CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU

CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU
Luka


__ADS_3

Aku keliru memilih cinta. Aku salah menafsirkan rasa.


Kukira aku yang kau sebut kebahagian, tapi ternyata aku hanyalah batu kerikil yang menghalangi jalanmu.


Dulu, setiap menit, bahkan hampir setiap detik. Selalu kau lantun-kan nada-nada cinta, tapi ternyata semua hanya semu.


Kau yang memintaku untuk berjuang, tapi nyatanya kau yang meninggalkanku dalam pertempuran.


Harus kusebut apa kita dulu?


Kau trus menepis semua jarak dan keraguanku dengan segala janji-janjimu. Namun, kau juga yang menciptakan jarak yang jauhnya tak mampu aku utarakan lagi.


Apakah kau kira luka ini 'kan sembuh, hanya karena kau kembali?


~Clara~


🌹🌹🌹


"Nah, sekarang siapa yang mesum?" chibir Ghibran pada Rosa.


Rosa, buru-buru melepaskan pelukannya dari Ghibran. Malu!


"Halah, gak usah kepedean! Tadi itu cuma karena petir," ujar Rosa.


"Dasar penakut,"


"Siapa yang penakut? Tadi gw cuma kaget, tau!" kilah Rosa.


Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba terdengar lagi suara petir yang begitu menggelegar, dan membuat dia kembali memeluk tubuh kekar Ghibran, bahkan kali ini pelukannya semakin erat saja.


Rosa memang mengidap penyakit 'bronthophobia', atau lebih sering kita kenal dengan istilah phobia terhadap petir.

__ADS_1


Sekarang tubuhnya telah dibanjiri keringat dingin, napasnya memburuh, dan detak jantungnya berdetak tak berirama. Sudah seperti genderang mau perang saja!


"Ja-ja-ja-jangan bergerak, Ghibran," ucap Rosa terbata karena ketakutan.


"Gw mau nyalain lampu dulu, lagian siapa suruh lu matiin lampunya," sinis Ghibran.


"Bran, gw takut. Jangan bergerak napa," lirih Rosa.


"Dasar! Kelakuan aja bar-bar, tapi aslinya ambyar!" kelakar Ghibran.


"Ghibran!!!" teriak Rosa.


* * *


Berbeda dengan Ghibran dan Rosa yang sedang bertengkar di tengah kerasnya suara petir, dan derasnya air hujan. Clara justru acuh dengan semua itu.


Air matanya jatuh tak terkira. Hatinya hancur, luka yang selalu berusaha ia sembuhkan, kini kembali menganga.


Ia terus saja terisak dalam kegelapan, mengingat semua kenangan yang hampir membunuhnya secara perlahan.


Ada benci, dendam, marah, dan kecewa. Namun, cinta yang ia kira sudah hilang bersama semua kenangan itu, rupanya masih ada di sana. Cinta itu masih bertahta di hatinya.


Kepergian Yhosi, beberapa tahun yang lalu telah menyisakan luka. Luka yang begitu dalam dan tak berdarah.


Ingatan Clara kembali berpusat pada kejadian di pesta pernikahan sahabatnya tadi.


Sebuah kejadian yang paling ia takutkan, dan juga kejadian yang tidak pernah ia harapkan lagi.


Dia kembali bertemu dengan laki-laki yang pernah membuat dunianya menjadi luluh lantak, dan juga hatinya hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk lagi.


"Au ... maaf," ucapnya ketika tanpa sengaja, dia menabrak seseorang.

__ADS_1


Mata mereka berdua bertemu. Baik Clara ataupun Yhosi, sama-sama terlihat terkejut.


Clara membatu, semua kenangan masa lalunya kembali memenuhi pikirannya.


Seketika pandangannya mengabur, tubuhnya lemas, jantungnya berdegup kencang, napasnya memburuh, bahkan bibir-nya pun kelu, tak mampu berucap lagi.


Tubuh Clara begertar, wajahnya memerah padam. Dia meremas ujung baju kebaya-nya.


Bagaimana bisa laki-laki ini hadir, setelah membuat hidupnya berantakan?


Bagaimana bisa dia hadir, setelah membawa separuh hati dan separuh waras dari wanita lugu ini?


"Ara," ucap Yhosi, tak percaya.


Wanita yang selama ini dia cari, ternyata adalah sahabat Rosa.


"Ra, kamu dari mana saja? Aku nyariin kamu di Kampung, tapi orang-orang di sana bilang kalau kamu sudah pindah ke Kota." Yhosi ingin memegang tangan wanita di depannya, tapi dengan sigap Clara menepis tangan miliknya.


Clara, tidak menjawab pertanyaan Yhosi. Dia berlari meninggalkan Yhosi, di tengah padatnya tamu undangan.


"Ra, tunggu! Maaf-in aku, Ra." Yhosi berusaha mengejar Clara, yang pergi meninggalkannya.


Dia sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar.


Clara trus berlari dan tak menghiraukan panggilan, Yhosi.


"Kenapa Yhos? Kenapa kamu kembali, saat dengan susah payah aku berhasil melupakanmu." Air mata Clara, mengalir semakin deras.


"Kenapa kamu datang, disaat aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang?"


"Kenapa kamu datang, dan membuka kembali luka yang dulu kau berikan?"

__ADS_1


Clara tenggelam sendirian. Tak ada lagi cahaya yang ia lihat. Tak ada kedamaian yang ia rasakan. Hanya ada gelap dan sesak. Air matanya berdesakan ingin keluar.


__ADS_2