
Dulu, kita pernah sedekat jengkal sebelum akhirnya sejauh bintang. Kita pernah tertawa, bercanda, dan saling menyemangati. Sampai akhirnya kita berbalik menjadi orang asing yang tidak saling mengenali.
Kau pernah menjadi tempat ternyaman untukku pulang. Kau pernah menjadi penentu suasana hatiku. Bahkan, dulu namamu sering aku jadikan pelengkap doa-doa malamku.
Kita pernah sedekat itu, dan aku pernah secinta itu!
~Clara~
🌼🌼🌼
7 tahun yang lalu ....
"Kenapa kak? Kenapa kakak, mengakhiri semuanya dengan sepihak?" Wanita itu menatap lekat mata pria yang ada di depannya, meminta penjelasan atas ketidakadilan yang ia dapatkan.
"Ra, aku harus keluar negeri. Aku harus melanjutkan pendidikanku seperti yang diinginkan orang tuaku," jawab laki-laki itu dingin.
"Pergilah ... pergilah, Kak. Aku akan setia menunggu kepulanganmu," ucap wanita itu dengan suara yang serak, juga mata yang mulai beranak sungai.
Ia tetap berusaha bijak, meski kebenaran yang ia dengarkan cukup berat. Dia cukup tahu diri, bahwa dia tidak boleh egois. Lagipula pria-nya pergi, untuk niat yang baik. Bagaimana mungkin ia melarang?!
"Empat tahun, Ra. Aku bahkan tidak tahu, apakah aku akan pulang setelah lulus, atau aku akan menetap bersama orang tuaku di sana." Perkataan laki-laki itu, mematahkan hati dan semangat wanita yang ada di depannya. "Ra, kita harus akhiri semuanya sampai di sini." Dia memegang pundak gadis itu, menyadarkan wanitanya tentang keberanan yang harus ia terima.
"Terima kasih untuk semuanya, dan maafkan aku, Ra. Kita putus!" Laki-laki itu terus bicara tanpa memperdulikan reaksi yang akan dia lihat dari wanita itu, nantinya.
Deg ....
Clara terisak, hatinya hancur. Bagaimana bisa laki-laki itu, tega berbicara seperti itu. Bagaimana bisa laki-laki itu mau meninggalkannya. Kenyataan ini bak hantaman batu besar untuknnya.
"Apakah cinta yang kau bilang tulus itu, hanya sampai di sini? Apakah perjuanganmu hanya sejauh ini? Aku kira kamu beda, Yhos. Ternyata aku salah, kamu sama. Kamu sama seperti yang lain!"
Hati siapa yang tak hancur, ketika orang yang begitu ia cintai rupanya tega melukainya sedalam ini.
__ADS_1
Hubungan 2 tahun itu, kandas dengan begitu tragis. Ikatan yang ada diantara dua insan ini, telah berakhir secara sepihak dan menciptakan luka yang sakitnya tak mampu lagi digambarkan hanya dengan kata-kata.
"Aku mencitaimu, Ra. Bahkan aku sangat mencintaimu, tapi ... aku tak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku tak bisa menahan beratnya kata rindu. Aku tak bisa, Ra, jika harus menjalin hubungan jarak jauh." Yhosi terus memelas, berharap wanita yang ada di depannya akan merasa ibha dan memahami posisinya. Namun sayang, hati gadis itu sudah terlanjur terluka. Dia tak mau lagi mendengarkan penjelasan apa pun lagi, darinya.
"Cukup, Yhos ... cukup! Aku muak mendengarkan semua ucapanmu. Semuanya hanya dusta, Yhos." Sekuat tenaga Clara, menahan air matanya agar tidak menetes lagi. Dia tidak ingin terlihat begitu menyedihkan di depan laki-laki ini, laki-laki yang telah tega mematahkan hatinya. Namun sayang, dia tak sekuat itu. "Benar kata orang tuaku. Kita ini berbeda, harusnya aku bisa sadar diri dari dulu. Harusnya aku tidak bermimpi terlalu tinggi. Harusnya aku tidak pernah jatuh ke dalam hatimu yang paling dalam. Dan harusnya kamu tidak pernah hadir dalam hidupku, Yhos." Clara kembali terisak, ia memukul dada laki-laki di depannya, dengan tenaga yang masih tersisa.
"Ara, maafkan kakak. Aku tidak bisa menolak keinginan orang tuaku, Ra. Mereka segalanya bagiku, hanya aku dan Kak Arumi-lah, yang mereka punya, Ra. Tolong mengertilah, Ra. Kumohon ...." Yhosi memegang tangan gadis itu. Berkali-kali dia mencoba membuat Clara, memahami posisinya, tapi emosi Clara, hanya semakin menjadi-jadi.
Yhosi, dalam dilema. Di satu sisi, ada orang tua yang harus ia banggakan. Namun, di sisi yang lain, ada cinta yang harus ia pertahankan.
Lantas, ia harus apa? Apakah merelakan cintanya untuk kebahagian orang tuanya sudah benar, atau mungkin ini akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, nantinya.
