CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU

CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU
Pengantin Baru Rasa Ambyar


__ADS_3

Gedebuk!


Ghibran, terpental jauh. Tubuhnya ambruk di atas lantai. Rasa sakit, sekarang telah ia rasakan di seluruh badan. Jelas, karena kenyataannya lantai tempatnya mendarat itu, tidaklah se-empuk kasur yang ada di rumahnya.


Matanya menatap lurus ke arah orang yang masih terlilit oleh selimut yang menghangatkan. Tatapannya menajam, membuat situasi menjadi mencekam.


Bukan hanya wajahnya yang memerah, bahkan kini tangannya sudah mengepal kuat. Giginya ikut bergemeretak, juga rahang miliknya telah mengeras.


"Rosaaa ..!" teriakannya memenuhi seluruh penjuru ruangan. Mungkin orang yang ada di luar kamar hotel ini, juga bisa mendengarnya.


"Apaan sih? Please deh, suara kalau udah cempreng gitu, gak usah pakai teriak-teriak. Enak, kagak. Bikin budeg, iyya." Ia membuka matanya, malas.


Bukannya merasa bersalah, wanita itu malah menjawab dengan tak kalah ketus. Matanya kembali tertutup, tanpa berniat menunggu bagaimana reaksi laki-laki yang tadi meneriaki namanya.


Ghibran, yang diperlakukan begitu pun, jelas merasa tak terima. Memangnya dia hantu? Ada, tapi dianggap!


Laki-laki itu, menyingkap selimut yang menutupi badan Rosa. Meski sebenarnya tulang-tulangnya merasa sakit, dan dia juga masih sangat mengantuk. Namun, semuanya seakan lenyap bersama rasa sakit yang menggerogoti tulang-tulangnya. Diam? Hei, ini masalah harga diri. Tentu saja, sebagai seorang laki-laki, Ghibran tak boleh terlihat lemah, terlebih di depan istri sendiri. Yang ada, nanti dia malah jadi suami takut istri, jika tidak membalas!


"Paan sih, Woy! Gw ngantuk," tanya wanita itu. Yang dipaksa bangun oleh suaminya.


"Apa, lo bilang? Ngantuk? Hello, cewek bar-bar! Tubuh gw sakit karena, lo!?" Dia menjentikkan tangannya di jidat, Rosa.


"Auu ... Ghibran!" Matanya melotot, bak singa yang sudah siap menerkam mangsanya.


"Apa, gak terima? Yaudah sana lapor sama orang tua lo!" Tangannya bersidekap di depan dada. Seperti sudah siap memberikan perlawanan pada pihak lawan.


"Makanya, jangan cuma ijazah doang yang diandelin. Otak juga harus berisi! Lu gak tau apa, tentang Pasal 1 UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT? Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga," cerocos Rosa, yang disambut oleh Ghibran.


"Apa, lo bilang? Gw gak punya otak?" Senyum menyeringai, menghiasi wajahnya. "Dasar manja. Baru gw gituin, tapi lu udah main lapor? Bagaimana kalau gw, ngelakuin yang le—"


"Ngelakuin apa, hah!?" sela Rosa.


Suara kicauan burung dan alarm, kini saling bersautan. Seakan menjadi penonton dari perdebatan dua insan, yang kemarin malam telah resmi menyandang status sebagai suami-istri. Saling mengikat janji suci diantara keduanya, di depan penghulu, orang tua, sahabat dan teman, serta sanak saudara lainnya.


***


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.30. Rosa dan Ghibran, sudah berada di kediaman Tuan Alkarna.


"Mom, Oca lapar," katanya saat sampai di dapur.


"Kalau lapar, ya makan, Sayang. Bukan bilang sama, Mommy."

__ADS_1


"Dih, Mom. Gak lucu!"


"Wong Mommy, gak ngelawak. Suami kamu mana?"


"Mas Ghibran, lagi tidur, Mom. Orang malas mah, ya gitu Mo—"


"Siang, Mommy." Ghibran muncul dengan tiba-tiba, memotong ucapan istrinya.


'Dih ... Mommy, gw juga. Dasar tukang cari muka,' bathin Rosa.


"Eh, Ghibran. Udah bangun, Nak?"


"Eh anu, Mom. Ghibran, emang gak tidur," jawab Ghibran.


