
"Apa yang mereka lakukan?"
"Setega itu Zaen melakukan itu dibelakangku?"
"Aku ini apa?"
Kanya berkecamuk dengan pikirannya. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi apa yang ia lihat. Haruskan ia menangis? Tidak-tidak. Harus kuat.
Senyuman licik bertampang pada wajah Dewi. Kanya buru-buru menepis air mata yang sempat berjatuhan. Ia memungut kembali tas yang sempat ia jatuhkan. 'Aku kuat'.
Kanya menunjukan senyuman yang sempat sirna itu. Ia tersenyum pada Zaen. Namun, matanya tidak bisa membohongi Zaen. Zaen melihat ada guratan luka di mata istrinya itu. Walaupun istrinya tersenyum lebar.
Apa yang istrinya lakukan malah membuat Zaen tambah terluka. Ia mengutuk dirinya karna telah menyakiti Kanya sampai membuatnya menjatuhkan air mata.
Leo pun tak kalah histeris. Ia masih berdiam diri di tempatnya dengan muka yang tentunya tidak bisa dijelaskan. Seolah ia merasakan apa yang Zaen rasakan.
"Ehmm, ini, aku bawain makan siang buat kamu". Kanya berbicara dengan suara gemetar karna menahan tangis.
"Say…", saat Zaen ingin melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Dewi bergelayut manja di lengan Zaen. Ya, di hadapan istrinya.
"Makasih, ya. Ayo, sayang. Kita makan. Aku suapin, ya", ucap Dewi seraya mengambil tas yang Kanya pegang itu.
"Keluar!!", teriak Zaen. "Berani-beraninya kamu!!", sambungnya sambil menunjukan jari telunjuknya ke muka Dewi.
Kanya terhenyak, baru kali ini ia melihat suaminya semarah itu.
"Udah-udah, gapapa". Kanya menenangkan Zaen dengan mengelus-elus lengannya.
"Heh! Berani, ya, kamu pegang Zaen!", ucap Dewi sambil menepis keras tangan Kanya yang sedang mengusap lengan Zaen itu.
"Kamu siapa? Pacarnya? Siapanya? Hah?". Kesabaran Kanya sudah habis, dan ini waktunya.
__ADS_1
"Berani lo?! Gue pacarnya!",
"Kasian, deh, sampe ngaku-ngaku gitu. Udah tau suami orang, masih aja di deketin. Cuma cewek murahan dan ga punya harga diri yang masih deket-deket suami orang, apalagi sampe ngaku-ngaku", sindir Kanya. Kanya berbicara sambil menekankan kata 'ga punya harga diri'.
Dewi yang mendengar Kanya berbicara seperti itu tidak terima. Saat ia hendak menampar Kanya, Leo yang asalnya hanya menonton saja tiba-tiba langsung mencengkram keras lengan Dewi dan menyeretnya keluar dari kantor Zaen. Sementara pasangan suami istri itu hanya berdiam diri menyaksikan apa yang mereka lihat. Seolah Leo menjadi penyelamat bagi mereka berdua.
Saat Leo sudah keluar dari ruangan Zaen, tinggal'lah Zaen dan Kanya. Kanya menundukan kepalanya dengan masih menahan tangisan. Lalu Zaen memegang tangan Kanya dan menggiringnya ke sofa yang ada di ruangan Zaen.
Zaen mengangkat dagu Kanya dan terlihatlah genangan air di mata Kanya yang sudah sial untuk di deraikan. Zaen langsung membenamkan tubuh Kanya ke dada bidangnya. Dan di situlah Kanya menumpahkan air mata yang dari tadi sempat ia tahan-tahan.
"Maaf, aku udah nyakitin kamu. Tapi aku ga ngebales apa yang Dewi lakuin ke aku. Percaya sama aku. Aku minta maaf. Aku ", ucap Zaen sambil mencium puncak kepala Kanya.
Namun, Kanya malah memperkeras tangisannya. Hingga ia sadar, jas yang di pakau suaminya sudah basah kemana-mana karna air matanya. Ia buru-buru menghempaskan pelukan itu.
Zaen pun terkejut. "Ka-kamu jangan tinggalin aku. Aku minta maaf, ya, sama kamu. Jangan pergi. Aku mohon", ucap Zaen memelas.
"Bukan. Itu, jas kamu jadi basah", jawab Kanya sambil menunjuk jas yang di pakai Zaen.
"Gapapa, sayang. Aku minta maaf, ya. Udah, jangan nangis lagi", ucap Zaen sambil mengusap air mata Kanya dengan ibu jarinya.
"Iya. Maaf, ya. Jas kamu jadi basah",
"Iyaaa".
***
Di luar kantor, Leo menghempas keras tubuh Dewi dari ambang pintu. Hingga Dewi hampir tersungkur, namun kakinya masih kuat untuk menahan.
"Gue ga akan pernah ngebiarin lo ngerusak rumah tangga Zaen!", teriak Leo pada Dewi hingga para karyawan di kantor itu bergerumul untuk menyaksikan apa yang terjadi.
"Berani, ya, lo!", teriak Dewi tak kalah. "Gue bakal ngerebut apa yang seharusnya jadi milik gue! Zaen juga cintanya sama gue!", lanjutnya.
__ADS_1
"Lo salah. Zaen dan Kanya udah ngelakuin apa yanh seharusnya suami istri lakuin. Mereka udah menikmati tubuhnya masing-masing", ucap Leo sambil tersenyum licik.
Dewi terjengit mendengar apa yang Leo katakan. "Ga! Ga mungkin!", teriak Dewk frustasi.
"Bawa dia dari sini, dan jangan pernah biarin dia masuk!", perintah Leo pada satpam-satpam yang ada disana. Lalu satpam itu mengangguk mengerti dan langsung mengusir Dewi.
Saat Leo berbalik ke belakang, ia di kagetkan dengan berpasang-pasang mata yang sedang menonton dirinya.
"Ngapain kalian disini?! Mau di usir juga?", tanya Leo pada karyawan yang sedang bergerumul itu.
Lalu karyawan yang tadinya berkumpul langsung membubarkan diri dan melanjutkan kerjaannya. Leo yang mengerti bahwa bosnya sedang dengan istrinya, ia pun berinisiatif untuk mencari makan, karna sudah jam makan siang.
***
Kembali ke Zaen dan Kanya.
Saat ini Kanya sedang menyuapi Zaen setelah kejadian menegangkan tadi.
"Udah ini, kita ke mall, ya", ucap Zaen sambil memegang tangan Kanya.
"Loh, kan, kerjaan kamu belum beres. Itu masih banyak", jawab Kanya sambil menunjuk ke berkas-berkas yang menumpuk.
"Di kerjain sama Leo aja",
"Jangan, ya, kamu ninggalin kerjaan kamu cuma gara-gara aku", seru Kanya.
"Ngga, sayang. Aku cuma pengen lagi sama kamu",
"Yaudah, tapi kerjain itu dulu",
"Iyaaaa", jawabnya.
__ADS_1