Cerita Kanya

Cerita Kanya
CKREEK


__ADS_3

Setelah sampai, Kanya langsung di bawa ke ruang UGD. Dan untungnya pula langsung di tangani dokter Diki, yaitu teman lama sekaligus sahabat Zaen sedari kecil.


Saat itu Diki baru saja selesai menangani pasien lain di ruang UGD dan saat keluar ruangan,


"Dik, Dik, istri gue dulu, Dik", ucap Zaen heboh.


"Hah? Istri siapa? Lo nikah kaga sama Dewi, En?", tanya Diki terheran-heran.


Pantas saja Diki terheran-heran, karna saat mereka terakhir bertemu, Zaen masih berpacaran dengan Dewi. Namun sobatnya ini tiba-tiba datang samabil mengucapkan 'istri gue' dan wanita itu bukanlah Dewi.


"Nanti gue ceritanya, sekarang lo obatin dulu istri gue. Cepet-cepet-cepet. Awas kalo lama, lo", kata Zaen sambil mendorong badan Diki untuk kembali masuk ke ruang UGD.


***


Diki melihat luka Kanya cukup besar, dan benturan di kepalanya juga sepertinya cukup keras. Sehingga Diki memutuskan untuk menjahitnya. Diki tidak meminta izin Zaen terlebih dahulu, karna Zaen pasti mengizinkannya. Ia sudah tahu jelas sifat sobatnya itu.


Setelah selesai, Diki keluar dari ruang itu.


"En", panggil Diki.


"Gimana? Gimana? Gapapa, kan?", tanya Zaen khawatir.


"Luka sobeknya cukup besar, jadi gue mutusin buat dijait aja. Sekarang istri lo itu belum sadar, gue usulin istri lo pindah ruangan. Karna pengobatannya 3 sampe 4 hari", jelasnya.


"Oke, pindahin aja".


Dan Kanya pun di pindahkan ke ruang VVIP. Karna Kanya masih memakai gaun, perawat memutuskan untuk mengganti bajunya dengan baju pasien.


Setelah semua sudah beres, Zaen duduk dipinggir hospital bed yang Kanya tiduri. Zaen memberanikan diri untuk memegang tangan Kanya yang di infus itu, dan menciumnya.


Zaen kembali teringat saat dimana Kanya di dorong oleh mantan pacarnya -Dewi-. Zaen mengepalkan tangannya karna tidak terima Kanya di perlakukan seperti itu oleh Dewi. Walau pun, Zaen masih menyimpan sedikit rasa pada Dewi. Namun, ia berpikir kembali. Rasanya, makhluk seperti Dewi tidak pantas di beri cinta. Begitu benaknya berbicara.


Zaen juga tidak mengerti dengan perasaannya. Mengapa ia begitu khawatir pada Kanya. Saat pertama bertatap pun, sudah ada gerinjal-gerinjal aneh di hatinya.


Apa aku sudah jatuh cinta padanya?


Saat Zaen sibuk bergelut dengan pikirannya, jari-jemari Kanya yang ia genggam bergerak sedikit demi sedikit. Zaen pun langsung melihat mata Kanya yang saat ini sedang mengerjap pelan karna sinar lampu menyinari matanya.


"Hei", panggil Zaen lembut sambil mengusap kepala Kanya.


Namun, Kanya tak kunjung menjawab panggilan dari Zaen. Zaen terperangah saat ingat bahwa kepala yang terbentur keras dapat menyebabkan amnesia.


"Diki! Diki!!", Zaen teriak-teriak memanggil nama Diki.


Lalu pintu ruangan Kanya terbuka, dan … malah perawat yang datang.


"Haisss.. Yang saya panggil, tuh, Diki bukan kamu!", teriak Zaen kesal.


"Ohh, Bapak memanggil dokter Diki", ucap perawat itu.

__ADS_1


"Bapak, bapak! Saya belum bapak-bapak!", ucap Zaen lagi.


Lalu tak lama kemudian Diki datang karna mendengar suara Zaen yang menggelegar.


"Ada apa?", tanya Diki.


"Lo kemana aja? Dari tadi gue panggilin malah datang orang ini!", ketus Zaen.


Kanya yang mendengar Zaen mengomel-ngomel tertawa. Begitu pun Zaen, Zaen yang mendengar Kanya tiba-tiba tertawa makin khawatir.


"Periksa istri gue! Dia amnesia, ngga?", tanya Zaen.


Diki pun memeriksa Kanya, dan Diki bertanya, "Kamu kenal orang itu?", tanya Diki sambil menunjuk Zaen.


"Ya kenal, lah! Orang gue suaminya!", seru Zaen.


"Bodoh! Amnesia itu kan gak inget apa-apa!", Diki pun tak kalah kesal dengan temannya ini.


