Cerita Kanya

Cerita Kanya
Bukan sama kamu


__ADS_3

Lalu Kanya tersadar, piring yang ia sajikan tadi sekarang tidak dipakai lagi. Kanya sudah terbiasa menyiapkan piring untuk sang ayah, dan dibalas dengan kecupan rasa sayang beserta pelukan hangat.


Kanya menatap ke arah piringnya, sangat sesak rasanya kehilangan seseorang yang dicintainya selama ini. Kanya menangis tersedu-sedu.


Dulu, saat ia menangis, selalu ada sang ayah yang siap untuk menenangkannya, memeluknya, menghiburnya, dan membuatnya tertawa lagi. Namun itu semua kandas hanya dengan beberapa detik.


"Bapak, apa Bapak disini? Apa Bapak gak mau peluk Kanya lagi? Bapak gak mau cobain masakan Kanya lagi? Bapak kenapa tinggalin Kanya? Gak ada orang yang kaya Bapak. Bapak kenapa pergi?", Kanya berkata-kata dengan tetesan air dari matanya yang semakin menderas.


Tetapi Kanya teringat akan sesuatu, yaitu omongan sang ayah. "Bapak bakal selalu ada disisi kamu, Nak. Kamu gak akan pernah sendiri. Kalau Bapak sewaktu-waktu gak ada, kamu harus makan yang banyak, jangan pernah nangis. Janji?", ucap ayahnya sambil mengangkat jari kelingkingnya, lalu Kanya membalasnya hingga mengaitkan kedua jari kelingkin anak dan bapak tersebut.


Kanya menepis air matanya dan ia melanjutkan makannya dengan lahap, walau terkadang air mata lolos dari matanya tanpa diberi aba-aba.


Setelah semua selesai, Kanya membereskannya dan menyisihkan sarapan yang dibuatnya itu sedikit untuk sang Ibu.


Kanya berlanjut dengan beres-beres rumahnya. Sampai semua selesai, Kanya ke kamarnya untuk berdandan sedikit. Ia hanya mengoles tipis bedak dan lipstik yang berwarna merah muda.


"Selesai", ucap Kanya sambil menunjukkan wajah berseri-serinya didepan cermin.

__ADS_1


______________________________


"Sayang, aku mau beli itu lagi, itu keluaran terbaru, loh. Please, aku pengen banget beli itu, kan uang kamu masih banyak, sayang", Dewi merengek saat melihat tas keluaran terbaru dipajang disalah satu toko di mall yang sedang ia kunjungi itu.


Ya, saat Zaen sedang sarapan, Dewi menelponnya. Zaen tidak tahu harus berbicara bagaimana, hingga ia mengabaikan telpon dari kekasihnya itu. Sampai pada akhirnya Mama Zahra yang merasa risi dengan suara telpon yang terus berbunyi itu menyuruh anaknya untuk mengangkatnya saja.


Saat Zaen mengangkatnya, ia langsung disemprot dengan omelan-omelan Dewi karena sekarang sudah jam 08.00, Zaen belum juga menjemputnya.


Hingga terpaksalah Zaen mengantar Dewi untuk pergi shopping sesuai keinginan kekasihnya itu. Zaen menjemput Dewi ke rumahnya. Lalu Dewi masuk ke mobil Zaen dengan muka cemberut karena masih kesal.


Dengan terpaksa juga Zaen membujuk Dewi hingga 1 jam. Makinlah pusing si Zaen nii wkwk.


Sebenarnya, Zaen sudah pusing kepala dengan Dewi yang sering menghabiskan uangnya. Namun ia dibutakan dengan cinta, hingga ia memberikan segalanya.


"Sayang", panggil Zaen. Namun Dewi tidak mendengarnya.


"Sayang", panggil Zaen lagi.

__ADS_1


"Dewi!", lalu ke tiga kalinya, Zaen memanggil kekasihnya dengan sebutan nama. Seketika Dewi langsung melototkan matanya pada Zaen karena tidak menyebutnya dengan panggilan sayang.


"Apa, sih? Kamu gak liat aku masih sibuk milih-milih tas? Aku bingung, aku mau beli semuanya aja, deh. Udah, kamu jangan berisik, sakit telinga aku". Mendengar hal tersebut, Zaen langsung menjawab omongan Dewi dengan tegas.


"Aku perlu bicara sama kamum. Aku tunggu sekarang juga di lobi. Lebih dari 10 menit aku tinggal kamu". Lalu Zaen pergi meninggalkan Dewi yang masih mematung, dan Zaen menunggu dimobilnya.


Setelah beberapa menit menunggu, Dewi datang dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Kamu tuh ganggu aku banget tau gak?!", bentak Dewi.


"Aku bakal nikah", jawab Zaen langsung.


"Bukan sama kamu", sambung Zaen lagi. Dewi yang sudah tersenyum lebar dan mulutnya sudah terbuka untuk berkata, mendengar Zaen berkata seperti itu senyum Dewi hilang seketika.


"Kamu bohonh kann? Pasti sama aku. Iyakan? Iyakan?", Dewi bergelayut manja ditangan Zaen.


"Maaf, Dew. Aku dijodohin", bagai petir disiang bolong. Dewi langsung menghempas keras tangan Zaen, dan langsung berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak tolak perjodohan itu? Kamu milik aku, Zaen! Kamu harus nikah sama aku!", ucap Dewi sambil berurai air mata.


"Gak bisa, Dew".


__ADS_2