
"Gak bisa, Dew". Kalimat itulah yang keluar dari mukut Zaen dengan menundukan kepalanya.
Dewi menjerit histeris, dia melempar semua yang ada dihadapannya pada Zaen. Saat ia melempar handphonenya, handphone itu terkena pelipis Zaen dan pelipisnya langsung mengeluarkan darah segar.
Zaen hanya diam. Ia tahu, rasa sakit dipelipisnya tidak sebanding dengan rasa sakit Dewi. Zaen memeluk Dewi untuk menenangkannya. Akhirnya Dewi menangis dipelukan Zaen hingga kemeja yang Zaen pakai basah karena air mata Dewi.
"Maafin aku, Dew. Pernikahan itu hanya satu tahun, bertahanlah. Aku gak akan ninggalin kamu. Hati aku cuma buat kamu", ucap Zaen seraya mencium kening Dewi. Dewi akhirnya bisa tenang, walaupun wajahnya masih terus-menerus basah karena air mata.
"Kita pulang, ya", ucap Zaen dengan menggenggam tangan Dewi. Dewi membalas dengan anggukan.
Saat sudah sampai dirumah Dewi, Dewi mengambil belanjaannya dan langsung pergi meninggalkan Zaen tanpa berucap apapun.
Zaen hanya bisa diam. Lalu ia melanjutkan perjalanannya ke rumah.
Saat sudah sampai rumah, Mama Zahra menyorotinya dengan mata tajam bagai elang sedang mengincar mangsanya.
"Dari mana aja kamu?! Itu lagi, kenapa berdarah?! Hah?! Jam berapa ini?!!", Mama Zahra kesal dengan Zaen karena sekarang sudah jam 10.25, sementara Zaen baru saja datang.
"Maaf, Ma. Tadi aku sama Dewi dulu", jawab Zaen menunduk.
__ADS_1
"Itu kenapa", tanya Mama Zahra sambil menunjukkan jarinya ke kepala Zaen.
"Ngga apa-apa, Ma",
"Pasti sama cewek matre itu, kan?! Bener-bener ya itu orang! Udah matre, nyelakain anak orang lagi!". Zaen yang merasa pusing langsung melewati Mamanya. Saat melewati Mamanya, mata Zaen tertuju pada perempuan yang ada disamping Mamanya.
Zaen terus berjalan, sementara kepalanya masih melihat perempuan itu. Ya, itu adalah Kanya. Saking terlalu fokusnya Zaen melihat Kanya, ia menabrak Mang Udin yang juga sedang berjalan lawan arah dengan Zaen. Hasilnya Zaen pun menabrak Mang Udin.
"Aduh, hati-hati, Den. Untung sama Mang Udin, gimana kalau sama tembok", ucal Mang Udin sambil mengusap kepalanya yang beradu dengan kepala Zaen.
"Maaf, Mang. Gak sengaja", lalu Zaen pun pergi ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya dikasur, menatap langit-langit.
Flashback On
"Ah, udah waktunya berangkat", Kanya berangkat ke rumah Mama Zahra dengan membawa alamat yang diberikan Nadia dan ia menulisnya pada kertas. Ia menaiki taksi dan menunjukan alamatnya pada sopir taksi tersebut, lalu taksi dijalankan pada alamat itu.
"Sudah sampai, Neng", ucap Bapak taksi.
"Oh, iya. Makasih ya, Pak", Kanya memberikan uang dan keluar dari mobil taksi.
__ADS_1
"Wah, rumahnya besar banget, bagus", lalu Kanya menekan bel yang ada disamping pagar rumah itu. Dan keluarlah Mang Udin.
"Cari siapa, Neng?", tanya Mang Udin.
"Saya mau cari pemilik rumah ini. Apa ada?"
"Ada, Neng. Mari masuk, saya antar", ucap Mang Udin sambil membukakan pagar rumah.
Saat sudah sampai rumah Mama Zahra, Kanya disuruh Mang Udin untuk menunggu diruang tamu. Dan Mang Udin memanggil Mama Zahra. Tak lama kemudian turunlah seorang wanita paruh baya dari tangga.
Kanya langsung berdiri membungkukkan badannya dan salam pada Mama Zahra. Mama Zahra pun tersenyum. Dan menyuruh Kanya untuk duduk kembali.
"Siapa nama kamu?", tanya Mama Zahra.
"Saya Kanya, nyonya", jawab Zahra dengan tersenyum.
"Gak usah panggil nyonya, kan nanti saya jadi mamanya kamu juga", ucap Mama Zahra sambil membenarkan anak rambut Kanya. Mama Zahra suka dengan Kanya, karena sejak pertama bertemu, Kanya langsung salam kepadanya. Menurut Mama Zahra, itu sangat sopan. Mama Zahra suka sekali pada orang yang sopan.
Lalu Mama Zahra berbincang-bincang kesana kemari dengan Kanya. Sampai Zaen datang.
__ADS_1
Flashback Off