
"Bro, gue minta tolong, lah", ucap Zaen saat telfonnya diangkat.
"Minta tolong apa, bos?", jawab orang itu di sebrang sana.
"Tolong bawain baju gue, lima pasang aja, lo tau, kan, gue dirumah suka pake baju kaya gimana. Nah, lo bawa tuh lima pasang aja. Terus baliknya, beliin bubur yang depan rumah sakit istri gue di rawat", tutur Zaen.
"Oke, bos, ditunggu". Lalu Zaen menutup telfon itu.
"Lah, si bos ini. Kagak bilang makasih gitu, it's okelah, kagak ngapa", ucapnya sambil memainkan kunci mobil sebelum ia mengendarai mobilnya. Orang itu adalah Leo. Zaen, Diki, dan Leo bagaikan trio macan yang suka kemana-mana.
Bedanya Diki dan Leo adalah, kalau Diki berteman dengan Zaen dari saat mereka masih kecil, karna orang tua mereka sangat dekat hingga turun pada anak-anaknya juga sampai saat ini masih menjadi sahabat. Beda dengan Leo, kalau Leo kenal dengan Zaen dan Diki saat duduk di bangku sekolah dasar.
Namun, sekarang keduanya jarang sekali untuk bisa kumpul. Mereka sibuk dengan pekerjaannya, tapi Leo setiap hari bisa bertemu dengan Zaen, karna Leo asisten pribadinya.
Buktinya saja, Diki tidak tahu menahu tentang pernikahan sahabatnya itu. Karna saat Zaen mau menghubungi Diki, Diki sedang di luar negri bersama kedua orangtuanya. Ditelfon pun tidak bisa karna di luar jangkauan. Alhasil, Diki masih belum tau perihal sahabatnya ini.
***
Zaen saat itu sedang memasang kembali infus Kanya. Namun, infusan dengan posisi Zaen berdiri terhalang oleh hospital bed Kanya. Jadi, cukup sulit. Zaen juga tidak berpikiran untuk berjalan memutari hospotal bednya saja.
Saat infusan sedikit lagi masuk, tiang infusan itu terdorong menjauh. Namun Zaen memaksakannya, hingga kantung infusannya berhasil masuk. Namun, tubuh Zaen menindih tubuh Kanya.
Tatapan pun berlalu di keduanya. Zaen melihat bibir Kanya yang berwarna pink. Zaen sudah mendekati wajahnya untuk menempelkan bibirnya pada bibir itu. Pikir Zaen, toh, mereka sudah sah menjadi suami istri. Jadi mereka bebas melakukan apa pun juga.
Sedikit lagi menempel..
Sedikit lagi..
Sedikit lagi..
"Bos",
Zaen yang mendengar sudah ada Leo di belakangnya malu bukan main. Begitu pun Kanya. Keduanya menjadi salah tingkah setelah kepergok oleh si Leo itu.
"Ah, bos, maaf. Gue ganggu, nih, bos, pesanannya. Lanjutin, ya, gue ga akan ganggu ganggu lagi. Hehe, dadah, bos", ucap Leo sambil langsung keluar dari ruangan Kanya dengan lambaian tangannya.
Zaen mengusap tengkuk leher belakangnya, ia melirik Kanya yang sedang memainkan kuku.
"A-aku mandi dulu, ya", ucap Zaen.
"Iya", jawab Kanya.
***
__ADS_1
"Dasar asisten sialan. Ganggu aja, kan jadi malu kalo gagal, heuh", gumam Zaen sambil memakai bajunya setelah selesai mandi.
Zaen keluar kamar mandi dengan memakai kolor dan kaos oblong. Lalu ia mendudukan bokongnya di kursi pinggir hospital bed Kanya lagi.
"Ma-maaf, ya. Ta-tadi..", belum Zaen menuntaskan bicaranya sudah di potong oleh Kanya.
"Gapapa, aku kan sekarang istri kamu", ucap Kanya tersenyum.
"Ah, i-iya", ucapnya lagi.
"Tadi, siapa?", tanya Kanya.
"Leo, asisten pribadi aku", ucap Zaen sambil mengambil kantong plastik yang berisikan bubur ayam yang di beli oleh Leo di depan rumah sakit. "Ohiya, ini ada bubur buat kamu. Makan, yuk", lanjut Zaen sambil membantu Kanya untuk duduk.
