
Sudah 2 bulan sejak dia menjadi mahasiswi di kampus ini. Sedikit perubahan mulai nampak pada dirinya.
Sekarang dia sudah mulai bisa berdaptasi dengan baik dengan lingkungannya. Sikapnya yang over dingin itu sudah sedikit berubah.
Sekarang dia sudah menemukan sahabat baru, yang ia kenal sejak kejadian perkelahiannya dengan seniornya.
___
FLASHBACK
Hari itu Rosa sedang berjalan menuju ke kantin, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat adegan yang tidak pantas menurutnya.
Seorang gadis manis, sedang di bully habis-habisan oleh geng seniornya, hanya karena penampilannya yang dibawah rata-rata. Rosa yang melihat kejadian itu, tentu saja tidak akan tinggal diam.
"Woy!" teriaknya sambil menghampiri tkp.
"Beraninya main keroyokan! Kalau lu memang hebat lawan gw! bukan melawan gadis kek dia! Muka kek gini aja sok jago! Cih." Ia langsung mendorong salah satu personil dari geng seniornya itu.
"Auu..." wanita itu meringis kesakitan karena dorongan Rosa yang cukup kuat padanya. Dia adalah Cassandra, gadis cantik, kaya, namun memiliki sifat yang angkuh, karena ayahnya pemilik saham terbesar kedua di kampus itu, tentu saja yang pertama adalah Tuan Alkarna.
Dia adalah primadona di kampus itu, tidak satupun orang yang bisa melawannya. Tapi semua itu hanya dulu, tepat sebelum Rosa belum masuk ke dalam kampus itu.
"Berani-beraninya lu dorong gw!" setelah berdiri dia langsung maju dan melototkan matanya ke arah Rosa.
"Cih, baru gw dorong gitu aja lu udah kesakitan! Gimana kalau lebih?!" ucapnya dengan nada penuh penekanan, dan senyum menyeringai.
Merasa tidak terima dengan perlakuan Rosa, Cassandra langsung berniat untuk membalasnya. Tapi, bukan Rosa namanya kalau dia tidak bisa memenangkan pertandingan ini.
Setelah pertengkaran yang begitu sengit , Rosa langsung meninggalkan Tkp dan menuju ke kantin.
"Tunggu" suara itu menahan langkah kakinya "Terimakasih karena sudah belain gw" dengan nafas ngos-ngosan Clara menghampiri Rosa.
Rosa hanya tersenyum simpul, lalu berlalu pergi.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja dia melihat gadis yang tadi ia tolong, sedang berjalan kaki. Meihat cuaca yang sedang buruk, Rosa akhirnya memberhentikan motornya tepat di dekat gadis itu.
Belum sempat mengatakan apa-apa, Clara sudah duduk manis dibelakangnya. Rosa hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap gadis itu. Lalu ia melajukan motornya ke sebuah rumah mewah kediaman Tuan Alkarna.
Perasaan Clara langsung campur aduk, ia kaget tapi juga takjub melihat pemandangan indah itu.
"OMG..istana siapa ini" Clara berusaha keras menelan salivanya
"Kuy, kita masuk"
"Ini rumah lu Ros? Pantesan aja motor lu kayak gitu. Rumah lu aja kek gini!" Clara terus nyerocos tanpa henti. Sedangkan Rosa hanya menggelengkan kepalanya.
"Btw,, ngapain lu bawa gw kemari sih, gw kan mau pulang"
"Gw mau ngambil hoodie dulu. Lu tunggu disini, gw mau ke kamar dulu" Ia langsung menuju kamarnya dan meninggaljan Calra yang ada di ruang tamu.
Sejauh ini Rosa tidak pernah mengajak temannya ke rumah mewahnya itu, bahkan olive sekalipun. Tapi entah setan apa yang sedang merasukinya, sampai akhirnya dia mau membawa orang lain memasuki kediaman Tuan Alkarna yang super mewah dan megah itu.
Clara terus memperhatikan sudut rumah itu dengan seksama, begitu banyak pelayan yang beralalu lalang, yang membuatnya semakin takjub. Lalu tanpa sengaja ia melihat sebuah bingkai besar, ya tentu saja foto Rosa dan kedua orang tuanya. Clara yang berasal dari keluarga menengah bawah itu, tentu saja tidak mengenal Tuan Alkarna karena dia tidak memiliki Tv dirumahnya.
"Nih, lu pakai" Ia menyodorkan Hoodie miliknya ke Clara, tentu saja harga hoodie itu dangat mehol gaess.
"Gak usah, gw pakai baju ini aja. Gw nyaman kok dengan penampilan gw yang kek gini." berusaha menolak pemberian Rosa, karena meskipun Clara dari keluarga yang tidak mampu, tetap saja dia tidak terbiasa meminta-minta ataupun menerima pemberian orang lain.
"Bawel lu ah, sekarang lagi mendung. Mungkin bentar lagi hujan, lu pakai itu aja! Setidaknya nanti lu gak bakal kedinginan di jalan." Rosa melempar hoodie itu ke arah Clara dan segera berjalan ke luar.
Dengan sigap, Clara langsung menangkapnya dan kemudian mengikuti langkah kaki Rosa.
Di tengah perjalanan, Clara langsung menanyakan bingkai foto yang tadi dia lihat.
"Ros, lu anak tunggal ya?"
"Hmmm"
__ADS_1
"Eh buju busyet, kalau ada yang nanya itu di jawab. Bukan hem ham hum!"
"Ia gw anak tunggal, lu tau dari mana?"
"Tadi gw lihat foto lu bareng orang tua lu."
"What???"
Apa sekarang dia tau kalau gw anak pengusaha kaya itu. Rosa
"Lu ngapa sih, biasa aja kelles." memukul helm rosa "Au sakit" pekiknya.
"Eh Rosa, pantesan aja lu cantik yah. Emak bapak lu aja cakepnya gak ketulungan! Emak lu model ya? bodynya itu loh, bikin iri" tanpa henti gadis itu terus berbicara.
"Iya, dulu nyokap gw model.Tapi setelah dia menikah, dia lebih sering nemenin bokap gw di perusahaan" karena berpikir bahwa Clara telah mengetahui semuanya, jadi dia tidak menyembunyikannya apa-apa lagi dari gadis itu.
"Widih, bokap lu pengusaha? pantesan aja rumahnya bagus kek gitu" clara masih terus nyerocos tanpa hentinya.
"Lah, memangnya lu gak kenal sama dia?" Rosa merasa penasaran, masa ia ada yang gak kenal dengan perusaha sukses seperti ayahnya.
"Lah emang bapak lu artis apa? emang bapak lu pahlawan yang harus gw kenal!"
"Hahaha, iya gak sih"
Daddy, ternyata ada yang belum kenal dengan daddy. hahahaha. Rosa
"Eh rumah lu dimana sih?"
"Di jalan XX"
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah kecil, kumu, tentu beda jauh dengan istana milik Tuan Alkarna, ternyata rumah kecil itu milik Clara. Seketika Rosa merasa respect dengan gadis itu. Matanya mulai berkaca-kaca melihat pemandangan itu.
Terimakasih ya Allah atas rezeki yang engkau berikan kepada keluargaku. Rosa
__ADS_1
Sejak saat itu, Rosa dan Clara menjadi dekat, bahkan sekarang mereka menjadi sahabat.