Cerita Kanya

Cerita Kanya
Jangan panggil aku tuan


__ADS_3

"Kamu liat kan? Tadi Zaen ada luka dikepala. Sekarang kamu obatin, sana. Ini obatnya", suruh Mama Zahra pada Kanya sambil memberikan obatnya.


"Kamarnya disebelah mana, nyonya? Eh maksudnya, Ma", ucap Kanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamarnya disebelah ruang tv, nanti ada kamar yang pintunya ada stiker Spiderman'nya". Kanya mengangguk dan pergi menuju kamar Zaen.


Saat sudah sampai, Kanya melihat pintu berwarna coklat itu. Ia menarik napas dalam-dalam, ia sudah menilap jari-jarinya ke dalam untuk mengetuk pintu dengan muka tertunduk, dan…


"Kok, gak ada bunyi tok tok tok, sih?", ucap Kanya dalam hati.


"Maksud dia apa mengetuk dadaku? Dia pikir aku pintu?", ucap Zaen dalam hati. Namun Zaen tidak berbicara apa-apa dan tidak berpindah tempat.


Saat Kanya mengangkat kepalanya, betapa kagetnya dia melihat Zaen sudah ada dihadapannya. Kamya langsung menurunkan tangannya yang masih terangkat.


"Ma-maaf, tuan. Saya tidak bermaksud untuk tidak sopan", ucap Kanya menunduk.


"Apa yang kamu lakukan disini?", tanya Zaen. Lalu mata Zaen tertuju pada kotak obat yang sedang dipegang oleh Kanya.


"Sa-saya disuruh nyonya untuk mngobati luka anda", jawab Kanya.

__ADS_1


"Ternyata dia mau mengobati lukaku", batin Zaen.


"Masuklah", lalu Zaen kembali masuk kamarnya.


"Ma-maaf, tuan. Saya tidak berani masuk kamar laki-laki selain kamar Bapak", Kanya menolak untuk masuk kamar Zaen.


"Ya sudah, kita diruang tv saja". Kanya membalas dengan anggukan.


"Benar-benar polos. Apa dia tidak pernah berpacaran?", gumam Zaen.


Sekarang Kanya dan Zaen sudah duduk disofa yang sama dan berhadap-hadapan. Jantung Kanya berdebar cepat karena ia tidak pernah berhadapan dengan laki-laki sedekat ini selain dengan ayahnya.


Lalu Kanya meneteskan obat merah pada kapas, dan mengoleskannya pada pelipis Zaen dengan hati-hati.


"Aw", pekik Zaen.


"Maaf, tuan",


"Kenapa kamu minta maaf? Bukannya obat merah itu emang buat luka perih?", tanya Zaen saat mendengar Kanya meminta maaf seolah obat merah yang menyebabkan lukanya perih itu adalah salah dirinya sendiri.

__ADS_1


Kanya tidak menjawab apa-apa lagi, dan Kanya menempelkan plester pada pelipis Zaen.


"Tadaa, sudah jadi", ucap Kanya dengan spontan sambil membereskan kotak obat itu. Zaen yang mendengar ucapan Kanya menarik bibirnya hingga membentuk senyuman.


"Kamu pikir aku apa? Sudah jadi?", tanya Zaen dengan senyum jailnya. Kanya mendengar pertanyaan Zaen tersadar akan apa yang ia ucapkan tadi.


"Ma-maaf, tuan. Bukan itu maksud saya", dalam hati, Kanya mengutuk dirinya sendiri karena betapa bodohnya dia membiarkan mulutnya berkata seperti itu.


Kanya melihat muka Zaen, betapa terkejutnya ia mendapati muka Zaen masih dengan senyuman jailnya. Kanya langsung beranjak pergi dari sofa. Namun tangannya dipegang oleh Zaen.


"Jangan panggil aku tuan. Panggil aku Zaen saja", Kanya menganggukan kepalanya dan berlari kecil untuk mengembalikan kotak obat tersebut ke tempatnya lagi. Tepatnya untuk menjauh dari senyuman mautnya Zaen.


"Jantungku kenapa?", gumam Kanya sambil memegang dadanya.


Zaen tertawa kecil melihat tingkah Kanya. "Senyumku terlalu manis ya sampai dia lari gitu", gumam Zaen.


"Zaen. Kanya. Ayo kita ke butik sekarang", suara Mama Zahra menggema ke seluruh ruangan.


Kanya yang sudah menunggu dipintu depan disusul dengan Zaen dan Mama Zahra.

__ADS_1


"Zaen, pakai mobil kamu, ya", ucap Mama Zahra tersenyum namun melototkan matanya ke arah Zaen. Zaen yang melihat itu langsung mengerti.


"I-iya, Ma", jawab Zaen.


__ADS_2