Cerita Kanya

Cerita Kanya
Kanya


__ADS_3

Matahari pun kembali muncul ke peredarannya. Membuat makhluk yang melihatnya di buat silau karna cahayanya. Jendela yang di tutupi gorden pun dapat di tembus oleh cahayanya. Begitu pun ruangan Kanya.


Namun, silaunya matahari tak membuat dua insan itu bangun. Melainkan semakin mempererat pelukannya.


"Haisss, si curut ini, lah, ah. Bukannya bangun sekarang udah jam delapan juga". Diki datang ke ruang Kanya untuk memeriksanya bersama dua perawat. Namun, Diki melihat pemandangan yang membuat matanya sakit. Karna si Diki ini masih jomblooo~~


Perawat yang Diki bawa mengganti kantung infus Kanya yang sudah habis. Kanya yang mendengar ada suara, mengerjapkan matanya. Dan melihat sudah ada Diki dan dua perawat di ruangannya.


Kanya melihat jam yang ada di ruangan itu sudah menunjukkan pukul 08.05. Kanya melirik Zaen yang masih terlelap. "Kayanya dia kecapean", batin Kanya.


"Bu, infusannya di ganti dulu, ya", ucap salah satu perawat dengan ramah.


"Iya", jawab Kanya.


Lalu Diki memeriksa kondisi Kanya, dan juga jahitan di pelipis Kanya. "Bagus, baru satu hari, jahitannya udah kering. Tapi jangan di apa-apain dulu, ya", ucap Diki sambil mengganti perban yang melindungi jahitan Kanya.


Setelah memeriksa Kanya, dua perawat dan Diki pun keluar meninggalkan ruangan Kanya. Kanya pun kembali memeluk Zaen yang masih tidur.


Tak lama kemudian, perut Kanya berbunyi. Kanya sudah lapar karna sekarang sudah jam sembilan lebih. Biasanya Kanya sudah makan satu atau dua jam yang lalu.


Zaen mendengar suara keroncongan perut langsung membuka matanya. "Kamu lapar?", tanya Zaen dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.


"Eh, kamu udah bangun", ucap Kanya tersenyum.


"Iya", jawab Zaen sambil mencium kening Kanya. "Morning kiss", kata Zaen sesudah mencium kening Kanya. Kanya tersenyum sekaligus malu di perlakukan itu oleh Zaen.


"Aku mandi dulu, ya", ucap Zaen.


"Iya".


***


"Lo cari tau asal-usul cewek kampung itu", titah seseorang.


"Haha, oke, bos. Asal duitnya..",


"Gampang itu. Yang penting, lo udah ngelakuin tugas lo",


"Siaaap".


"Lo akan mati di tangan gue".


***


"Beliin gue bubur, di depan rumah sakit lagi", ucap Zaen di telfon.


"Meluncur". Siapa lagi kalau bukan … Leo.

__ADS_1


Zaen sepuluh menit yang lalu sudah selesai mandi. Dan ia menyuruh Leo untuk membelikan Kanya bubur.


Entah ada angin apa, Zaen rasanya gemas pada Kanya. Sampai ia memeluk Kanya terus-menerus.


"Awas, iiih. Aku bau", ucap Kanya sambil mengedikan bahunya agar Zaen menjauh.


"Gak", jawab Zaen sambil memeluknya lagi.


"Aku pengen mandi", ucap Kanya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jangan, nanti aja kalo udah sembuh", jawab Zaen.


"Aku udah sembuh", jawab Kanya mengeyel.


"Ga boleh pokoknya",


"Yaudah", jawab Kanya pasrah.


"Hallo, sayang", Mama Zahra datang dari balik pintu ruangan Kanya.


"Mama", sapa Kanya sambil memeluk Mama Zahra.


"Gimana keadaan kamu?", tanya Mama Zahra.


"Kanya udah baikan, kok, Ma", jawab Kanya tersenyum.


"Bohong!", Zaen tiba-tiba menjawab. "Tadi dia ngeluh sakit ini sakit itu", lanjutnya dengan muka jahil.


"Ga, kamu yang bohong. Tadi bilang ke aku sakit ini sakit ini", ucap Zaen sambil menunjuk perut dan kaki Kanya.


"Sakit aku, tuh, disini!", jawab Kanya sambil menunjuk pelipisnya.


"Tuh, kan, beneran sakit", ucap Zaen mengulum bibirnya karna ingin tertawa melihat tingkah istrinya.


