CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU

CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU
Lamaran Dadakan?‽


__ADS_3

Malam telah tiba, Ghibran dan keluarganya telah bersiap untuk ke rumah Rosa. Mereka menggunakan mobil mereka masing-masing. Ghibran berangkat lebih awal, sedangkan orang tuanya akan menyusul. Jarak antara rumah Ghibran dan Rosa lumayan jauh, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan untuk sampai di rumah Rosa.


***


Sekarang Ghibran sudah sampai di rumah Rosa, dia berjalan bersama bi ina menuju ruang tamu. Disana sudah ada Rosa yang sibuk dengan laptopnya, dengan earphone yang selalu setia di telinganya. Ghibran duduk di depan Rosa, tapi tampaknya Rosa tidak memperdulikan kehadirannya. Rosa masih tetap fokus dengan laptop yang ada di depannya.


Cih, bagaimana Papa bisa berfikir untuk menjodohkanku dengan preman ini. Lihatlah bahkan saat diam pun dia masih tetap begitu menakutkan.


"Lihat aku sayang, yang sudah berjuang.


Menunggumu datang, menjemputmu pulang"


tiba-tiba Rosa menyanyi dengan suara yang sangat keras, sehingga membuat Ghibran yang ada di depannya kaget dan terjungkal.


Eh buju busyet, gak liat apa ada orang dimari. Kuping gw sakit woy dengerin suara lu. Ghibran


"Jika bukan kepadamu aku tidak tahu lagi


Pada siapa rindu ini 'kan kuberi


Pada siapa rindu ini 'kan kuberi, oh


Lihat aku sayang, yang sudah berjuang


Menunggumu datang, menjemputmu pulang


Ingat selalu sayang, hatiku kau genggam


Aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini"


Ghibran semakin geram melihat Rosa yang terus menyanyi dengan suaranya yang begitu menyebalkan di telinganya. Dan dia semakin menutup telinganya dengan kedua tangannya.


"Lihat aku sayang, yang sudah berjuang


Menunggumu datang, menjemputmu pulang


Ingat selalu sayang, hatiku kau genggam


Aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini" Lagi dan lagi, Rosa terus mengulang-ulang lagunya, Ghibran yang sudah geram dari tadi sudah tidak bisa menahan emosinya. Akhirnya Ghibran melempar Rosa dengan bantal sofa. Rosa tidak memperdulikan Ghibran, dia malah terus bernyanyi dan semakin mengeraskan suaranya.


"Sudah datang dari tadi, Nak?" Suara itu mengagetkan Rosa, dan dia langsung menoleh ke arah suara itu.


"Gak kok om, Ghibran baru sampai" Ghibran berdiri menyambut kedatangan Tuan Alkarna, tapi matanya tidak berhenti memperhatikan Rosa.


Ah sial, apa tadi Daddy dengerin gw nyanyi kek gitu yah. Mampus gw, mending gw pamit ke atas aja kali yak?


"Eh, Momm, Daddy kalian udah turun? Yaudah, Rosa pamit ke kamar ya" membereskan berkas-berkasnya


"Iya sayang" Rosa berlalu meninggalkan Ayah dan Ibunya, serta Ghibran yang ada di ruang tamu, dengan perasaan yang was-was.


Dasar si songong, kalau mau nyari muka sama Daddy gak usah ke rumah gw. Mending ke kantornya aja, emang dia pikir gw bakal naksir kalau liat dia terus apa?Yang ada gw eneg! Rosa


Ghibran belum mengalihkan pandangannya dari Rosa, dia terus memperhatikan Rosa dari mulai menaiki anak tangga sampai bayangannya hilang dari pandangan mata Ghibran.


Preman sialan! ternyata dia ngerjain gw. Arghhh, Mama, gw gak mau nikah sama dia.

__ADS_1


"Ehhem, Ghibran sendirian aja ?" Pertanyaan Tuan Alkarna langsung membuyarkan lamunan Ghibran yang telah melambung kemana-mana. Dia sepertinya sadar, bahwa laki-laki itu memperhatikan putrinya dari tadi.


"Eh, gak om. Papa sama Mama masih di jalan" Ghibran menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, seperti orang yang sedang ke pergok mencuri. [Iyya, mencuri-curi pandang dari Rosa 🤣]


Setelah beberapa lama mereka menunggu, akhirnya orang tua Ghibran sudah datang. Mereka lalu berbincang-bincang, sehingga hampir lupa maksud dan tujuannya datang kesana.


"Rosa kemana Mas? kok aku gak liat dia?" Tanya Pak Willyam pada Tuan Alkarna.


"Oh dia barusan naik ke kamar, mau aku panggilin?"


"Hehehe, gak usah Mas. Nanti malah ganggu dia tidur"


"Ah gak kok, tenang aja. Kamu kek sama siapa aja Will" Tuan Alkarna tersenyum ramah kepada sahabatnya itu.


