Cerita Kanya

Cerita Kanya
Belati berkarat


__ADS_3

Dua hari yang lalu, Zaen sudah membobol gawang perawan Kanya. Keduanya sudah mengetahui lekuk tubuh masing-masing. Dan kini tubuh Kanya selalu menjadi candu bagi Zaen.


Zaen memerawaninya dengan penuh perjuangan, bahunya yang menjadi sasaran gigitan Kanya, dan punggungnya pun begitu penuh cakaran. Tapi keduanya saling menikmati dan tentu … saling mencintai.


Hari ini, Kanya sedang bergelut di dapur untuk memasak sarapan. Setelah selesai, Kanya membangunkan suaminya yang masih tertidur.


"Banguuun, udah jam sembilan kamu, tuh. Belum bangun juga, ih!", cebik Kanya pura-pura sambil menggoyang-goyangkan tubuh Zaen.


"Apaaaa?", ucap Zaen panjang dengan suara serak.


"Udah jam sembilan",


Zaen langsung membuka matanya lebar-lebar dan langsung mendudukkan badannya. Zaen langsung melihat handphonenya dan melihat baru pukul 06.00. Ia langsung menidurkan kembali tubuhnya yang sempat duduk.


"Bangun, ih", seru Kanya.


"Morning kiss dulu", ucap Zaen sambil memonyongkan bibirnya dengan mata terpejam.


Kanya langsung menyalakan alarm di handphonenya, dan ia menempelkan handphonenya yang langsung berdering ke bibir Zaen.


Zaen langsung terperangah dan mematikan alarm itu. Sementara Kanya hanya mengulum bibirnya karna menahan tawa. Zaen pun tanpa aba-aba langsung menghujani Kanya dengan ciuman dan menggelitikinya. Keduanya tertawa lepas di pagi hari itu.


"Udah-udah", ucap Kanya menyerah.


Saat Zaen membuka mulutnya untuk berbicara, Kanya yang tidak ingin melihat suaminya berbicara aneh-aneh lagi langsung memberikan morning kiss.


Seketika itu senyuman Zaen mengembang sampai membuat matanya menjadi sipit. "Lagi", pinta Zaen.


"Ga ada ga ada, makan dulu, mandi dulu, baru morning kiss lagi", tutur Kanya.


"Siap, bos", ucap Zaen sambil beranjak dari tempat tidurnya dan mengecup Kanya sekilas, setelah itu ia langsung ke kamar mandi.


Kanya menggelengkan kepala melihat tingkah asli suaminya yang sebelumnya tidak pernah terbesit di pikirannya. Lalu Kanya menyiapkan pakaian kerja Zaen dan menyimpannya di kasur.


***


"Kamu nanti anter makan siang aku, ya, ke kantor", ucap Zaen sambil melihat istrinya yang sedang memakaikan ia dasi.


"Iyaa", jawabnya. "Sekarang makan dulu, ya", lanjutnya seraya mengambilkan makanan untuk Zaen.


"Suapin",


"Hmm". Lalu Kanya menyuapi suaminya.


Selesai, Kanya tinggal mengantarkan suaminya ke depan pintu. "Aku berangkat dulu, ya", ucap Zaen sambil mencium kening Kanya cukup lama.


"Iya, hati-hati", jawabnya sambil melambaikan tangan. Lalu mobil yang Zaen tumpangi pun semakin jauh dan akhirnya menghilang.


Kanya yang merasa jenuh hanya berdiam diri di kamar berniat untuk membantu pelayan yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang. Dan ia pun melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.

__ADS_1


Pelayan yang melihat Kanya berjalan ke arahnya membungkukan badannya tanda hormat.


"Bi, aku aja yang siram tanamannya, sini", ucap Kanya saat hendak mengambil gembor -untuk yang gatau gembor, itu adalah tempat buat menyiram tanaman ya gais- pelayan yang sedang memegang gembor itu malah menjauhkan gembornya dari Kanya.


"Jangan, Nyonya. Nanti tangannya kotor, biar saya aja", ucap pelayan itu.


"Ah, ngga, kok, bi. Kanya juga sering nyiram tanaman di rumah Kanya", jawabnya sambil tersenyum. "Gapapa, kok. Bibi duduk aja, ya, kalo Mama atau Zaen yang liat, bilang aja aku yang mau", sambung Kanya seraya mengambil gembor yang masih di tangan pelayan itu.


"Hmm, maaf, saya mau disini aja, mau ngobrol aja sama Nyonya", ucap pelayan itu sambil tersenyum.


"Yaudah, gimana bibi aja. Bibi jangan panggil aku Nyonya, kan Bibi lebih tua dari aku, panggil aja aku Kanya", kata Kanya sembari menyunggingkan senyuman pada wanita yang sudah berumur itu.


"Ga enak, Nyonya. Gimana pun juga, kan, Nyonya istrinya Den Zaen",


"Gapapa, biar kita makin deket aja",


"Yasudah kalau gitu, Bibi panggil Nak aja, ya". Kanya menganggukan kepalanya masih dengan senyuman.


Lalu Kanya dan pelayan itu berbincang kesana kemari layaknya ibu dan anak. Ya, begitulah seorang Kanya, ia adalah orang yang mudah akrab, termasuk dengan para pelayan yang ada di rumah Mama Zahra.


Di sela perbincangan hangat itu, pelayan tadi mengatakan, "Nak, kamu ramah sekali. Beda sama pacarnya Den Zaen dulu, yang namanya Dewi".


Kening Kanya berkerut saat mengingat wanita itu. Dan entah kenapa Kanya merasa tertarik untuk mencari tahu masa lalu suaminya dengan sang mantannya.


