CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU

CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU
H-1 (Part Three)


__ADS_3

Ya, yang datang bersama Ghibran adalah Yhosi, sekertarisnya. Pria itu menundukan kepala kepada Tuan Alkarna dan keluarganya.


"Sejak kapan kau datang, Nak?" Tuan Alkarna membuka suara, orang yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Baru saja, Om" jawab Ghibran


Cih, kenapa harus ada si songong itu lagi, sih?!


"Yasudah, sebaiknya kamu dan Rosa memantau pekerjaan mereka semua." titah Tuan Alkarna.


"Tidak usah, Dad. Oca, bisa memantaunya sendiri." tolaknya "Ohya, Mom. Katanya Clara tidak bisa datang hari ini, sedang ada pasien yang harus ia tangani."


Clara?? Apa Clara yang Nona Rosa maksud adalah Ara yang selama ini aku cari. Ara yang sangat aku rindukan. Tapi tidak mungkin, Ara kan ingin menjadi seorang pramugari bukan dokter. Bahkan seingatku, dia sangat takut dengan jarum suntik. Oh Tuhan, dimana dirinya.Dimana Araku? Aku sungguh merindukannya. Yhosi


"Yasudah sayang, gak papa"


"Hmm, Rosa kesana dulu ya Mom, Dad" Rosa sepertinya berpura-pura tidak memperdulikan keberadaan Ghibran.


"Pergilah bersama Ghibran, Nak"


"Tidak perlu, Dad. Rosa bisa sendiri! Biarkan dia melakukan yang lain saja!"


"Oca" Tuan Alkarna menajamkan pandangannya kepada putrinya, yang artinya dia harus menuruti keinginannya.

__ADS_1


"Benar kata Rosa, Om. Lagian Ghibran, mau bicara sesuatu hal dengan Om."


"Yasudah, baiklah" ucap Tuan Alkarna dengan nada kecewa. Bagaimana tidak? Maksud dia yang sebenarnya kenapa mengajak Rosa datang ke hotel ini, bukan benar-benar untuk memantau pekerjaan karyawan WO. Tapi untuk mendekatkan putrinya dan calon menantunya itu, agar mereka berdua tidak terlalu canggung. Tuan Alkarna tahu, bahwa putrinya belum memiliki perasaan apapun kepada Ghibran, lebih tepatnya belum menyadari perasaannya!


***


Ketika Rosa sedang sibuk berkeliling, mengawasi pekerjaan mereka semua. Tanpa sengaja Rosa mendengarkan percakapan Ayah dan Calon suaminya itu. Juga Mamanya dan Yhosi yang berada di tengah-tengah mereka, yang hanya menjadi sebagai pendengar saja.


"Om, sebenarnya Ghibran cuma mau bilang bahwa akan ada beberapa wartawan yang datang pada hari H nanti. Dan acaranya akan ditayangkan secara live di televisi."


"Bagus dong, Nak! Om, sangat suka mendengarkan kabar itu."


"Dad, Rosa gak mau!" teriaknya, dan berjalan menuju Ayah dan Ghibran berdiri.


"Daddy, tapi Rosa gak mau jika orang-orang di luar sana mengenal Rosa hanya sebagai anak dari Tuan Alkarna, dan juga istri dari Tuan Ghibran!" emosi Rosa benar-benar memuncak. Setelah mengatakan semua itu, ia langsung meninggalkan orang-orang yang ada di sana dan berjalan menuju ke lobby hotel, tanpa mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ayahnya lagi.


Perinsip Rosa masih sama seperti dulu, ia ingin dikenal karena bakatnya bukan karena nama belakangnya. Jadi tidak heran jika dia merasa marah, apalagi saat mendengar bahwa pernikahannya akan tayang secara live di televisi.


Rosa mengambil ponselnya lalu memesan taxi online.


"Dengan nona Rosa?" ucap driver taxi online itu, yang hanya diangguki oleh Rosa.


Ia sudah memasuki pekarangan rumahnya, setelah memasuki rumah utama, dia langsung berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.

__ADS_1


***


Sementara di hotel itu, semua orang masih tampak kebingungan. Dan di wajah Tuan Alkarna tergores sebuah kekhawatiran. Entah apa yang akan terjadi besok? Bagaimana jika Rosa sampai tidak ingin menikah! Dia tau benar bagaimana putrinya itu. Jika dia bilang tidak, maka selamanya jawabannya tetaplah tidak.


"Dad, jangan khawatir. Nanti Mommy yang akan bicara sama dia." ucap istrinya yang berhasil membuat hatinya sedikit tenang.


"Om, Tante. Apa sebaiknya Ghibran larang saja mereka semua untuk datang?" tanya Ghibran, masih dengan ekspresi wajah yang kebingungan.


"Tidak perlu, Nak. Biar nanti tante yang bujuk Oca. Kamu tenang saja." jawabnya dengan yakin.


"Terimakasih, Tan."


"Hey, sudahlah. Untuk apa kamu berterimakasih, toh ini sudah kewajiban tante, Nak." Ghibran hanya tersenyum mendengarkan perkataan Mama Rosa.


"Sepertinya Om sama Tante harus pulang sekarang, Bran. Apa kamu tidak apa-apa, kalau kami meninggalkanmu disini?"


"Ah, tidak apa-apa kok, Om. Lagian ada Yhosi kok, yang menemani Ghibran."


"Yasudah baiklah, Om pamit dulu."


"Hati-hati, Om Tante." Ghibran mencium punggung telapak tangan orang tua Rosa.


Tuan Alkarna dan istrinya berjalan keluar menuju loby. Dan langsung memasuki mobil mereka, yang sudah ada sejak tadi. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, menembus jalanan melewati setiap pepohonan.

__ADS_1


__ADS_2