"Biar Mommy, yang panggil Dad" Tuan Alkarna tersenyum mendengarkan perkataan istrinya.


***


Sementara di kamar, Rosa sedang sibuk bermain game di gadgetnya.


"Masuk" ucap Rosa, yang mendengarkan ketukan pintu dari luar "Eh Mom, ada apa?"


"Sayang, ada om Willy. Dia nyariin kamu."


"What?? kok nyariin Rosa Mom?


"Gak tau sayang, turun gih. Yang lain udah pada nunggu, Ghibran juga" Mama menggoda Rosa, sehingga membuat wajah putrinya menjadi memerah. Bukan karena malu, tapi karena kesal saat mendengar nama Ghibran!


"Aish Mommy, apa-apaan sih. Ogah bet liat muka si songong" Rosa mengerucutkan bibirnya dan membuat Mamanya terkekeh.


"Selamat malam Om, Tante" Sapa Rosa sok manis pada orang tua Ghibran.


"Malam nak, kamu gak nyapa Ghibran?" Goda papa Ghibran, tapi Rosa hanya tersenyum garing.


"Malam, Ghibran"


Rosa sudah mau duduk di dekat Mamanya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengarkan suara pak Willyam. "Nak Rosa duduk di sana, ya!" ucapnya sambil menunjuk ke sofa dekat Ghibran, Rosa pun mengiyakannya karena tidak mau orang lain salah paham tentang dirinya.


OMG!! Papa apa-apan sih. Ya kali, anaknya disuruh duduk deketan sama Preman kek dia. Ini juga ngapain duduk disini, kalau ngefans bilang! Nanti gw kasih tanda tangan gratis!!!


"Rosa sama Ghibran katanya pernah satu sekolahan ya?"


"Hah?Masa! Kayaknya om salah deh!"


"Beneran, tanya aja sama Ghibran" Rosa melihat ke arah Ghibran.


Rosa belum sempat Bertanya, Ghibran sudah membuka suara "MUHAMMAD GHIBRAN FAUZAN"


Cowok yang pernah lu tolak mentah-mentah. Cowok yang pernah lu bilang manja!


ingin sekali Ghibran mengatakan itu, tapi dia tidak mau kalau orang tuanya sampai tahu.


"OHHHH" Jawab Rosa cuek, seakan tidak peduli dengan hal itu.


Dasar Premannnnn!!!! dia gak merasa bersalah sama sekali apa?. Bahkan dia masih bisa bersikap dingin seperti itu! Ghibran

__ADS_1


Setelah medengarkan putranya dan putri sahabatnya berbicara, Pak Willyam kembali membuka suara


"Begini Mas, maksud kedatangan kami semua adalah untuk melamar Rosa untuk putra kami, Ghibran." ucap Papa Ghibran tanpa banyak basa-basi, karena sudah tidak sabar mendengarkan jawaban Rosa.


"Wah, alhamdulillah. Kabar yang sangat mengemberikan Will."


"Apppppaaaaa????Menikah?? Sama dia???" ucap Rosa, setengah berteriak dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya. Tapi pak Willyam hanya tersenyum melihat reaksi Rosa, lalu dia melirik ke arah Ghibran. Seperti sedang menyuruhnya untuk menjelaskan maksud dari perkataannya, tapi Ghibran hanya menyengir malu. Ah entahlah, apakah dia malu atau memang tidak niat untuk melamar Rosa.


"Iyya nak, om mau kamu dan Ghibran menikah. Usia kalian sudah tidak remaja, sudah saatnya untuk membinah rumah tangga. Bagaimana menurut kamu mas, mbak?"


"Semua keputusan saya serahkan kepada Rosa, Will" Tuan Alkarna sebenarnya sangat ingin mengatakan iya, karena dia sudah mengenal baik keluarga Pak Willyam yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Terlebih hubungannya dengan Ghibran juga sudah sangat baik, dan dia tau betul bagaimana potensi Ghibran dalam dunia bisnis. Sudah pasti dia bisa meneruskan perusahaan miliknya nanti. Tapi, mau gimana lagi? Dia tidak mau memaksakan kehendaknya kepada putrinya itu, karena bagaimana pun juga Rosa-lah, yang nantinya akan menjalani rumah tangga itu. Dia tidak mau mengambil keputusan dengan egois, yang nanti mengakibatkan putrinya menjadi terkekang.


"Bagaimana sayang?" tanya mama Rosa, dan menatap wajah anaknya dengan penuh harap.


