
"Zaen, haiii! Ini aku, Indah. Zaen hari ini weekend, kan. Kamu gak kemana-mana, kan? Anter aku shopping, yuk. Please".
Kanya menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dengan keadaan ia masih memegang handphone, lalu ia menjauh dari Zaen yang masih merebahkan tubuhnya.
"K-Kak Indah?" Dengan hati yang bergemuruh dan mata berkaca-kaca, Kanya memastikan bahwa yang menelpon dan yang mengajak suaminya pergi shopping itu adalah kakak tirinya.
"Loh? Kok, kamu, sih? Zaen-nya mana? Kakak mau telpon sama Zaen bukan sama kamu. Cepetan kasihin telponnya!" seru Indah.
"Zaen suami aku, Kak! Kakak ngapain ngajak suami aku shopping?" Kali ini air mata Kanya tidak bisa di bendung lagi.
"Suami kamu yang ngejanjiin ke Kakak! Jadi gak salah dong Kakak tagih janjinya!",
"Za-Zaen ngejanjiin, Kak?", tanya Kanya lagi.
__ADS_1
"Iya! Malahan suami kamu juga ngejanjiin Kakak buat pergi liburan bareng. Sekarang Kakak tagih janjinya, tapi yang angkat telpon malah kamu!", cetus Indah.
Sudah. Kanya tidak ingin mendengar omongan Kakak tirinya lagi. Kanya memilih untuk mematikan sambungan telpon itu, dan ia kembali ke kamar.
Kanya menyimpan handphone Zaen di nakas dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi cukup nyaring yang membuat Zaen menoleh ke arahnya.
Namun, Kanya tidak peduli. Kanya memunguti baju yang berserakan di lantai dan pergi ke kamar mandi. Saat pintu di tutup pun Kanya dengan spontan membantingnya.
Ia menangis di kamar mandi. Namun, Kanya sengaja tidak mengeluarkan suara isakannya agar Zaen tidak tahu sedang apa ia saat ini.
Kanya bimbang. Harus percaya pada siapa. Ingin Kanya bertanya pada Zaen, namun rasanya sangat malas. Tetapi ia juga penasaran apakah yang di katakan Kakak tirinya itu benar atau hanya ingin memanas-manasi saja.
Sudahlah. Kanya sedang tidak ingin memikirkan itu.
__ADS_1
Kanya keluar dari kamar mandi dengan tidak mempedulikan Zaen yang sudah memakai baju dan duduk menghadap pintu kamar mandi.
Zaen melemparkan senyuman hangat pada istrinya setelah tahu istrinya sudah keluar dari kamar mandi.
Sikap Zaen itu membuat hati Kanya bergemuruh sekaligus membuat Kanya salah tingkah di buatnya. Namun, Kanya tetap tidak peduli dan tidak membalas senyuman Zaen. Ia memilih untuk melalui Zaen dan pergi ke luar kamar.
Zaen pun mengernyit, kenapa istrinya ini? Tidak biasanya Kanya seperti itu. Biasanya setiap Zaen melemparkan senyuman, Kanya selalu memeluknya atau membalas senyuman itu. Tapi … ini tidak.
Zaen pun dengan segera mengekori Kanya yang berjalan lebih dahulu. Lalu di genggamnya pergelangan tangan Kanya, "Kamu marah? Kenapa? Bilang sama aku. Jangan ngediemin kaya gini", lirih Zaen.
Kanya menatap nanar wajah Zaen. Terlihat bulir-bulir air mata disana. Kanya tidak ingin berbicara, karna ia tahu jika ia berbicara, air mata yang sedang ia tahan akan tumpah. Ia ingin terlihat baik-baik saja.
"Jawab aku, Kanya", ucap Zaen lagi. Kali ini Zaen berucap sambil menggoyangkan tubuh Kanya dengan memegang kedua lengan Kanya.
__ADS_1
Namun, Kanya masih tidak bergeming. Air mata yang ia tahan pun sekarang sudah menetes. Meskipun ia tidak berbicara.
"Tuhan, haruskan aku berbicara? Yakinkan aku, Tuhan. Aku akan baik-baik saja. Tolong".