Cerita Kanya

Cerita Kanya
Butuh kamu


__ADS_3

"Mampuslah aku".


"Ha-Hah? Ma-Mama ga foto apa-apa, kok", ucap Mama Zahra terbata-bata sambil nyengir tidak berdosa.


"Terus tadi suara apa?", tanya Zaen lagi.


"Itu-itu di depan kamar ini, iya", jawabnya lagi.


"Ohh, gitu", ucap Zaen sambil berjalan ke arah Kanya lagi.


"Kayanya Mama boong, deh", bisik Zaen pada Kanya.


"Boong apa maksud kamu?", bisik Kanya lagi.


"Mana mungkin di depan ada ada yang foto-foto, orang dari tadi sepi, kok, ga ada suara",


"Ohhh, yaudah, sih, gapapa kalo Mama foto sesuatu disini",


Zaen mengangguk benar, dan ia kembali menengok ke Mamanya yang masih bertahan dengan tempatnya.


"Mama ga duduk?", tanya Zaen.


"Ah, iya. Mama lupa kalau Mama mau duduk, hehe", jawabnya sambil menuju sofa.


Zaen dan Kanya bertatap dan mengangkat kedua bahunya.


"Dasar, ya, cewek murahan itu berani-beraninya!", ucap Mama Zahra geram. "Kamu, sih! Kenapa coba pake pacaran sama orang jadi-jadian kaya gitu! Imbasnya ke istri kamu juga, kan! Sekarang kamu butuh siapa?! Butuh cewek jadi-jadian itu apa butuh istri kamu?! Mau aja pacaran sama orang kaya gitu! Awas ya! Tradisi keluarga kamu, tuh, kalo mau nikah di liat nya dari sopan santunnya, bukan derajatnya!", tutur Mama Zahra pada Zaen.


Zaen hanya bisa menatap Kanya yang sedang senyum-senyum melihat suaminya kena omel.


"Kamu butuh siapa?", tanya Kanya lembut.


"Butuh kamu", jawab Zaen dengan mata yang masih menatap istrinya itu. Zaen memberanikan diri untuk menggapai tangan Kanya dan menciumnya.


Hati Kanya berdesir saat Zaen memperlakukannya seperti itu. Terlihat, begitu tulus semua kelakuannya di mata Kanya.


Mata Kanya sudah digenangi oleh air mata yang siap untuk di jatuhkan. Zaen yang melihat itu segera menghapusnya. "Jangan nangis", ucap Zaen sambil mengusap mata Kanya.


Mama Zahra yang berada di belakang mereka merasa paling sial di dunia, karna selama pacaran, sampai menikah pun tidak pernah di perlakukan seperti Zaen memperlakukan Kanya. Tetapi, Zaen juga sering memperlakukan Mamanya seperti saat ia memperlakukan Kanya saat ini.


Mama Zahra bahagia memiliki anak yang mengerti perasaan wanita. Zaen tidak membiarkan wanita yang di cintainya meneteskan air mata.


Zaen sudah mencintai Kanya.


"Mama kamu di kacangin, ih. Sana-sana, sapa dulu Mama kamunya", bisik Kanya.

__ADS_1


"Oh, iya. Aku lupa ada Mama, abisnya ada kamu, sih", ucap Zaen menggoda.


"Iya, cepet sana", titah Kanya lagi.


Lalu Zaen menghampiri Mamanya, ia memeluknya, dan menciumnya. "Mama udah lama?", tanya Zaen.


"Ngga, Mama baru sebentar. Tadi, tuh, ya, cewek jadi-jadian itu sebenernya masih ada. Dia teriak-teriak di depan gerbang udah kaya orang stres tau. Akhirnya Mama sama Mamanya Kanya bagi tugas, Mama jenguk Kanya, Mamanya Kanya handle si cewek jadi-jadian itu, sama ngurusin tamu", jelas Mama Zahra panjang lebar sambil memijit pelipisnya.


Kanya dan Zaen mengangguk-anggukan kepala.


"Zaen! Awas aja kalo kamu berhubungan lagi sama cewek itu di belakang Mama sama Kanya, awas aja!", ancam Mama Zahra. "Kanya, kamu juga harus bilang, ya, kalo Zaen nyakitin kamu, apalagi berhubungan sama cewek itu lagi", titah Mama Zahra pada Kanya. Kanya pun menganggukan kepala.


Zaen hanya bengong melihat Mamanya, karna tidak mungkin juga ia melakukan hal sehina itu. Aduhh Mama...


Lalu mereka berbincang-bincang sampai Nadia datang.


"Kanya", sapa Nadia sambil memeluk Kanya.


"Mama", sapa Kanya balik sambil membalas pelukannya.


