
Kicauan burung dan sinar mentari menyelinap masuk melewati sela-sela jendela, mengganggu tidur nyenyak pria yang berada dibalik selimut di sebuah kamar Apartemen mewah, ya siapa lagi kalau bukan Ghibran. Pria itu mulai membuka matanya, melihat ke setiap sudut ruangan, lalu menatap ke arah jendela. Lalu dia berjalan, dan meraih sesuatu di nakas, dan menatap lekat benda yang sekarang tengah ia pegang.
"Ah sial, bagaimana aku bisa bangun sesiang ini. Bahkan aku tidak mendengarkan bunyi alarm sialan ini" dengan wajah memerah, ia melempar benda itu ke ranjang ukuran king size. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi.
Selang beberapa saat, sekarang dia sudah siap dengan jas kantornya dan mengambil ponselnya, lalu mengecek benda itu. Ada begitu banyak pesan masuk disana.
"Tuan, apa anda sudah siap? anda tidak lupakan kalau pagi ini kita ada pertemuan dengan klient dari luar negeri." begitulah isi pesan yang masuk di ponselnya.
Pria itu tampak berpikir, berusaha mengingat sesuatu "Ah sial" lalu mengambil kunci mobilnya, dan bergegas keluar menuju parkiran.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, lalu tiba-tiba di tengah jalan ia harus menghentikan mobilnya karena melihat lampu jalan berwarna merah.
"Ah sial, kenapa harus seperti ini. Rasanya aku ingin sekali membeli jalanan ini." begitulah horang kaya, suka seenaknya kalau berbicara.
Beberap saat kemudian, warna merah telah berubah menjadi hijau, hati pria itupun sudah sedikit membaik daripada tadi. Dan sekarang ia melajukan mobilnya sampai akhirnya sampai di sebuah gedung tinggi.
__ADS_1
Ia memasuki gedung itu, setiap orang yang melihatnya langsung menundukkan kepalanya. Tapi dia hanya bersikap acuh dengan keadaan di sekitarnya.
Setelah memasuki ruangannya tampaklah sebuah pria sedang menunggunya disana, rupanya orang itu sudah datang dari tadi.
"Selamat pagi tuan" orang tersenyum dan membungkukkan badannya.
"Apa kau sudah sampai di kantor dari tadi?" langsung menuju ke kursi singgah sananya.
"Ia tuan, maaf tadi saya tidak menjemput anda"
"Sekitar jam 10 pagi tuan"
"Hmm, baiklah"
"Tuan, nona angel tadi datang mencari anda"
__ADS_1
"Angel? untuk apa?
Bukankah kami bertemu semalam.
Ghibran berusaha mengingat kejadian semalam "Ah sial" Dia setengah berteriak, wajahnya tampak begitu kesal.
"Ada apa tuan?" Apa semuanya baik-baik saja" seketika wajah Yoshi tampak begitu pucat, ia berusaha menghapus keluh di wajahnya.
"Hey, apa kau pikir aku akan memakanmu? kenapa kau tampak begitu pucat? apa kau sedang sakit" pertanyaan datang bertubi-tubi dari mulut Ghibran.
"Ti-tidak tuan" saya hanya kaget mendengar anda berteriak.
Ghibran terkekeh mendengarkan jawaban sekertarisnya itu "Apa kau punya riwayat penyakit jantung, hah?" Dia masih terkekeh melihat tingkah sekertarisnya, yang sebenarnya tidak lucu, dia saja yang lebay. Yoshi hanya tersenyum malu-malu, sudah seperti anak gadis yang baru di rayu oleh pasangannya saja.
Sedangkan Ghibran kembali mengingat kejadian semalam, yang membuatnya harus bangun kesiangan. Ya, semalam dia pergi menemani Angel konser. Lebih tepatnya menemani kekasihnya konser. Eh maksudnya menemani kekasih tak dicintainya konser.
__ADS_1
Sudah satu tahun ia menjalin kasih dengan Angel, namun tidak sedikitpun ia merasakan sesuatu dengan gadis itu, mungkin ia sudah mati rasa sejak penolakan teman SMAnya dulu. Lalu bagaimana mereka bisa pacaran jika dia tidak menyukai perasaan pada wanita itu?? Ya, tentu saja demi kepentingan bisnisnya. Bukan, demi membuat namanya semakin dikenal oleh banyak orang. Sejak kepulangannya dua tahun yang lalu ke tanah air, kini dia sudah menyandang gelar sebagai PENGUSAHA MUDA TERNAMA setanah air. Pasalnya keahliannya dalam dunia bisnis, sangatlah patut untuk dipuji. Sudah banyak penghargaan yang ia dapatkan, tapi rasanya itu belum cukup baginya. Bukankah sesuatu yang WAH jika para awak media tahu bahwa pengusaha muda itu tengah menjalin hubungan dengan penyanyi terkenal seperti Angel? Itulah alasan Ghibran menjadikan Angel sebagai kekasihnya. Meski tanpa cinta tapi setidaknya perusahannya semakin terkenal.