
"Tuhan, haruskan aku berbicara? Yakinkan aku, Tuhan. Aku akan baik-baik saja. Tolong". Kanya menolak keras akan apa yang ia rasakan. Ia tidak lemah. Ia harus percaya pada suaminya.
Namun, setelah di pikir-pikir, apa salahnya untuk bertanya? Maka Kanya memutuskan untuk menegarkan dirinya agar bisa bertanya apakah yang di ucapkan oleh Kakak tirinya itu benar.
"Ka-Kamu ngejanjiin sesuatu ke Kak Indah?", tanya Kanya dengan terbata-bata.
"Ngga, aku gak ngejanjiin apa-apa", jawab Zaen dengan serius. "Kata siapa? Aku emang pernah ngejanjiin ta--", Zaen ingin melanjutkan perkataannya namun di potong oleh Kanya.
"Tuh, kan! Kamu pernah ngejanjiin sesuatu ke Kak Indah! Kamu ngejanjiin nemenin dia shopping, kan? Kamu juga ngejanjiin bakal ajakin Kak Indah liburan bareng, kan? Gitu, ya, kamu", seru Kanya dengan menangis terisak.
"Ngga gitu, Sayang. Makanya dengerin aku dulu", pinta Zaen.
Kanya hanya mengeluarkan isakan yang sangat pilu. Hingga Zaen tak kuasa melihatnya. Zaen menggiring tubuh Kanya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Udahan dulu nangisnya. Kan mau aku jelasin", ucap Zaen sambil mengusap air mata Kanya. "Jadi gini, waktu kemarin-kemarin, kan kita ke rumah Mama Nadia. Nah, waktu kamu ke dapur, tinggal aku, Mama Nadia, sama Kak Indah di ruang tamu. Terus Mama kamu nanyain tas yang lagi dia cari, aku bilang nanti sama aku di anter, soalnya aku tau tempat yang jualan tas itu",
"Terus", tanya Kanya masih dengan suara yang kesal.
"Terus, yang Kakak kamu bilang aku ngejanjiin bakal liburan bareng, aku pernah janji, tapi aku janji ke Mamah kamu juga. Masih waktu kemarin, aku bilang aku bakal ngajak Mama Nadia liburan bareng, sama kamu, sama Kak Indah juga. Jadi udah, ya. Aku gak pernah ngejanjiin apa-apa sama Kak Indah. Kamu kalo ada apa-apa jangan langsung diemin aku, tanya dulu. Gak enak tau di diemin. Maaf, ya, aku lupa ngasih tau kamu. Jangan nangis lagi, ya. Aku minta maaf", jelas Zaen.
Kanya sekarang mengerti. Disinu yang salah adalah dirinya. Karna ia mudah termakan oleh omongan orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya. Kanya merasa tidak enak karna ia tadi sudah tidak memperdulikan Zaen.
Lalu Kanya beringsut untuk memeluk Zaen. "Maaf, ya. Aku tadi cuekin kamu. Aku tadi gak tau kenapa jadi langsung emosi", ucapnya.
"Iya, gak apa-apa".
***
__ADS_1
"Ih! Anak itu! Rese banget. Gak tau diri! Bukannya di kasihin malah di matiin! Liat aja!". Siapa lagi kalau bukan Indah.
Di sebrang sana Indah marah-marah tidak jelas. Ia menyumpahi Kanya dengan perkataan apa pun yang terlintas di pikirannya. Bahkan yang tidak masuk akal sekali pun.
"Kenapa, sih? Berisik banget", ketus Mama Nadia yang kebetulan sedang melewati kamar Indah.
"Itu lohh, si Kanya ini, lah, ah! Aku kan pengen telfonan sama Zaen, malah dia yang angkat. Rese!", jawab Indah dengan rusuhnya.
"Indah! Kamu ini apa-apaan, sih?! Mama bilang kan udah! Jangan ganggu Kanya sama Zaen!".
Indah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Dasar Indah bodoh!". Saking emosinya ia sampai-sampai keceplosan.
"Apaan, sih? Tadi lagi ekting tau gak? Udah, ah, sana Mama pergi. Ganggu aja!", ucap Indah sambil menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Awas, ya, kalo kamu berani macem-macem!", teriak Mama Nadia di balik pintu.
Indah hanya memasang wajah masamnya. Sial!.