengusap kedua pipinya.
"Oh iya kenalin. Nama aku ANGGARA DINATA. Panggil saja aku Angga" Ucap Angga sembari menyodorkan tangan kanannya.
"Nama yang indah, tapi namamu panjang sekali" Ucap Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Haha aku juga tidak tau, Mami dan Papi yang memberikannya" Sahut Sarah
"Mami dan Papimu sangat pintar memilih nama untuk anak secantikmu" Ucap Angga memuji.
"Jangan begitu namamu juga bagus kok!" Balas Sarah.
"Oh iya aku mau balik ke ruang ku dulu ya, aku mau beres beres karena jam 3 sore nanti aku akan segera dipindahkan keruang perawatan"
"Benarkah? bolehkah aku menemanimu?"
"Emhhh boleh kok"
"Beneran boleh? Wahhh asyikkk akhirnya aku punya teman" Ucap Angga tersenyum manis menunjukkan ketampanannya.
"Yaudah yuk" Sahut Sarah menuju ruangnya dengan kursi roda yang ia gerakkan sendiri. Diikuti oleh Angga dibelakangnya.
Saat sampai diruangan, Sarah terkejut dengan penampakan seseorang yang tengah duduk diatas ranjang milik Sarah.
__ADS_1
"Siapa dia? Mengapa dia ada diranjangku?" Batin Sarah.
"Ehh Angga? Itu siapa ya? Kok dia duduk diranjang aku sih! inikan ruanganku! Kok dia seenaknya aja sih duduk diatas ranjang ku" Tanya Sarah kesal.
"Hohhh itu namanya mbak Sisil" Sahut Angga tenang.
"Siapa lagi mbak Sisil? Ga kenal aku. Ini Mami ama Papi kemana lagi? Kok ga ada disini? Kan orang lain jadi masuk deh kesini. Ahggg"
"Ehmmm, Sarah? Mbak Sisil itu bukan orang tapi sama kaya aku"
"Apa? Udah ah mau orang apa engga aku mau nyamperin dia dulu"
Lalu Sarah mendorong kursi rodanya kearah ranjang tempat dimana mbak Sisil duduk menyilangkan kakinya sembari terus memainkan kedua jari telunjuknya.
"Heh mbak, kok seenaknya aja sih duduk di ranjang orang? Gasopan tau"Ucap Sarah kesal.
Namun mbak sisil hanya tertawa.
"Hi hi hi hi hi"
"Orang lagi nanya juga! malah ketawa kaya kunti! Huftt"
"Sarah. Mbak Sisil itu memang kunti" Balas Angga.
"Haa? Kunti?" Dengan penuh ketakutam Sarah menatap wajah mbak sisil yang masih tertutup dengan rambut panjangnya yang berbau tanah.
Seketika ruangan hening, hanya terdengar suara tetesan air jatuh dari kamar mandi tempat Sarah dirawat.
Sarah yang ketakutan mencoba mengumpulkan sedikit demi sedikit tenaganya untuk melihat wajah mbak sisil.
Terlihat wajah mbak sisil yang menyeramkan, mata penuh dengan darah, pipi kanan bolong yang bisa dilihat belatung sedang menggeliat indah diwajah mbak sisil dan nanah yang bercucuran dari hidung mbak sisil, ditambah dengan senyum menyeringai seolah ingin menerkam Sarah. Sontak membuat Sarah berteriak ketakutan.
"Aaaaaaa Kuntiiiii. Mami. Papiiiii. Ara takuttt. Huaaaaaa" Ucap Sarah sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.
Angga yang melihat Sarah teriak ketakutan tanpa ia sadari memeluk tubuh Sarah dari belakang. "Kamu tenang ya. Kan ada aku, jadi jangan takut. Coba kamu liat lagi deh,itu mbak sisilnya udah versi cantik tauu"
"Mana ada hantu versi cantik!" Sahut Sarah yang masih menutup wajah dengan kedua tangannya.
Angga berusaha membuka wajah Sarah yang tertutup dengan kedua tangannya. "Kamu nih ya, mana mungkin aku bohong, coba deh kamu lihat dulu"
Perlahan Sarah membuka matanya, Ia masih terbayang wajah seram dan mengerikan mbak sisil.
****
HAPPY READING GUYS😊 JANGAN LUPA KLIK❤ DAN VOTE SERTA TINGGALKAN KOMENTAR YAA, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DEMI KEMAJUAN NOVEL INI. HUHU...KEEP ENJOY YA GUYSS, SEMOGA BETAH MEMBACA NOVEL INI SAMPAI SELESAI.
__ADS_1