"Oh, iya, ya", Zaen menurunkan nada bicaranya, karna ia menyadari kalau … dia emang bodoh.


Dalam benak Kanya timbul rasa untuk menjahili suaminya untuk pertama kalinya itu.


"Jadi kamu kenal, ga?" tanya Diki lagi.


"Ga", jawab Kanya singkat namun membuat Zaen memegang dadanya dengan muka kaget, sangat kaget.


Untung saja Zaen tidak punya penyakit jantung.


"Iya, aku tau", ucap Kanya sambil tersenyum jahil.


Mata Zaen berbinar senang. Saking senangnya, Zaen loncat-loncat di depan Diki, Kanya, dan perawat tadi. Zaen memeluk Diki sangat erat, "dia masih inget gueeeeee", ucap Zaen pada Diki.


Diki yang di peluk erat-erat oleh Zaen merasa tidak bisa bernapas. "Lo mau bunuh gue, ya, En", ucap Diki sambil menepuk-nepuk bahu Zaen.


Zaen yang tersadar akan tingkahnya melepas Diki dan ia tersadar pula, bahwa Kanya sudah mengerjainya. Ia menatap Kanya yang masih senyum-senyum. Zaen sengaja memasang mata elangnya untuk mengerjai balik istrinya.


Dan benar saja, senyuman Kanya langsung hilang setelah ditatap oleh elang yang sedang mengincar mangsanya. Kanya menunduk, "Maaf", ucapnya.


Zaen langsung tertawa terbahak-bahak setelah mengerjai istrinya. Kanya hanya bisa diam melihat suaminya tertawa. Tiba-tiba Zaen teringat, bahwa di ruangan Kanya masih ada Diki dan perawat tadi.


"Kalian ngapain masih disini?", ketus Zaen.


"Gue mau obatin lo, En", ucap Diki. "Sini, gue periksa", sambungnya.


Kanya dan perawat tadi tertawa lagi.


"Heh! Kamu bilang suamiku gila, ya?!", ucap Kanya pada Diki.


"Maaf, saya permisi", lalu Diki dan perawat tadi keluar ruangan Kanya sambil menahan tawanya. Saat sudah jauh dari ruangan Kanya, Diki tertawa terbahak-bahak hingga keluar air mata. Tak sadar, ia tertawa seperti itu dihadapan banyak pasiennya. Biarlah.

__ADS_1


***


Zaen dan Kanya masih bertahan dengan aksi tatap menatapnya.


"Aku…", Zaen tiba-tiba berbicara, namun Zaen berbicara dengan terbata-bata.


"Apa?", tanya Kanya.


"A-aku boleh ga peluk kamu?", tanya Zaen. "Tapi kalo kamu gamau gapapa, aku peluk tiang listrik aja", ucap Zaen dengan cepat.


"Masa peluk tiang listrik, sih? Peluk aku aja, gapapa, sini", ucap Kanya sambil mengangkat tangannya.


Dengan senang hati Zaen langsung menyambar badan Kanya yang cukup kecil darinya.


Nyaman. Begitu lah benak keduanya. Hingga tidak ada yang mengakhiri pelukan itu, keduanya memeluk sangat erat. Namun tiada rasa sesak diantaranya, hanya rasa hangat yang menjalar ke tubuh dua insan itu.


Sampai mereka tidak sadar, Mama Zahra sudah ada di belakangnya dengan wajah berbinar sangat senang.


Cukup lama mereka berpelukan hingga membuat kaki Mama Zahra pegal tiada tara. Mama Zahra ingin menyapa anak dan menantunua itu, namun Mama Zahra tidak mau merusak momen ini. Hingga akhirnya Mama Zahra memutuskan untuk memfotonya.


Tapi, sialnya. Mama Zahra lupa mematikan suara dari kamera itu yang menyebabkan kamera itu berbunyi. CKREEK.


Kanya dan Zaen yang mendengar suara itu langsung menengok ke arah dimana suara berasal. Mama Zahra sudah melihat Zaen dan Kanya akan melihatnya buru-buru melangkahkan kakinya keluar pintu, namun,


"Mama?", ucap Zaen dan Kanya.


"Aisss bodohnya aku", gumam Mama Zahra sambil memejamkan matanya.


"Ehehe, maaf, Mama ganggu", ucap Mama Zahra sambil menunjukkan nyengir kudanya.


"Mama udah lama?", tanya Kanya.


"Baru sebentar, kok", ucap Mama Zahra berbohong.


"Tadi Mama foto apa?", tanya Zaen.


"Mampuslah aku".


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Gayssss jangan lupa favoritkan, yaaaa. Jujur, terakhir aku up itu viewers terbanyak akuuu, jadi semangat bikinnnn😍


Love u, gays. Keep suport yaa♥


__ADS_2