
Tim make-up masih terus memoles wajah manis Rosa, dan sebentar lagi akan selesai. Sungguh, dia menyulap wajah gadis itu. Ya, meskipun sebenarnya tanpa make-up Rosa juga sudah begitu cantik.
Clara terus mengajak Rosa berbincang-bincang, agar Rosa tidak terlalu gerogi nantinya. Tapi, karena keasyikan berbicara, mereka sampai lupa waktu.
"Sayang, kenapa kalian lama sekali!" tegur mama Rosa yang sudah berada dalam ruangan itu, bersama ibu Clara. Dan saat ini, tim make-up juga sudah menyelesaikan tugasnya.
Ya hubungan Rosa memang sangat baik dengan Ibu Clara, Rosa sudah menganggap wanita itu sebagai Ibunya. Begitu juga dengan Ibu Clara yang sudah menganggap Rosa sebagai putrinya. Itulah istimewanya Rosa, meskipun dia dari keluarga yang hartanya berlimpah, tapi dia tidak pernah memandang orang lain berdasarkan status ekonominya. Dia tidak pernah membeda-bedakan kasta seseorang. Dan itu semua dia warisi dari Ayah dan mamanya.
"Ibu, tante. Astaga, aku hampir lupa." pekik Clara, sambil memukul jidatnya.
"Bukan hampir lagi, tapi kamu memang sudah lupa, Ra." celetuk Ibu Clara pada putrinya, sontak mereka semua langsung terkekeh.
"Mbak, putri kita sangat cantik, ya." ujar mama Rosa dengan senyum sumringah. Dia memandang wajah putrinya dengan lekat. Pandangannya mulai kabur, ada rasa haru yang ia rasakan. Akhirnya impian untuk melihat pernikahan putrinya, sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
"Ia, kecantikanmu menurun kepadanya," ujar Ibu Clara sambil tersenyum, mama Rosa hanya menggeleng.
"Hayok, kita turun sekarang. Pengantin prianya sudah datang, dan menunggu di Aula," ujar mama Rosa.
Mereka sudah berjalan keluar, meninggalkan kamar hotel dan menuruni anak tangga yang sudah disediakan khusus untuk pengantin wanita menuju Aula.
Semua pasang mata memandangi Rosa dengan takjub. Rosa turun dengan diapit oleh dua wanita paruh baya, yaitu Mama dan Ibu Clara, sedangkan Clara sendiri berada tepat di belakangnya. Saat ini, Rosa sedang mengenakan kebaya. Kebaya yang dirancang khusus untuk prosesi ijab kabulnya.
Rosa merasa gugup, ketika melihat begitu banyak pasang mata yang sedang memandangi dirinya.
Napasnya memburuh, dan jantungnya berdegub begitu cepat. Mungkin suara detakan jantung Rosa, saat ini bisa di dengar oleh semua orang. Ia sudah seperti sedang dikejar anjing saja.
"Tenang sayang, semua akan baik-baik saja," ujar mamanya, yang seakan paham dengan apa yang telah dirasakan Rosa.
Rosa hanya bisa mengangguk seraya mengatur napas.
Ini kali pertama Rosa merasakan grogi seperti ini, biasanya dia selalu tampil percaya diri.
Ketika sudah berada di lantai dasar, Rosa berjalan dengan wajah datarnya. Seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya, lebih tepatnya pada jantungnya. Tidak ada kesedihan ataupun kebahagian yang tersirat di wajahnya.
Keluarga serta beberapa teman Ghibran dan Rosa, juga beberapa tamu penting orang tua Ghibran dan Rosa, tak henti-hentinya berdecak kagum melihat calon pengantin wanitanya. Sungguh, ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Mereka tampak begitu serasi. Ghibran tak kalah memesona dengan stelan jas warna putih, yang ia kenakan.
Ghibran diam membatu saat Rosa sudah berada di depan matanya. Ia seakan terhipnotis dengan wajah wanita yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai istrinya.
__ADS_1
* * *
Semua acara telah selesai, para tamu undangan 'pun sudah kembali ke kediaman mereka. Bahkan orang tua para mempelai, juga sudah kembali, meninggalkan kedua mempelai di hotel.
Rosa yang mulai lelah dan gerah, akibat kebaya yang ia gunakan. Dengan terburu-buru melangkahkan kakinya menuju kamar yang telah disediakan untuk pengantin baru.
CEKLEK ....