"Ti-ti-ti" belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi Rosa sudah kembali berfikir dan melihat ke arah kedua orang tuanya. Dia tahu dengan pasti, bahwa ayahnya sangat ingin menerima lamaran ini. Karena ini adalah lamaran dari sahabatnya, tapi tetap saja keputusan ada di tangannya. Sudah banyak lamaran yang Rosa tolak, dan ayahnya sama sekali tidak pernah protes dengan hal itu. Tapi jika kali ini dia menolak lagi, apakah ayahnya tetap tidak akan protes dan kecewa kepada dia???


Rosa terus berfikir dan mempertimbangkan semuanya, dia tidak mau salah dalam mengambil melangkah. Sejenak dia terdiam dan tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Iyya, tentang perkataan Riyan seminggu yang lalu. Saat dia kalah dalam balapan, Riyan melamarnya sebagai hadiah taruhan mereka berdua. Tapi Rosa malah menolak lamaran Ghibran dengan alasan dia telah dijodohkan oleh ayahnya. Padahal sebenarnya dia hanya tidak mau menikah dengan Ghibran yang sudah dia anggap sahabat. Hal yang gila menurut Rosa, jika menikah/jatuh cinta dengan sahabat sendiri. Ah tapi, dia mana tahu tentang cinta sih??!


"Oca, bagaimana nak?" Tuan Alkarna bertanya dan akhirnya membuyarkan lamunan anaknya itu.


Arghhh, semoga saja dia menolak! Tapi kalau sampai dia nolak gw, apa kata semua orang nantinya? Mau ditaroh dimana muka gw? Cowok sekeren gw, yang menjadi idaman para wanita, masa iya ditolak sama cewek bar-bar kayak dia??!


Rosa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, dan kembali melihat satu-persatu orang yang ada disitu "Tidak mungkin Rosa menolak Dad" jawabnya dengan senyuman palsu, dan membuat semua orang yang ada disitu bernafas lega, dan bahagia terutama Ghibran. Iya, Ghibran bahagia bukan karena dia akan menikah dengan Rosa. Tapi karena Rosa tidak menolaknya, dan membuat harga dirinya sebagai PENGUSAHA MUDA TERNAMA hilang.


Apa??Apa gw sudah gilak, sampai harus ngomong kayak gitu??Arghh, Riyan! ini semua gara-gara Lu! Eh songong, lu gak usah kevedeann.!


"Alhamdulillah" ucap orang tua mereka, serentak.


"Bagaimana kalau besok, Rosa sama Ghibran fitting baju sekalian foto Preweed ?" tanya Mama Ghibran, meminta pendapat kepada semua orang.


"What??" ucap Ghibran dan Rosa bersamaan, dan membuat orang-orang yang ada disana tertawa.


"Ih, kalian biasa aja kali" Goda Mama Rosa.


"Hemm, benar kata Mama kamu, Son. Sebaiknya besok kamu ajak Rosa mengurus persiapan pernikahan kalian.


"Iya benar banget" tambah Tuan Alkarna, menguatkan keinginan kedua orang tua Ghibran.


"Bukankah, niat baik harus disegerakan. Yekan, Mas??" mereka terus mendesak Rosa dan Ghibran.


"Baiklah, besok pagi aku jemput Rosa" ucap Ghibran terpaksa, dan membuat Rosa melotot ke arahnya.


Hey, hey, preman kenapa melihatku seperti itu?? ini semua keinginan orang tuamu dan Papa Mama gw. Jadi salahin mereka, bukan malah melotot ke gw, lu kira gw berani melihat mata lu, Hah?!


"Untuk hari H-nya bagaimana kalau minggu depan?"


"Daddy" Rosa cemberut mendengarkan ucapan ayahnya.


"Sayang, yang dikatakan om Willy itu benar. Niat baik harus disegerakan" Rosa hanya mendengus kesal mendengarkan jawaban ayahnya.


Ah sialan, kenapa malah kayak gini sih. Semua ini gara-gara si songong sialan ini. Rosa


"Wah ide yang bagus Mas, iyakan Ma?" Pak Willyam melihat ke arah istrinya, dan melingkarkan tangan di perutnya. Dan istrinya hanya tersenyum, dan mengangguk tanda setuju.


Ide gila apa lagi yang kalian rencanakan, Hah??! Apa semua ini gak cukup untuk menyiksa kami. Arghh, gw gak mau nikah muda, apalagi sama preman kek gini. Boro-boro malam pertama, pasti tiap hari gw di tinju mulu. Ghibran

__ADS_1


Setelah Pak Willyam dan keluarganya meninggalkan kediaman Tuan Alkarna, semua orang bergegas menuju kamar mereka masing-masing. Hari ini adalah hari yang begitu sangat-sangat indah versi kedua orang tua Rosa dan Ghibran. Dan sangat-sangat gila, versi Rosa dan Ghibran. Yang harus menikah, bukan karena cinta tapi karana alasan mereka masing-masing.


__ADS_2