"Aku suapin, ya", ucap Zaen lagi.
"I-iya", jawab Kanya.
"Yah, kayanya udah dingin, soalnya tadi aku tinggal mandi dulu. Gimana, dong? Beli lagi aja, ya", ucap Zaen sambil mengambil ponselnya untuk menelfon Leo lagi.
"Ngga-ngga, ini masih anget, kok. Lagian kamu juga ga lama mandinya", ucap Kanya.
"Yaudah, kalo kamu mau apa-apa bilang, ya". Kanya membalas dengan anggukan.
Kanya bersyukur ceritanya tidak seperti di novel-novel, yang saat di jodohkan membuat perjanjian satu sama lain. Baru satu hari Zaen menjadi suaminya, rasanya.. Kanya tidak ingin kehilangan sosok Zaen.
Tak terasa, bubur yang Kanya makan sudah habis. Dan Zaen pun membantu Kanya untuk meminum obatnya.
"Makasih, ya", ucap Kanya tulus.
"Kan aku suami kamu, udah kewajiban aku rawat kamu", jawab Zaen.
Lalu, gerak-gerik Zaen terlihat gusar seperti ada yang mau di bicarakan, tapi Zaen tidak berani untuk berbicara.
"Kamu kenapa?", tanya Kanya.
"Ng-ngga",
"Bilang aja, kamu mau apa?", tanya Kanya lagi.
"A-aku boleh ga ci-cium kamu?", tanya Zaen terbata-bata.
Rona merah di pipi Kanya langsung terlihat karna ucapan suaminya.
__ADS_1
"Cium a-aku?", tanya Kanya sambil menunjukan jarinya ke arah dirinya.
"I-iya. Tapi kalo kamu ga mau, gapapa", ucap Zaen.
"Bo-boleh", ucap Kanya sambil tersipu malu.
"Serius?", tanya Zaen.
Kanya membalas dengan anggukan di sertai senyuman.
Setelah mendapat izin istrinya, Zaen mendekatkan wajahnya pada wajah Kanya. Hembusan napas mereka sudah terasa di wajah dua insan itu.
Zaen menempelkan bibirnya di bibir Kanya. Kanya hanya diam, jantungnya berdegup kencang seperti sudah lari marathon saja. Begitu pun Zaen, ia juga merasakan apa yang Kanya rasakan. Ini ciuman pertamanya bagi mereka berdua.
Kanya merasakan bibir Zaen mulai terbuka, ia pun menuruti apa yang Zaen lakukan. Ia membuka bibirnya. Itu membuat Zaen leluasa menjelajah mulut istrinya.
Cukup lama mereka bertahan, hasrat Zaen ingin lebih dari ini. Namun, Zaen sadar, istrinya sedang sakit. Jadi ia menghentikan aktivitasnya.
Zaen menatap Kanya yang tersengal-sengal karna hampir kekurangan napas. Zaen tersenyum. Kanya pun bisa melihat raut wajah Zaen yang begitu bahagia. Zaen mencium kening Kanya dan mengucapkan terima kasih.
"Kalo kasur ini bisa ga, ya, buat dua orang?", ucap Zaen.
"Kamu mau apa?", tanya Kanya.
"Mau tidur", jawabnya sambil melihatkan jajaran giginya yang putih dan rapih itu.
"Bisa, kali", ucap Kanya sambil menggeser tubuhnya.
"Kamu keberatan ga kalo aku tidur seranjang sama kamu?", tanya Zaen.
"Ngga, kan kamu suami aku. Sini, tidur", ucap Kanya sambil menepuk-nepuk lahan kasur itu di sisinya.
Zaen pun mulai membaringkan badannya di sisi Kanya.
"Tidur, udah malem", ucap Zaen sambil membenamkan kepala Kanya di dadanya.
"I-iya".
Tak lama kemudian, Zaen merasa istrinya itu sudah tertidur. Zaen mencium puncak kepala Kanya. "Aku sayang kamu", ucap Zaen.
Kanya yang sebenarnya masih bangun mendengar ucapan suaminya langsung merasakan darahnya yang berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang lagi.
Kanya memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya di pinggang Zaen yang sudah tertidur setelah tak lama mengatakan itu.
__ADS_1
"Aku juga sayang kamu".