"Dih ... bo'ong, Mom. Orang tadi Oca, liat dia merem. Udah gitu ngorok lagi," tukas Rosa, tidak terima dengan jawaban Ghibran.


"Bo'ong tuh, Mom. Mana ada aku ngorok!" protes Ghibran.


"Udah ... udah ih. Kalian itu kayak anak kecil aja deh," lerai mama Rosa.


"Mas Ghibran tuh, gak mau ngalah!" sinis Rosa pada suaminya.


"Oca, Ghibran. Cukup! Sana, kalian makan dulu," titah Bu Lauren—mama Rosa.


Selesai makan, Rosa dan Ghibran kembali ke kamar mereka berdua.


Suasana begitu hening, tak ada suara. Pasangan suami-istri itu, juga sama-sama sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Ghibran, menoleh ke arah istrinya. Dia tersenyum sinis, melihat Rosa yang tengah serius dengan game-nya.


"Dasar cewek aneh! Bukannya belajar masak, malah main game," gumam Ghibran lirih, yang masih bisa di dengar oleh Rosa.


"Apa lu bilang? Hello! Lu belum pernah aja, nyobain masakan gw. Gw jamin, sekali lu nyoba. Pasti bakalan nambah terus," jawab Rosa, percaya diri.


Ghibran terkekeh. "Masakan lu, bikin nagih? Hallah, yang ada bikin perut gw mules."


Bugh ...!


Rosa melempar bantal ke arah Ghibran, dan berhasil membuat laki-laki itu meringis.


"Dasar cewek bar-bar. Dikit-dikit main fisik," ketus Ghibran.

__ADS_1


Rosa yang tidak terima dengan ucapan Ghibran, mendadak merasa panas. Tangannya mengepal, wajahnya memerah.


"Ghib—"


Tok ... tok ... tok ....


"Nona muda, ini saya," ucap seseorang dari luar kamar, yang membuat Rosa terpaksa harus menghentikan niatnya untuk memberikan pelajaran kepada Ghibran.


"Iya, Bi. Ada apa?" Rosa berjalan membukakan pintu untuk Bi Inah. Iya, wanita yang ada di luar sana adalah Bi Inah.


"Ada yang ingin bertemu dengan, Nona muda."


"Siapa, Bi? Clara?" tanya Rosa, penasaran. Selama ini, tidak ada yang pernah datang mencari-nya di rumah itu kecuali Clara. Karena cuma Clara-lah, yang mengetahui rumahnya. Ah ... tapi itu hanya dulu, sebelum dia menikah.


"Bukan, Non. Dia laki-laki," jelas Bi Inah.


"Siapa sih, Bi?"


'Laki-laki? Siapa?" bathin Rosa.


"Ohhh ... ternyata cewek bar-bar kek dia, punya teman juga. Gw kira, dia cuma punya lawan doang,' bathin Ghibran.


Rosa, bergegas menemui tamu yang dimaksud oleh Bi Inah. Meninggalkan Ghibran, yang juga ikut kepo. Siapa sebenarnya sosok, yang ingin bertemu dengan Rosa—istrinya.


Rosa, terdiam. Netranya menangkap, siluet seseorang yang sudah lama tidak pernah ia lihat langsung.


Matanya berbinar, hatinya berbunga-bunga. Dia seperti ingin melayang. Rosa, memang tidak pernah merasakan jatuh cinta. Dia juga tidak pernah tertarik dengan laki-laki mana pun selama ini. Namun, kali ini sepertinya berbeda.


Dia teramat bahagia, melihat laki-laki itu. "Kak Rifal" teriaknya.


Ya, dia adalah Rifal Aditama. Sepupu, dari mamanya. Sudah belasan tahun mereka tidak bertemu hanya sesekali berbicara di ponsel atau melakukan panggilan video di aplikasi warna hijau itu, karena Rifal tinggal di Singapore. Dia ikut bersama kedua orang tuanya.


Hubungan Rifal dan Rosa, memang sangat baik. Mereka sudah seperti saudara kandung. Dulu, setiap kali Rosa ada masalah. Rifal, yang selalu membela dan melindunginya.


Rosa, berlari. Memeluk erat tubuh laki-laki itu. Ini sudah menjadi kebiasaan untuknya. Dia tidak perlu malu, atau tidak enak. Toh, Rifal sudah seperti kakaknya.


"Dasar Genit!" cibir seseorang.


Rupanya diam-diam, ada yang memperhatikan Rosa dan Rifal.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2