CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU

CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU
Hari yang menyebalkan 01


__ADS_3

Pagi itu, Rosa sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya. Ia berangkat menggunakan sepeda kesayangannya. Ia tidak memakai mobil atau yang semacamnya, bukan karena dilarang orang tuanya, tapi karena dia tidak mau.


Seperti biasanya ia tampak begitu bahagia, dengan headphone yang selalu menempel di telinganya, membuatnya terlihat begitu menikmati paginya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba ada mobil dari belakang yang terlihat sangat buru-buru hingga menyenggol sedikit, bagian sepeda Rosa. Seketika itu Rosa, langsung terjatuh dan mobil itupun berhenti.


"Auhh ... woyyy! Kalau gak bisa nyetir, gak usah bawa mobil," teriak Rosa dengan begitu kesal sambil menggedor-gedor pintu mobil yang menabraknya itu.


"Maaf nona. Tadi saya sudah membunyikan klaksonnya, tapi anda tidak minggir-minggir juga," ucap supir itu setelah membuka jendela mobilnya.


"Sudah salah, tapi malah nyalahin orang lagi. Dasar manusia!!" ucap Rosa lagi dengan wajah yang masih memerah karena geram.


"Maafkan saya nona, saya akan membawa anda ke rumah sakit," ucap supir itu lagi.


"Gak usah, saya bisa sendiri," jawab rosa dengan wajahnya sangarnya. Lalu ia bergegas meninggalkan mobil itu dan berjalan menuju sepedanya.


"Nona, tunggu!" teriak supir itu, sontak membuat orang yang di dalam mobil itu terbangun. Yang tidak lain adalah Ghibran.


"Ada apa, Pak?" tanya Ghibran sambil mengerjap-ngerjapkan matanya lalu melihat ke sekeliling.


"Loh, kok berhenti di sini pak? Kan sekolahnya masih jauh," imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Anu den, itu tadi ... saya tidak sengaja menyenggol sepeda nona itu, jawab supirnya ragu.


"Astaga, Pak. Apa dia terluka? Kenapa Bapak tidak membawanya ke rumah sakit??" ucap Ghibran lagi, ia belum tau kalau gadis yang ia tabrak adalah Rosa.


"Tadi sudah saya ajak ke rumah sakit, Den, tapi dia tidak mau," jawab supirnya lagi.


"Ya sudah, Pak. Kejar wanita itu, lagian dia belum jauh," pintah Ghibran.


"Baik, Den," jawab supir itu.


Supir Ghibran pun, melajukan mobilnya dan mencoba mengejar Rosa. Ia membunyikan klakson dengan tujuan agar Rosa bisa mendengarkannya, lalu berhenti. Namun sayang, karena headphone yang menempel di telinganya, lagi dan lagi ia tidak bisa mendengarkan suara klakson mobil itu. Terpaksa supir itu menghadang sepeda milik Rosa.


"Pak, Ghibran tidak turun yah. Bapak saja yang mengajak nona itu, dan yah berikan ini jika dia tidak mau ikut. Biar nanti dia bisa mengobati lukanya sendiri," ucap Ghibran sambil menyodorkan beberapa lembar uang kepad supirnya.


"Baik, Den," jawab supirnya.


Lalu supir itu turun dan menghampiri Rosa, yang dari tadi memperhatikannya.


"Non, ikutlah dengan saya. Saya akan membawa Non, ke rumah sakit," ajak supir itu.

__ADS_1


"Tidak usah, saya bisa sendiri," jawab Rosa dengan nada tinggi.


"Yasudah, tapi setidaknya Non, terima ini sebagai permintaan maaf saya dan tuan saya," ucap supir itu sambil memberikan uang yang tadi kepada Rosa.


Rosa yang melihat itu, seketika wajahnya langsung memerah dan kesal.


"Apakah sebagian orang kaya seperti ini? Pantas saja banyak orang yang tidak suka dengan orang kaya," gumam Rosa dalam hati.


"Tidak usah, saya punya uang sendiri," tegas rosa, berusaha menahan emosinya.


"Tidak Non, terimalah. Setidaknya ini sebagai permintaan maaf saya," ucap supir itu lagi.


"Saya bilang tidak, ya tidak usah. Saya tidak butuh uang kalian, saya bisa mengobati uang kalian. Simpan saja uang kalian untuk korban kalian selanjutnya," ucap Rosa dengan begitu geram dan juga sorot mata yang tajam.


Rosa hendak melajukan sepedanya, namun sepertinya dia melupakan sesuatu.


"Oh-ya, bilang sama tuanmu. Bahwa tidak semua orang membutuhkan uangnya," tera Rosa kepada supir itu. Supir itu hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan Rosa.


"Argghh ... sialan! Kenapa hariku harus seburuk ini, sih? Coba saja aku tidak mau ke sekolah, sudah ku temui dan kuberi pelajaran pada orang itu," gerutu Rosa sambil mengayunkan sepeda miliknya.

__ADS_1


__ADS_2