"Tau, ah. Ngomong aja sama tembok", kata Kanya sambil memalingkan mukanya ke lain arah.


"Udah-udah, kalian ini", lerai Mama Zahra. "Mama bawa makan buat kalian, nih", sambungnya sambil menyerahkan rantang makanan yang cukup besar.


"Ohiya, kamu, kan, dari semalem belum makan", ucap Kanya pada Zaen.


"Iya, ini aku mau makan", jawab Zaen sambil tersenyum.


"Bos, eh, tante", Leo sudah datang dan ia melihat ada Mama Zahra langsung menyalaminya.


"Kamu dari mana?", tanya Mama Zahra.


"Udah beli bubur buat istrinya Zaen, tante",

__ADS_1


"Ohh, sini buburnya". Lalu Leo memberikan kantong plastik yang berisikan bubur itu.


"Kalo gitu, Leo permisi lagi, ya. Masih banyak kerjaan di kantor, hehe", ucap Leo sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kanya.


Zaen yang sedang makan dengan lahap tiba-tiba mendengar 'kantor' langsung menghentikan aktivitasnya. Ia lupa dengan perusahaannya karna sibuk dengan Kanya.


Zaen buru-buru mengecek handphonenya dan ia langsung melihat rentetan email dari perusahaan. Zaen mengeceknya dan ternyata sudah beres. Siapa lagi kalau bukan oleh Leo.


"Untung anak ini cerdas", gumam Zaen sambil menghela napas lega.


"Kenapa, En?", tanya Mama Zahra saat melihat anaknya gubras-gabris.


"Ngga, Zaen lupa sama urusan kantor", jawab Zaen dengan santai sambil melanjutkan makannya.


"Ohh, gapapa, lah. Urusan kantor biar di handle sama Leo", jawab Mama Zahra. Zaen menganggukan kepalanya.


Lalu mereka pun melanjutkan aktivitasnya dengan candaan dan obrolan hangat.


***


Tiga hari berlalu, sekarang Kanya sudah tinggal di rumah Mama Zahra. Seatap, seranjang, dengan Zaen. Barang-barang Kanya sudah Leo pindahkan ke rumah Mama Zahra.


Zaen masih belum menyentuh Kanya selain mencium dan memeluknya. Karna ia tahu, Kanya masih belum sepenuhnya pulih.


"Aku berangkat dulu, ya, sayang", ucap Zaen saat sudah di depan pintu. Dan mencium kening Kanya.


"Iya, hati-hati", jawab Kanya.


"Iya".


Zaen pun menjalankan mobilnya menjauh dari pekarangan rumahnya itu. Kanya melambaikan tangannya saat Zaen sudah menyalakan mobilnya.


Kanya di rumah itu hanya dengan para pelayan yang jumlahnya lima orang. Semua pelayan disana sangat akrab dengan Kanya karna menurut mereka, Kanya sangat ramah. Tidak seperti Dewi yang saat itu sering menyelinap ke rumah Zaen tanpa sepengetahuan Mama Zahra, karna Dewi datang saat Mama Zahra tidak ada di rumah.


Dewi selalu memperlakukan pelayan-pelayang di rumah Mama Zahra seenaknya. Kadang, Dewi selalu meminta hal yang tidak masuk akal pada para pelayan itu.


***


"Bos, gue udah dapet informasi tentang cewek yang bos cari", ucap seseorang lewat telfon.


"Apa?",


"Cewek itu namanya Kanya, dia tinggal di jalan xxxxx. Dia punya ibu tiri, dan ibu tirinya itu punya anak, tapi anaknya di luar negri. Terus bapaknya Kanya meninggal, karna apa coba bos?",


"Karna apa?",


"Karna di tabrak sama Nyonya Zahra", ucap seseorang itu sambil tertawa puas. "Gue ada buktinya", sambungnya. Lalu seseorang itu mengirimkan foto saat dimana Mama Zahra sedang berusaha membangunkan Bapak Kanya. Foto itu di ambil dari cctv jalan dimana Mama Zahra menabrak Bapak Kanya.

__ADS_1


"Hahaha akhirnya, gue ada cara untuk ngehancurin keluarga itu. Oke, uangnya gue transfer sekarang juga, dan kalo lo nemuin informasi yang lain, segera hubungi gue". Lalu telfon itu di matikan.


Siapa lagi kalau bukan … Dewi.


__ADS_2