Cerita Kanya

Cerita Kanya
Indah


__ADS_3

Termasuk Indah. Ia mempunyai rencana akan merebut Zaen dari Kanya. Tidak peduli siapa Kanya, yang jelas niatnya adalah menjadikan Zaen sebagai miliknya.


Indah pernah mengajak Mama Nadia untuk bekerja sama memisahkan Kanya dan Zaen. Namun, ajakan Indah di tolak mentah-mentah oleh Mama Nadia. 'Biarkan Kanya dengan Zaen. Awas kamu berani macam-macam', begitu ancamnya.


Tetapi ancaman Mamanya itu tidak membuat Indah goyah akan niatnya untuk merebut Zaen. Ia akan berusaha sendiri, walau ia tahu itu akan sulit. Indah menganggap bahwa dengan merebut Zaen dari Kanya adalah membalas perbuatan Kanya pada dirinya.


Ya, Indah berpikir bahwa Kanya'lah yang membuat hidupnya menderita seperti ini.


***


"Sayang", ucap Zaen seraya melingkarkan tangan kekarnya di pinggang istrinya yang sedang menyirami bunga. Memang, sekarang-sekarang Kanya mempunyai aktivitas baru, yaitu menyirami bunga. Dan Zaen tidak masalah akan itu, selama itu tidak membuat Kanya kenapa-napa.


"Hmm", jawab Kanya.


Zaen dengan nikmatnya menciumi leher Kanya yang menurutnya mempunyai harum yang sangat menenangkan, dan tentunya berbeda dari yang lain.


"Ish, kamu ini, loh. Kebiasaan, aku lagi siram bunga jadi susah, kan", cebik Kanya sambil menaruh gembor di meja tepat sebelah dirinya.


Lalu Kanya membalikan badannya menghadap Zaen yang sedang menatapnya dengan tatapan sayu. Eh … Kanya rasa ini bukan tatapan sayu, tapi .. tatapan mengantuk.

__ADS_1


Kanya melihat jam dinding, dan pantas saja Zaen seperti ini. Ini adalah waktu biasa Zaen untuk tidur. Selain menyirami bunga, Kanya juga mempunyai aktivitas baru lainnya. Seperti menemani Zaen tidur siang saat pulang dari kantor - bahkan Zaen belakangan ini sering telat masuk kantor karna ia pulang ke rumah untuk tidur di temani sang istri - dan menemani Zaen sarapan juga makan siang.


Namun, hari ini adalah hari libur. Zaen memilih berdiam diri di rumah untuk bermanja-manja dengan istrinya.


"Kamu ngantuk?" Kanya bertanya sambil menangkup kedua sisi wajah Zaen sehingga membuat dirinya lebih leluasa untuk menatap wajah suaminya.


Zaen menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Kenapa sih bibirnya di monyong-monyongin gitu? Mau jadi kaya bebek?" ledek Kanya seraya menuntun Zaen berjalan menuju kamar mereka.


"Gak, aku mau cium kamu" ucap Zaen sebelum ia menyerang Kanya. Dan pertempuran pun di mulai.


***


"Buat apa? Tumben,"


"Ngga, buat nambah kontak aja,"


"Ooh, Mama kirim, ya,"

__ADS_1


"Iya."


Lalu Mama Nadia mengirim nomor telpon Zaen pada Indah tampa berpikir macam-macam, karna pada saat itu Mama Nadia sedang melihat-lihat barang di olshop. Jadi pikiran Mama Nadia hanya tertuju pada layar handphonenya.


Setelah di kirim, Indah langsung meng-save nomor telpon Zaen. Dan langsung menelponnya.


Zaen yang kala itu sedang merebahkan tubuhnya masih tanpa busana bersama Kanya setelah pergerumulan yang mereka lakukan di siang bolong ini tiba-tiba mendapat panggilan nomor tidak di kenal.


Zaen melihat layar handphone-nya lalu ia melempar handphone-nya tak tentu arah karna menurutnya itu sangat mengganggu, atau lebih tepatnya, tidak penting.


"Loh? Kenapa di lempar, sayang?" tanya Kanya. "Angkat dulu aja, siapa tau penting," lanjutnya.


"Males. Hari ini aku pengen ngabisin waktu sama kamu aja," jawabnya.


"Ya, udah. Aku angkat, ya". Tanpa jawaban dari Zaen, Kanya langsung mengambil handphone Zaen yang tadi sempat di lemparkan dan mengangkatnya.


Belum Kanya berucap sepatah kata pun, Indah langsung menyosor.


"Zaen, haiii! Ini aku, Indah. Zaen hari ini weekend, kan. Kamu gak kemana-mana, kan? Anter aku shopping, yuk. Please".

__ADS_1


__ADS_2