Cerita Kanya

Cerita Kanya
Keadaan sekarang


__ADS_3

Seminggu pun berlalu. Kanya melewati hari-harinya dengan mual, dan pastinya tidak pernah lepas dari perhatian sang suami. Berulang kali Zaen membujuk, merayu, bahkan memohon kepada Kanya agar ingin di periksa. Namun Kanya yang merasa bahwa dirinya sedang masuk angin biasa menolaknya dengan alasan tidak apa-apa.


Dan seperti saat ini, Zaen lagi-lagi mendesah karna gagal membujuk Kanya untuk di periksa. Terkadang, alih-alih Zaen meminta Kanya untuk di periksa karna dirinya merasa khawatir, ia malah mendapat omelan dari istrinya.


Ia merasa bahwa pikirannya untuk membujuk Kanya bagaimana pun lagi sudah buntu.


Eh … tunggu dulu, tiba-tiba ada sesuatu yang terbesit di pikirannya. Johan. Ya, teman seperjuangannya yang sekarang telah menggapai cita-citanya sebagai dokter, dan hampir … terlupakan.


Zaen menepuk jidatnya. Mengapa tidak dari kemarin ia mengingat Johan. Bukan kemarin. Tapi sudah hampir 1 bulan ia membujuk Kanya untuk ke rumah sakit, dan baru sekarang ia mengingat temannya itu. "Bodohnya diriku", pikirnya.


Tanpa ragu-ragu, Zaen mengetik nama Johan di layar handphonenya. Setelah mendapat, ia langsung menelponnya. Dan terdapat suara yang tak asing di sebrang sana.

__ADS_1


"Siapa?", tanya Johan.


"Siapa-siapa! Ini gue, tega banget lo lupain temen sendiri", ketus Zaen.


"Ohh, elo, En. Iya lo juga lagian baru nelpon sekarang. Ada apa nih?",


"Lo bisa ke rumah gue sekarang gak?", tanya Zaen to the point.


Zaen menghela napas berat. Lagi-lagi ia harus menunggu untuk mengetahui apa yang sedang di alami istrinya tersebut. "Ya udah. Gue tunggu, ya."


"Oke, bro." Dan telpon antar dua sahabat itu pun terputus. Zaen pun memejamkan mata seraya menyandarkan punggungnya pada sofa yang ia tempati.

__ADS_1


***


Saat ini Mama Nadia -- sekarang kita panggilnya sama sebutan 'Mama' ya gais, karna udah jadi Mamanya Zaen juga -- tinggal di komplek elite dengan fasilitas yang sangat mahal. Ya, itu semua tentu dari uang yang Mama Zahra berikan tiap bulannya, yang tentu pula jumlahnya pasti tidak sedikit, apalagi untuk Mama Zahra yang sudah tajir melintir. Memberi Mama Nadia uang tiap bulannya tidak akan mengurangi harta yang ia miliki.


Kanya pun di buat heran dengan apa yang Mamanya miliki. 'Kok bisa ya, Mama punya semua dengan secepat ini', pikir Kanya. Kanya pun tentunya pernah bertanya mendapat uang dari mana Mamanya sampai bisa membeli rumah yang begitu mewah, mobil mahal, dan barang di setiap sudut rumah yang tentunya sangat jauh berbeda sekali dengan rumahnya yang dulu.


Tetapi saat Kanya bertanya Mamanya menjawab, 'Udah, deh, ya. Mama punya semua ini dari hasil kerja Mama, dan kamu gak perlu tau Mama kerja apa dan dimana. Kamu kalo pengen apa-apa minta ke Mama aja ya, sayang. Jangan pernah nanya ini semua dari mana lagi'. Begitu jawabnya, setelah mendapat jawaban itu pun Kanya tidak berani bertanya lagi.


Kakak tirinya pun yang bernama Indah sekarang sudah pindah kesini karna melihat Mamanya sudah mempunyai segalanya.


Sikap Indah pada Kanya pun kadang baik, dan kadang pula jahat. Tapi sekarang Indah selalu menatap Kanya dengan tatapan tidak suka, karna Kanya menikah lebih dulu daripada dirinya. Dan ia di buat makin panas setelah mengetahui suami Kanya -- Zaen -- yaitu orang kaya, dan memiliki paras yang membuat kaum hawa tergila-gila di buatnya.

__ADS_1


Termasuk Indah.


__ADS_2