Baru beberapa detik setelah ia membuka pintu kamar hotel, tempatnya. Tapi ia sudah berteriak histeris, suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan.
"Aaaa ...," teriaknya dengan wajah yang sudah pucat pasi. Membuat orang yang ada di hadapannya ikut kebingungan.
"Ngapain, ngapain lu disini? Keluarrrr ...!" ucapnya menggebu-gebu, saat melihat orang itu.
"Terus gw harus kemana? Ya kali gw tidur di lobi hotel!" jawab orang itu, santai.
"Ya, lu bisa pesan kamar yang lain!"
"Hello! Mau ditaroh di mana muka gw, kalau sampai gw pesan kamar lain? Yang ada besok gw jadi trending topik!" ucapnya tak kalah sewot. "SEORANG PENGUSAHA MUDA DAN TAMPAN, TIDUR TERPISAH DI MALAM PERTAMANYA!" imbuhnya lagi, lalu berlalu meninggalkan Rosa yang masih sangat emosi karenanya.
"Arghhh ...." Rosa melempar heelsnya ke sembarang arah, karena sangat jengkel melihat pria itu, yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
Amarah Rosa, semakin menggebu setelah mengingat bahwa dia akan tidur di kamar yang sama dengan laki-laki menyebalkan itu.
Setelah selesai mandi, Rosa merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang telah dihiasi dengan kelopak bunga mawar imitasi.
Dekorasinya begitu indah, terlihat seperti ruangan 'Pengantin Yang Sesungguhnya'. Sayangnya mereka berdua menikah bukan karena cinta. Tapi karena alasan masing-masing.
Rosa menyapu seluruh ruangan, mencari sosok laki-laki songong yang telah membuatnya dalam masalah.
Ah sebenarnya, semua yang terjadi juga tidak sepenuhnya salah Ghibran. Coba saja Rosa menolak, tentu saja dia tidak akan dalam masalah darurat ini.
Ya, tapi mau gimana lagi, daripada harus menikah dengan Ryan?
Rosa mengambil benda pipih persegi panjang miliknya di atas nakas, dan juga headset yang ada di sampingnya.
Sekitar lima belas menit, Ghibran akhirnya kembali juga. Entahlah dia dari mana saja, padahal semua orang sudah pulang dari tadi.
Rosa yang tengah fokus dengan ponsel pintar miliknya itu, tidak menyadari kebaradaan Ghibran di sampingnya.
__ADS_1
"Hp teross!" ketus Ghibran, sambil melempar bantal ke arah Rosa.
"Kan ... kan ... mati 'kan!!! Ghibran!" teriaknya, wajahnya sudah memerah. Sepertinya dia sudah siap menerkam mangsanya.
"Berisik tau!" ketus Ghibran.
"Arghh ... Punya gue mati gara-gara lu! Dasar biang resek." jawab Rosa, dengan ekspresi menantang.
"Apaan? Gitu doang ngamuk, dasar cewek bar-bar."
"Dih, lu tuh yang resek! Udah sono tidur di sofa aja."
"Ya kali, malam pertama gue di sofa? Suka yang sempit-sempit yah, Sayang?" tanya Ghibran menggoda.
"Ghibran!!!" Rosa kembali berteriak karena ulah nakal suaminya itu.
"Apa sih? Jangan berisik, gue ngantuk!"
"Ih, lu tuh yah. Gw bilang tidur di sofa."
"Gak mau, gue mau tidur di sini bareng bini gue!" ucap Ghibran tak mau kalah.
Brakk ....
Rosa kembali melemparkan bantal yang tadi mengenai dirinya. "Awas aja, kalau lu sampai macam-macam!"
"Macam-macam juga gak papa, 'kan? Lagian sama bini sendiri mah, bebas!" tukas Ghibran.
"Dih, dasar mesum!" Ghibran hanya terkekeh mendengarkan istrinya itu.
Baru saja, Rosa ingin memejamkan matanya, tapi tiba-tiba saja terdengar suara petir yang menggelegar. Memenuhi seluruh ruangan.
"Aw ...," pekiknya, dan tanpa dia sadari tangannya sudah memeluk erat tubuh laki-laki yang ada di sampingnya itu.
___________
Hallo readers💙
Apa kabar, semoga kalian selalu sehat ya💙
__ADS_1
Maaf banget, author bisa update karena beberapa bulan ini author lagi ada masalah pribadi, jadi gak bisa fokus nulis😁
Salam sayang author untuk kalian semua, readers💙