"Emangnya kenapa, Bi?", tanya Kanya penasaran.


"Lah? Kenapa?",


"Nyonya Zahra benci banget sama mantannya Den Zaen, Nyonya suka marah-marah kalau Den Zaen ketemuan sama cewek itu, ...". Terlihat seperti ada yang ingin di bicarakan, namun pelayan itu terlihat berpikir seperti 'ngomong jangan, ya'.


"Terus, Bi?", tanya Kanya.


"Ehmm.. Nak Kanya jangan bilang siapa-siapa, ya, termasuk Den Zaen. Bibi rasa, kamu sebagai anggota baru di keluarga ini berhak tau, tapi Bibi mohon, jangan bilang ke Den Zaen kalau kamu mau tau, ya?", tutur pelayan itu.


"Iya. Apa, Bi?",


"Soalnya, ayah Den Zaen, tuh, selingkuhnya sama mamanya dari pacar Den Zaen yang dulu. Makanya Nyonya Zahra sampe benci kaya gitu. Bibi tau, karna Bibi yang ngerawat Den Zaen dari kecil",


Kanya terbelalak mendengar penuturan pelayan itu.


"A-apa?",


"Iya, kaya gitu. Tapi sampe sekarang Den Zaen belum tau ayahnya dulu selingkuh sama siapa. Karna waktu ayahnya selingkuh, Den Zaen masih kecil", tuturnya lagi.


Kanya memanggut-manggutkan kepalanya tanda mengerti. Dia masih tidak percaya dengan nasib apa yang terjadi dengan suaminya.


"Terus, Dewi juga kalau kesini, suka ngelakuin para pelayan disini seenaknya. Ga jarang juga Bibi lihat Dewi suka nyosor ke Den Zaen. Tapi untungnya, Den Zaennya suka ngejauh. Selama saya kerja disini, baru pertama kali Den Zaen pacaran sama cewek. Eh, sekali dapet cewek, kaya begituan. Untung aja nikahnya sama kamu. Hihh, kalau nikahnya sama cewek itu, Bibi mending berenti aja jadi pembantu di rumah ini, dari pada di suruh-suruh sama dia", ucap pelayan itu sambil mengedikan bahunya.


"Huss, jangan bilang gitu, dia juga perempuan, Bi",

__ADS_1


"Perempuan jadi-jadian, iya", ucap pelayan itu sambil tertawa. Kanya hanya menggelengkan kepalanya.


Kanya melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 11.30, yang artinya sebentar lagi menunjukan waktu untuk makan siang.


Kanya berpamitan pada pelayan itu dan bersiap-siap untuk ke kantor sang suami dengan semangatnya.


***


"Uhh, kangen Zaennn", ucap Dewi manja sambil terus menatap foto dirinya bersama Zaen. "Ke kantornya, ah", sambungnya. Lalu tanpa berlama-lama, Dewi mengemudikan mobilnya menuju kantor Zaen.


Saat sudah di ambang pintu kantor, para karyawan di kantor itu menatapnya dengan tatapan tidak suka. Karna telah mengacaukan pesta pernikahan atasannya. Namun, Dewi tetap berjalan dengan gontai dan menebarkan senyuman.


"Ih, ga tau malu, ya. Masih ada ngedatengin, dasar cewek ga tau diri", bisik salah satu karyawan. Karyawan yang lainnya membenarkan omongan karyawan itu.


Setelah sampai di depan ruangan Zaen, Dewi langsung masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Dan tampaklah Zaen yang sedang membulak-balikkan dokumen selembar demi selembar. Di situ juga ada Leo sedang melakukan aktivitas yang sama seperti Zaen.


Keduanya menatap ke arah pintu karna mendengar suara pintu yang terbuka tanpa di dahului oleh suara ketukan. Dan di dapatinyalah Dewi sedang tersenyum dan langsung memeluk Zaen.


"Maaf, anda bukan kekasih Tuan saya lagi. Jadi di mohon untuk mengetuk pintu terlebih dahulu", ucap Leo tegas. Namun, Dewi tidak menggubris ucapan Leo. Ia malah mencium pipi Zaen.


"Lepas! Kamu ngapain kesini, hah?!", ucap Zaen samb mendorong Dewi. Namun, Dewi malah memeluknya lebih erat lagi.


Kejadian itu bertepatan dengan Kanya yang sudah berada di ambang pintu. Dengan senyum sumringah, Kanya mengetuk pintu ruangan suaminya. Dan Leo yang mendengar suara ketukan langsung membukakan pintu.


Dan terkejutnya Leo, ia sedang bertatap dengan istri dari bosnya. "Suami aku ada?", ucap Kanya tanpa membenamkan senyumannya itu.


"A-ada", ucap Leo gagap sambil menggeserkan badannya agar tidak menghalangi jalan Kanya. Jantung Leo berdegup kencang karna ia pasti akan terjadi suatu pertikaian.


Senyuman Kanya yang indah seketika sirna saat mendapati suaminya sedang di peluk oleh mantan kekasihnya. Hatinya bagai di tusuk belati berkarat, Kanya menjatuhkan tas yang berisikan makan siang Zaen.


Matanya menumpahkan tetes demi tetes air dengan dada yang teramat sesak akan pemandangan yang ia lihat.


"Ka-Kanya" …


.


.


.


.


.


Maaf, ya, aku baru up. Soalnya kemarin sempet sakit, sekarang juga sebenernya masih kerasa, cuma aku paksain aja biar kalian tetep stay T_T


Nanti aku bakal buat instagramnya "Cerita Kanya", yaaaaa. Aku kasih tau kalau udah jadiiii!!


Ga akan up kalau likenya dikit T_T

__ADS_1


__ADS_2