
Pagi telah tiba, mentari telah bersinar. Namun, suasana dingin masih begitu terasa, membuat orang-orang enggan untuk beranjak dari tempat tidur mereka. Ada yang masih bersetia berbaring di kasur kesayangan mereka. Ada juga yang masih bersetia menyembunyikan dirinya di bawah selimut, agar matanya tidak terkena pancaran sinar matahari.
Namun, berbeda dengan seorang gadis yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Seorang gadis yang akan menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai. Ah ... lebih tepatnya ia belum menyadari perasaannya. Mungkin ini efek terlalu lama men—jomblo, yak?!
Disaat semua wanita bermimpi untuk menikah dengan laki-laki yang mereka cintai dan juga mencintai mereka. Wanita ini malah mengambil keputusan untuk menikah dengan laki-laki yang hubungan—nya kurang baik dengan dia. Bisa dibilang mereka seperti Tom and Jerry. Hari ini, ia akan menikah dengan laki-laki yang selalu dia panggil songong, sombong, caper. Hanya demi sebuah alasan konyol! Tidak ingin menerima lamaran teman satu tim-nya!
Sekarang dia sudah berada di depan cermin besar, untuk melakukan ritual di wajahnya. Dia dibantu oleh tim make-up yang telah disediakan oleh ayahnya dan mamanya. Dia memandang wajahnya yang berada dalam cermin itu dengan lekat.
'Hufft, Entahlah apakah keputusanku ini benar atau salah. Tapi ku mohon lancarkan semuanya ya, Rabb,' bathin Rosa.
Saat dia sedang asyik memandangi wajahnya yang sudah ditempeli beberapa alat make up, tiba-tiba saja dia kembali teringat dengan kejadian kemarin malam.
Ketika Tuan Alkarna dan Istrinya sudah sampai di rumah megah mereka, mereka langsung masuk ke ruang utama dan diikuti oleh Bi Ina, yang sebelumnya telah menyambut kedatangan mereka di pintu utama tadi.
"Bi, Rosa dimana?"
"Di kamarnya, Nya."
"Daddy, Mommy ke kamar Oca, dulu," ujar mama Rosa, seraya tersenyum kepada suaminya dan Bi Ina.
__ADS_1
Dia berjalan menaiki anak tangga, rasanya kaki-nya begitu berat. Sebenarnya tadi dia telah menyembunyikan kekhawatiran-nya kepada suaminya sejak berada di hotel itu. Dia tidak ingin membuat suaminya semakin cemas, oleh karena itu dia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dan meyakinkan suaminya bahwa semuanya akan baik-baik saja, walau sebenarnya dia juga ragu!
Dia menghela napasnya gusar, sebelum dia mengetuk pintu kamar Rosa.
'Dia putriku! Kalau bukan aku yang menasehatinya siapa lagi? Huft, bismillah,' bathin mama Rosa.
Terdengar suara ketukan dari arah pintu, tapi si empuhnya masih tetap tidak memperdulikannya. Dia masih tetap fokus dengan lamunannya. Entah telah sampai mana lamunannya itu. Matanya menerawang, menembus semua benda yang ada di depan matanya.
Hingga terdengar suara seorang wanita dari balik pintu, yang akhirnya membuyarkan lamunannya. Namun dia tetap tidak beranjak membuka pintu kamar, ataupun menjawab perkataan wanita itu.
Wanita yang berada di depan pintu pun sudah tidak bisa mengontrol kekhawatiran-nya. Dia memegang knop pintu kamar Rosa, dan ternyata kamar itu tidak terkunci. Dia langsung masuk, dan melihat anaknya yang sedang duduk termenung.
"Hmm, Mommy," ujar Rosa, lirih.
"Kamu masih marah sama Daddy dan Ghibran?" Ia menatap wajah putrinya dengan begitu intens. Mengamati setiap perubahan mimik wajah putrinya, tapi Rosa tetap dengan ekspresi datarnya. Bahkan dia hanya berdeham, tanpa menjawab dengan jelas pertanyaan mamanya.
"Sayang, kamu jangan egois, Nak. Pikirkan perasaan Daddy, bukankah selama ini dia selalu mengalah terus denganmu, Nak? Mommy bukannya mau mengungkit pengorbanan Daddymu, Nak," jelas wanita paruh baya itu, dengan wajah sendu.