"Mama tadi udah tampar cewek itu", ucap Nadia geram karna mengingat kejadian tadi.


Dimana Nadia menghajar dan mempermalukan Dewi di panggung di hadapan semua tamu-tamu. "Perkenalkan, saya ibu dari Kanya ingin memperkenalkan pada tamu-tamu yang ada disini, bahwa wanita ini, sudah gila harta pada Zaen, menantu saya. Bahkan dengan tidak tau malunya dia, sampai mengacaukan pernikahan anak saya, bahkan membuat anak saya terluka sampai masuk rumah sakit! Kalian pun melihatnya, jadi apakah dia wanita? Yang tega memperlakukan sesama wanita seperti itu!", ucap Nadia terang-terangan di panggung memakai mic sambil mencengkram erat lengan Dewi sampai Dewi meringis kesakitan. Lalu Nadia menampar Dewi. Semua tamu-tamu menyuraki Dewi, bahkan ada tamu-tamu yang menitah Nadia untuk tidak hanya memberi Dewi tamparan.


***


"Mama, Mama ga boleh gitu", ucap Kanya saat Nadia selesai bercerita.


"Orang kaya gitu, tuh, ga pantes buat di kasih napas!", seru Nadia.


"Iya, harusnya kamu jangan cuma nampar doang, dong!", ucap Mama Zahra tak kalah heboh.


"Iya, ya. Harusnya aku dorong aja dia dari panggung", ucap Nadia.


"Gak! Kamu harusnya lempar dia pake pot bunga yang ada disana, yang besar itu!", kata Mama Zahra lagi.


"Harusnya aku tenggelamin di tengah laut aja!".


Lalu cerita itu masih berlanjut heboh, sementara anak-anaknya hanya bengong melihat orang tuanya seperti itu.


"Maaf, ibu-ibu, jika saya mengganggu. Saya hanya ingin memeriksa pasien", tiba-tiba Diki datang untuk memeriksa kondisi Kanya. Zaen pun menghampiri istrinya yang sedang di periksa itu.


"Masih butuh istirahat, En", tutur Diki.


Zaen menganggukan kepalanya. Setelah selesai, Diki menggiring Zaen keluar ruangan Kanya, "Bro, lo masih ada hutang penjelasan ya, sama gue", ucap Diki.

__ADS_1


"Iya, kalo kondisinya udah membaik, gue jelasin ke lo", jawab Zaen. Lalu Diki membentukkan jari tangannya berbentuk OK sambil berlalu pergi. Zaen pun kembali masuk ke ruangan.


***


Tak terasa matahari sudah tenggelam dari peredarannya, dan di ganti oleh terangnya rembulan. Mama Zahra dan Nadia sudah pulang karna tidak bisa lama-lama.


Namun, Zaen masih bertahan di sisi Kanya. "Kamu jangan canggung-canggung, ya, kalo mau apa-apa bilang", ucap Zaen.


"Iya, kamu juga, ya. Cerita ke aku kalo ada apa-apa". Zaen menganggukan kepalanya.


"Kamu.. ga panas, ya? Daritadi pake baju pengantin", ucap Kanya sambil terkikik geli melihat suaminya belum mengganti bajunya.


"Oh, iya, ya. Daritadi aku pake baju ini. Kalo aku ambil baju ke rumah, kamu sama siapa? Aku ga mau kalo kamu sendiri, nanti kenapa-napa lagi", tutur Zaen.


"Aku ga apa-apa, kok. Sana ambil, kamu juga belum makan hayooo", ucap Kanya sambil menoel ujung hidung Zaen yang mancung itu.


"Kamu juga belum, tadi siang juga ga di abisin makannya. Kenapa?", tanya Zaen.


Memang, saat siang Kanya tidak menghabiskan makannya karna bubur rumah sakit rasanya hampa, tidak enak. Malah membuat Kanya mual untuk memakannya.


"Ehmm.. gapapa", ucap Kanya berbohong.


"Boong, buburnya ga enak, ya?", Zaen tertawa kecil saat mengatakan itu.


"Kok, kamu tau?", tanya Kanya.


"Kan aku juga pernah di rawat disini. Bentar lagi, ya, aku beliin kamu bubur di depan",


"Iya, makasih", ucap Kanya tersenyum. Zaen mengangguk.


Zaen memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengambil baju dan membelikan Kanya bubur tanpa harus meninggalkan Kanya sendirian.


Otak nya berpikir keras sampai akhirnya ia lupa, bahwa ia memiliki asisten sekaligus sahabatnya.


Zaen langsung menelpon asistennya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Gaysss aku usahain tiap eps aku buatnya 1000+ kata biar kalian seneng hehe, jangan lupa like ya, beb:*


__ADS_2