Cerita Kanya

Cerita Kanya
Aku gak pernah sengakak ini.


__ADS_3

Setelah membicarakan itu, suasana hening pun tercipta. Keduanya bergelut dalam pikiran masing-masing, ingin keduanya mendahului pembicaraan, "tapi apa?".


Keduanya menatap lurus. Tiba-tiba pandangan mereka terarahkan pada anak kecil yang sedang memegang balon dimarahi ibunya.


Mereka mulai tersenyum-senyum melihat anak kecil itu, tiba-tiba balon yang dipegang oleh anak itu meletus yang menyebabkan si anak kecil memperkencang tangisannya karna kaget.


Tak tahan lagi, mereka berdua langsung tertawa ngakak hingga orang-orang, bahkan anak kecil yang menjadi penyebab mereka tertawa menoleh ke arahnya.


Anak kecil itu terdiam saat melihat Zaen dan Kanya sedang menertawainya.


"Tuh, liat, diketawain orang. Makanya jangan nangis!", tutur sang ibu.


"Aku kaget!", seru anaknya.


Mendengar ucapan tersebut Zaen dan Kanya tertawa semakin menjadi-jadi, lebih parah dari sebelumnya.


"Udah, ah. Cape, Hahaha", ucap Zaen masih tertawa.


"Kalo cape jangan ketawa lagi, lah", tutur Kanya masih dengan tawaannya juga.


"Liat, kamu sampe keluar air mata", kata Zaen sambil menunjukkan jari telunjuknya ke mata Kanya. "*Selama sama Dewi, ak*u gak pernah sengakak ini".


"Iya, abis ngakak banget. Kasian anak kecilnya, bukannya di kasih permen malah diketawain", kata Kanya sambil mengusap matanya yang keluar air mata. "Rasanya udah lama gak ketawa gini. Terakhir sama Bapak, sebelum Bapak meninggal", sambungnya dengan tidak sadar.

__ADS_1


"Eh?". Zaen mendengar ucapan Kanya langsung menghentikan tawanya. Raut wajah keduanya langsung berubah, setelah Kanya mengatakan hal tersebut. Zaen hanya diam sambil menoleh ke arah Kanya.


Kanya yang baru tersadar dengan apa yang ia katakan langsung menghentikan aktivitasnya yang sedang sibuk mengusap air matanya. Ia menoleh ke arah Zaen yang juga sedang melihatnya.


"Eh, maaf-maaf. Keceplosan, hehe", ucap Kanya sambil tersenyum kaku.


"Iya, gapapa. Aku usahain, aku bakal bikin kamu ketawa kaya gini terus sama cara aku", kata Zaen sambil tersenyum.


"Iya", jawabnya.


"Zaen, bawa-bawa-bawa", Mama Zahra timbul entah dari mana dengan membawa tiga kantong plastik besar.


"Mama? Katanya cuma beli minum doang?", tanya Zaen sambil melirik ke arah belanjaan Mamanya.


"Pantes, lama", ucap Zaen lagi sambil membawa belajaan Mamanya dan pergi ke lobi mall tersebut.


Saat sudah menaiki mobil, "Kanya, kamu tinggal di rumah Mama aja, ya", pinta Mama Zahra.


"Makasih, Ma. Tapi sebaiknya Kanya tinggal di rumah Mamanya seudah Kanya nikah aja", ucap Kanya sambil tersenyum.


"Yaudah, tapi kalo kamu mau ke rumah, ke rumah aja, ya",


"Iya".

__ADS_1


Setelah obrolan tersebut, mobil yang ditumpangi mereka berdua berjalan ke rumah Kanya yang alamatnya sudah Kanya beritahu.


Dan sampailah di rumah yang sederhana, tidak begitu besar namun sangat rapih, yaitu rumah Kanya.


"Zaen, Ma, ayo, masuk dulu", tawar Kanya.


"Iya, ayo masuk" ucap Mama Zahra sambil menggandeng lengan Zaen.


Lalu mereka mendudukan bokongnya di kursi bambu yang ada di rumah Kanya.


"Bentar, ya, Kanya ambilin minum dulu", ucap Kanya.


"Iya", jawab Zaen dan Mama Zahra sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, Kanya datang dengan membawa nampan yang diatasnya ada dua gelas cangkir putih berisikan air teh.


Kanya menaruh dua cangkit itu di meja yang ada di depan Mama Zahra dan Zaen.


"Di minum, Ma, Zaen", ucap Kanya sambil menyunggingkan senyuman. "Maaf, rumah Kanya kecil. Kalo kalian gak nyaman di rumah ini, Kanya minta maaf", sambungnya.


"Ah, ngga, kok. Rumahnya bersih, rapih juga. Kami nyaman disini", tutur Mama Zahra sambil tersenyum.


Kanya pun tersenyum mendengar jawaban Mama Zahra.

__ADS_1


Mereka berbincang cukup lama perihal pernikahan mereka, dan tertawa kesana-kemari. Tak terasa, mereka berbincang hingga matahari tenggelam. Lalu Mama zahra dan Zaen memutuskan untuk pulang dan berterima kasih atas jamuan yang Kanya berikan.


__ADS_2