"Huft, Mom." Ia menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
Seakan paham dengan maksud putrinya, akhirnya dia kembali melanjutkan perkataannya. "Sayang, kamu juga harus bisa menerima keadaan calon suamimu. Dia adalah seorang Pengusaha Besar, Nak. Media dan rekan-rekannya sudah menjadi bagian dari kisahnya, Nak." Dia menangkup wajah putrinya, lalu menatap manik matanya "Toh bukankah sekarang kamu juga sudah berhasil mewujudkan impianmu? Kamu sudah membuktikan bahwa kamu bisa menjadi wanita hebat dengan tidak bergantung pada nama Daddymu. Sudah puluhan tahun kamu menyembunyikan identitas aslimu dari publik, Nak. Sekarang sudah waktunya untuk mereka tahu. Kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa kamu adalah Putri Tunggal Tuan Alkarna Agatha dan kelak akan menggantikan posisinya saat ini! Dan akan menjadi istri dari Muhammad Ghibran Fauzan, Pengusaha Muda Ternama Negeri ini." Rosa menunduk mendengarkan perkataan mamanya, berusaha memahami kata demi kata yang telah diucapkan oleh beliau.
"Baiklah, Mom," jawab Rosa pasrah, dan disambut oleh senyum sumringah khas Mamanya.
"Para gadis di luaran sana pasti iri dengan putri, Mommy. Karena tidak semua orang bisa seberuntung dirinya, yang bisa memiliki ayah dan suami seperti mereka berdua, Nak." Rosa hanya mengangguk, seakan mengerti dan paham maksud mamanya.
____________________
Ketika Rosa masih terpaku dalam tatapan kosongnya, serta pikirannya yang telah melambung kemana-mana itu. Ia mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya, ia langsung menetralkan pikirannya. Dan kembali fokus menatap cermin di depannya, ia melihat pantulan wajah sahabatnya di cermin yang sedang ia tatap itu.
Clara, menatapnya dengan begitu takjub, serta mata yang mulai beranak sungai. Ada rasa haru di hatinya. Ia berjalan mendekat, serta menyentuh pundak sahabatnya itu.
"Ra ...," sahut Rosa, lalu memegang tangan sahabatnya yang ada di pundaknya. "Jangan menangis, ini hari bahagiaku!" ungkapnya, untuk menghentikan cairan bening yang sebentar lagi akan bertahta di pipi Clara.
'Meski sebenarnya aku gak bahagia, Ra, tapi aku tidak ingin membuat Daddy dan Mommy kecewa. Lagi pula ini keputusanku sendiri, menerima lamaran laki-laki yang belum aku ketahui sifat luar dan dalamnya. Doakan aku, Ra. Semoga ini yang pertama dan terakhir untukku. Semoga keputusanku benar, Ra. Meskipun aku tidak berharap lebih, bahwa dia akan mencintaiku, tapi aku ingin dia menghargaiku seperti Daddy yang selalu menghargai Mommy, Ra,' bathin Rosa.
Rosa menampilkan senyum sumringah-nya, untuk menutupi keraguan serta kekhawatiran-nya perihal hubungan barunya nanti. Biarlah ini menjadi rahasianya, dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam kesedihannya. Meskipun sebenarnya Clara, itu bukanlah orang lain, tapi dia tetap tidak sanggup jika harus menceritakan lukanya. Begitulah Rosa, dia lebih suka memendam semuanya sendiri. Ia tidak ingin jika orang lain mengasihaninya, ia selalu bersembunyi di balik topeng. Yang orang tahu, Rosa adalah cewek yang keras. Padahal sebenarnya dia begitu lemah.
'Ros, aku tahu kamu belum memiliki perasaan apa pun kepada Ghibran. Tapi aku yakin, kelak kalian berdua akan menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai hingga ke Jannah. Semua hanya perlu waktu, Ros. Jika semuanya sudah tiba, kebahagian pasti akan menyelimuti keluarga kecil kalian. Aku percaya, Ghibran adalah orang yang baik untukmu. Dan aku yakin, di lubuk hati Ghibran nama-mu sudah terukir indah di sana. Hanya saja dia masih belum menyadari hal itu, atau mungkin rasa gengsinya terlalu besar,' gumam Clara dalam hati.
__ADS_1