
"Lepaskan tanganku!" Rosa terus memberontak berusaha melepaskan genggaman tangan Ghibran dari tangannya.
Tapi Ghibran tidak menggubris perkataan Rosa, akhirnya Rosa menginjak kakinya. Dan sontak, Ghibran langsung melepaskan genggamannya.
"Auu, lu cewek atau bukan sih?" pekiknya merasa kesakitan.
"Gw peringatin sama lu, jangan kurang ajar sama gw!"
"Siapa yang kurang ajar? Lu calon itsri gw! Gw berhak atas diri lu!" ucapnya sambil terus melangkah mendekati Rosa, sedangkan orang yang di dekati mundur pelan-pelan ke belakang.
"Lu mau apa, Hah? Jangan mendekat, gw bilang jangan mendekat!" Rosa meninggikan nada suaranya tapi lagi dan lagi Ghibran tidak memperdulikannya. Hingga akhirnya kaki dia tersandung sesuatu, tapi dengan sigap Ghibran langsung menolongnya. "Lepasin gw!" teriaknya, ketika dia berada dalam dekapan Ghibran yang setengah membungkuk.
Rosa terus memberontak, hinggaa....
BUGHHH....
"Auu, dasar pria bodoh!" geramnya, ketika Ghibran melepaskan dia dan akhirnya dia terjatuh di lantai.
"Bukannya lu yang minta untuk dilepasin?" jawab Ghibran dengan nada sinis.
"Tapi gak gini juga bodoh!" protesnya dan langsung berusaha berdiri kembali seperti semula. "Dasar bodoh, bukannya bantuin gw berdiri tapi malah bengong!" Rosa terus menggerutu kesal, dan berlalu meninggalkan Ghibran.
"Dasar wanita aneh!" gumam Ghibran, tapi masih bisa di dengar oleh Rosa.
Sejak hari itu, merek tidak pernah bertemu lagi. Tapi hari ini, tentu mereka akan menghabiskan waktu seharian bersama.
__ADS_1
***
Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya, bahkan sesekali memukul jidatnya untuk berhenti memikirkan kejadian malam itu. Ayah dan mamanya, merasa bingung dengan kelakuan putrinya.
"Oca, ada apa, Nak?" pekik mamanya yang berhasil membuatnya menghentikan aktivitasnya.
"Ah tidak, Mom."
"Yasudah, apa kamu sudah menghubungi Clara?"
"Sudah, Mom. Katanya dia akan datang, kok."
Saat ini, mobil telah memasuki pekarangan Hotel. Tuan Alkarna memberhentikan mobilnya, lalu memanggil salah satu security hotel itu untuk memarkirkan mobilnya.
"Selamat pagi Tuan" ucap mereka serentak, sembari menundukan kepala mereka. Dan dibalas dengan senyuman oleh Tuan Alkarna dan keluarganya.
Bukankah dia dokter itu?? CEO, di rumah sakit XX. Ah, atau mungkin ini hanya pemikiranku saja. Tapi sungguh wajah mereka sama persis. Menejer Hotel
Mereka berjalan, memasuki Hotel megah itu. Semua mata memandangi mereka, lebih tepatnya memandangi Rosa! Mereka tertegun melihat gadis itu, gadis yang hanya mereka kenal sebagai dokter terbaik di kota mereka. Ternyata adalah anak dari Pengusaha terkaya di Negeri ini. Mereka selalu berpikir, bahwa mungkin anak Tuan Alkarna bersekolah dan menetap di luar negeri, makanya tidak pernah menampakkan dirinya. Tapi rupanya, mereka salah. Merekalah yang tidak mengenali wajah Rosa!
Karyawan laki-laki hotel itu tidak henti-hentinya memuji kecantikan Rosa, sedangkan karyawan wanita, banyak yang merasa irih dengannya. Bagaimana tidak? selain memiliki paras yang elok dipandang, keadaan ekonominya juga sangat-sangat sempurna, dan sebentar lagi dia akan menjadi istri dari seorang pengusaha muda yang juga memiliki wajah yang sangat tampan. Benar-benar sangat beruntung, pikir mereka.
***
Mereka berhenti di sebuah meja khusus, yang telah di persiapkan oleh karyawan hotel itu.
__ADS_1
Saku celana Rosa bergetar, rupanya sedang ada panggilan masuk. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari siapa.
**Panggilan Video Masuk
Clara Cerewet😡**
[Ros, gw minta maaf. Gw gak bisa datang ke hotel sekarang, ada pasien yang harus gw tangani] yang di seberang sana langsung tancap gas, ketika Rosa menjawab panggilan videonya.
[Yasudah, gak papa]
[Okey, gw titip salam sama Om dan Tante ya.] ucapnya dengan manja, sambil memanyunkan bibirnya.
[Iya bawel! Udah sono lanjut kerja, gw juga bosen liat muka lu.]
[Hilih, bilang aja lu rindu] Rosa langsung mematikan ponselnya tanpa membalas perkataan Clara. Karena sudah males mendengarkan ocehan-ocehan dari sahabatnya itu. Dia tau, bahwa Clara tidak akan mau berhenti berdebat dengan dirinya. Jadi lebih baik jika dia yang mengalah, daripada harus membuang-buang waktunya.
"Yang waras ngalah!" gumamnya, dan langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ya, dia tidak terbiasa membawa dompet, ataupun slingbag atau yang sejenisnya, kecuali jika dia ke rumah sakit. Selebihnya dia hanya akan membawa kartu ATM, dan beberapa lembar uang tunai. Itupun dia selipkan di pengaman ponselnya. Sedangkan STNK dan surat-surat lainnya, ia selalu menyimpannya di bagasi motor.
"Om, Tante" ucap laki-laki itu dengan ramah, serta langsung mencium punggung tangan kedua orang tua Rosa.
Hari ini, dia tidak datang sendirian. Tampak seorang laki-laki yang berdiri disampingnya, dengan postur tubuh yang tinggi dan sedikit berisi, yang juga memiliki wajah yang tidak kalah tampan dari Ghibran.
__ADS_1