"Argh ...." Yhosi, mengacak rambutnya frustasi. Bohong, jika dia juga tidak terluka. Bohong, jika dia bisa melepaskan Clara semudah itu. Bohong, jika hatinya tidak menangis melihat wanita-nya serapuh itu.
Gadis itu telah berhasil mengisi hatinya yang pernah kosong dan tak bertuan. Gadis itulah, yang telah membuat hati yang hampir mati, kembali hidup dan menjalani hari-hari yang penuh warna.
"Cukup sampai di sini, Yhosi Anggara Rahardian. Pergilah! Pergi dan jangan pernah kembali lagi. Aku akan mengikhlaskan kepergianmu," ucap Clara dengan wajah yang berusaha kuat. "Clara yang dulu pernah mencintaimu, kini sudah mati. Jangan pernah mengingat wanita bodoh itu lagi. Lupakan semua tentang kau dan dia! Anggap kita tidak pernah bertemu, dan menjalin kasih yang begitu menyedihkan. Sekarang, pergilah! Turuti keinginan orang tuamu, aku akan mengalah," ucapnya dengan suara lantang, dan wajah menantang. Bak seorang prajurit, yang sudah siap untuk berperan.
"Pergi, Yhosi!" Tak ada lagi rasa hormat, tak ada lagi cinta. Yang tersisa hanya luka dan rasa benci, yang telah merajam di hatinya.
'Maafkan aku, Ra,' bathin Yhosi.
Dengan langkah berat, ia melangkahkan kakinya meninggalkan gadis itu. Kini semuanya telah usai, ia harus siap dengan segala kemungkinan yang ada. Kemungkinan yang akan menyerang hatinya.
Sedangkan, gadis yang ditinggalkan itu sudah benar-benar tak bertenaga. Ia terduduk lemas di bangku taman Kota ini. Taman ini, yang dulu selalu menjadi saksi perjalanan cintanya. Kini, akhirnya menjadi saksi dari hancurnya hatinya.
Cinta yang selama ini, ia perjuangkan rupanya harus berakhir seperti ini.
Laki-laki yang dulu, selalu ia banggakan di depan kedua orang tuanya. Ternyata tega melukainya sedalam ini.
Benar kata orang tuanya, mereka berbeda. Status mereka tak akan pernah setara. Dia hanya anak pedagang kecil, sedangkan Yhosi, adalah anak juragan.
__ADS_1
Lalu, bagaimana bisa mereka bersama. Dia menaruh harap terlalu besar, pada hubungan yang semu. Menyedihkan!
***
Clara melihat semua foto kenangan dirinya bersama laki-laki yang pernah mematahkan hatinya, dan membuat dia takut untuk kembali memulai hubungan yang baru.
Di sana, ia terlihat begitu manis. Dan laki-laki yang ada di sampingnya terlihat begitu menawan. Mereka pasangan yang serasi secara fisik, tetapi ekonomi mereka bertolak belakang.
Mereka terlihat seperti pasangan yang ideal, yang seperti tidak akan pernah mengalami kegagalan. Namun, perihal jodoh, Tuhan selalu punya rencana di luar dugaan manusia.
Clara masih terus terisak, air matanya luruh membasahi pipinya. Hujan pun, seakan ikut merasakan lukanya, hujan semakin deras. Suara petir yang memekkan telinga, tak ia pedulikan lagi.
Bukan hanya kenangan manis, namun kenangan menyakitkan pun terus menyerang pikirannya.
Ibunya sudah memanggil dia berkali-kali, tapi ia tak mendengarkannya. Ia larut dalam dukanya, duka yang hampir merenggut semua warasnya.
Wanita paruh baya, yang ada di luar sana juga ikut merasakan sakit yang dirasakan putrinya. Meski dia tak tahu pasti, alasan putrinya mengurung diri di kamar sejak kembali dari pesta Rosa. Namun, dia paham bahwa anak gadisnya itu tidak sedang baik-baik saja.
Sedangkan, laki-laki yang ada di sebrang sana. Tak henti-hentinya merutuki kebodohannya. Karena kebodohannya itu, ia harus menanggung akibat seperti ini.
Wanita yang selalu ia rindukan setiap saat, kini tak ingin lagi menyapanya. Jangan kan, menyapa. Memandang wajahnya pun, ia sudah merasa enggan.
"Sedalam itukah, kau membenciku, Ra? Apakah tak ada lagi ruang di hatimu untuk laki-laki ini?" Ia memandang wajah gadis yang ada di telpon genggamnya, dengan lekat.
Bodoh!
Bagaimana bisa dia mengharapkan wanita itu akan luluh dengan mudah, hanya dengan kata maaf saja.
Dia bukan hanya mematahkan hati gadisnya, tapi dia telah menghancurkan mimpi gadis itu, juga.
Apa laki-laki selalu senaif itu. Meski telah berbuat salah, tapi mereka tak pernah menyadari kesalahannya?!
__ADS_1
Bersambung ....