
Kanya pun menurut apa kata ibunya, ia pulang menaiki taksi. Saat sampai dirumah, "Kanya, makan dulu", suruh wanita itu. "Kanya gak laper, Bu. Kanya gak nafsu makan", Kanya menolak untuk makan, ia memilih untuk memandangi foto dirinya dengan sang ayah, dengan bulir perbulir air mata yang terus berjatuhan.
______________________________
"Ini saya, istri dari pria yang kamu tabrak. Jam 2 siang hari ini, temui saya di kafe xxxxx."
Pesan tersebut masuk ke handphone Mama Zahra. Mama Zahra yang merasa handphonenya berbunyi tanda adanya notifikasi, langsung membuka handphonenya. Mama Zahra membaca pesan tersebut mengernyitkan dahinya. Lalu Mama Zahra membalas pesan tersebut.
"Oke."
"Sekarang jam 1 siang, berarti 1 jam lagi aku ke kafe itu", Mama Zahra terus memikirkan apa maksud wanita itu ingin bertemu dengannya.
Waktu sudah menunjukan jam 2 siang, waktunya Mama Zahra berangkat. Mobil Mama Zahra sudah berada dihalaman rumahnya karena tadi Mang Udin--- Satpam sekaligus pembantu dirumah Mama Zahra.
Saat Mama Zahra menuruni anak tangga, terdapat Zaen yang sedang menonton tv sambil memakan pizza. Zaen yang mendengar ada pantulan high heels dengan keramik rumahnya langsung menoleh ke belakang dan mendapati Mamanya sedang berjalan menuju tempat dimana ia duduki.
__ADS_1
"Mama mau kemana lagi? Mama mau ke pesta temen Mama? Kok baju nya belum diganti?", sekali lagi Zaen menanya pada Mamanya layaknya seorang reporter.
"Mama mau ke kafe xxxxx", jawab Mama Zahra sambil memasukan handphonenya ke dalam tas yang ia bawa.
"Loh? Mama mau ngapain?",
"Mau ketemu seseorang lah",
Zaen yang mendengar jawaban Mamanya hanya membentukan bibirnya berbentuk O. Karena sudah biasa bagi Zaen jika Mamanya ke kafe sendirian.
Mama Zahra melihat ada seorang wanita yang ia kenali duduk dimeja kafe paling pojok. Mama Zahra pun mendatangi meja tersebut.
"Rupanya kamu sudah datang", sapa wanita itu dengan menyunggingkan senyuman khasnya. Lalu wanita itu melambaikan tangannya dan memesankan minuman untuk Mama Zahra.
"Duduk dulu dong, tenang aja", ucap wanita itu lagi dengan wajah yang masih menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
"Kok muka dia gak ada sedih-sedihnya gitu ya? Suaminya meninggal kok masih bisa senyum-senyum. Aneh. Apa mungkin dia isitri yang gak dianggap? Makanya pas suaminya meninggal dia malah keliatan bahagia", batin Mama Zahra. Lalu Mama Zahra mendudukan bokongnya dikursi yang menghadap ke arah wanita itu.
Lalu pelayan datang dan memberikan pesanan yang wanita itu pesan untuk Mama Zahra.
"Diminum dulu. Santai aja", kata wanita itu, masih dengan senyumannya. Mama Zahra menyeruput minumannya hingga setengah gelas sambik melihat ke arah wanita yang masih bertahan dengan senyumannya itu.
"Pake nawarin minum segala lagi ni orang. Lumayanlah, pereda haus. Kan perjalanan dari rumah ke sini cukup jauh. Tapi ini cewek ga pegel apa ya senyum terus? Jadi merinding aku", batin Mama Zahra lagi.
"Nama saya Nadia", ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Zahra", Mama Zahra menjawab sambil membalas uluran tangan itu. "Apa tujuan kamu ajak saya datang kesini?", tanya Mama Zahra tanpa basa-basi.
"Saya ingin meminta tanggung jawab kamu karena telah menabrak suami saya". Ucap wanita itu. Saat mengucapkan kalimat itu, senyuman yang ia sanjungkan pada Mama Zahra tiba-tiba menghilang, dan diganti dengan mukanya yang serius.
"Kamu ingin meminta apa?", tanya Mama Zahra.
__ADS_1
"Saya ingin anak kamu menikah dengan anak saya".