Cerita Kanya

Cerita Kanya
Kamu harus percaya sama Ibu!


__ADS_3

Wanita itu melihat tangan Mama Zahra, "Wah, ternyata dia orang kaya. Aku akan memanfaatkan situasi ini". Ucap wanita itu dalam hati setelah melihat tangan Mama Zahra yang digelangi gelang emas.


"Aku ingin nomor telponmu", ucap wanita itu.


Lalu Mama Zahra memberikan nomor telpon nya pada wanita itu. Mama Zahra tidak menanyai untuk apa wanita itu meminta nomor telponnya, karena Mama Zahra saat itu tidak berpikiran aneh. Begitu pun Zaen, dia hanya kembali memeluk Mamanya.


______________________________


"Ma, Mama ikut mobil aku aja. Biar mobil Mama sama Mang Udin", ucap Zaen saat diparkiran menuju pulang. Mama Zahra hanya menganggukan kepalanya.


Saat diperjalanan, Mama Zahra baru teringat bahwa sekarang ia seharunya sedang merayakan pesta ulang tahun temannya.


"Duh, Mama lupa", kata Mama Zara sambil menepuk jidatnya.


"Lupa apa, Ma?"


"Harusnya kan tadi Mama ke pesta ulang tahun temen Mama",


"Bilang aja sama temen Mama itu kalo Mama sekarang gak bisa datang, masa Mama datang ke pesta kucel gitu? Emang gak malu? Mana make up Mama luntur lagi", ucap Zaen sambil memijat pelipis nya karena pusing dengan kelakuan Mamanya.

__ADS_1


"Ah, iya ya bener juga kata kamu. Terus Mama harus kasih alasan apa dong ke temen Mama?", tanya Mama Zahra.


"Mama bilang aja abis nabrak orang",


"Ihh!! Kamu ini gimana sih?! Kaya nya Mama tarik aja kata-kata Mama tadi, emang gak bener kamu ini!", kata Mama Zahra seraya memukul lengan Zaen dan mengalihkan pandangannya ke jalan raya dengan muka cemberut.


"Mama sih, kondisi kaya gini masih aja mikirin pesta". Mama Zahra tidak menjawab omongan anaknya itu dan memilih untuk terus menatap jalan raya.


Saat sudah sampai rumah, Mama Zahra keluar dari mobil dan tidak menghiraukan anaknya sama sekali karena masih merasa kesal.


Zaen hanya bengong melihat tingkah Mamanya. "Ah, si Mama ini", ucap Zaen sambil keluar dari mobil.


______________________________


"Bapak kenapa, Bu? Ibu kenapa nangis?", tanya Kanya karena bingung, Ibunya datang ke rumah dengan matanya yang sembab dan menangis lagi sambil memeluknya.


"Bapak meninggal, Kanya". Tangis wanita itu semakin menjadi-jadi. Sedangkan Kanya hanya bisa diam memeras otaknya untuk memahami ucapan sang ibu.


"Bapak ketabrak", ucap wanita itu lagi.

__ADS_1


"Ibu bohong! Tadi bapak baru pergi mau kerja, Bu!". Kanya melepas pelukan sang ibu dengan kasar dan sang ibu bisa melihat sudah ada genangan air yang siap untuk diteteskan dari mata anaknya.


"Iya, diperjalanan itu bapak ketabrak, Kanya! Kamu harus percaya sama Ibu!", ucap wanita itu meyakinkan dengan menangkup wajah anaknya menggunakan kedua telapak tangannya.


Ditatapnya mata sang ibu lamat-lamat, air mata Kanya pun akhirnya meleleh karena tak kuasa menahan tangis. Kanya menangis sesegukan dipelukan ibunya.


"Tangisan palsuku tidak sia-sia, padahal aku senang dengan kematiannya", ucap wanita itu dalam hati sambil mengusap kepala putrinya.


______________________________


Setelah sang ayah dari Kanya dimandikan, disholatkan, dan dikuburkan, tinggalah seorang Kanya dan ibunya yang masih berada dikuburan pria itu.


Kanya menatap batu nisan yang bertuliskan "Rahman bin Akbar" lalu disertakan dengan tanggal lahir dan tanggal kematiannya. "Bapak kenapa ninggalin Kanya sama Ibu? Kanya belum kasih Bapak mobil, Kanya belum bahagiain Bapak, Kanya juga belum liat Bapak gendong cucu Bapak nantinya. Kenapa Bapak pergi?", ucap kata dengan air mata yang terus bercucuran.


Kanya menengadahkan kepalanya melihat sang ibu yang sedang berdiri disampingnya dengan muka biasa-biasa saja. "Ibu, siapa yang udah nabrak Bapak?"


"Ibu juga ngga tau, Nak. Kamu yang sabar, ya. Ibu juga sebenarnya sedih, cuma ibu gak nunjukin kesedihan ibu. Kamu udah ya, jangan nangis lagi. Biar Bapak kamu tenang dialam sana. Sebaiknya kita pulang, kamu belum makan dari tadi pagi", ucap sang ibu sambil meneteskan air mata palsunya.


Kanya pun menurut apa kata ibunya, ia pulang menaiki taksi. Saat sampai dirumah, "Kanya, makan dulu", suruh wanita itu. "Kanya gak laper, Bu. Kanya gak nafsu makan", Kanya menolak untuk makan, ia memilih untuk memandangi foto dirinya dengan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2