
Sudah seminggu setelah acara makan malam bersama keluarga Tuan Alkarna dan Pak Willyam. Hubungan kedua keluarga itu memang sangat baik. Tuan Alkarna dan Pak Willyam sudah bersahabat sejak lama. Bahkan istri-istri mereka juga sangat dekat. Begitupun dengan Ghibran, hubungan dia dengan Tuan Alkarna juga sangat baik. Bahkan Tuan Alkarna memperlakukan Ghibran sudah seperti putranya sendiri. Saat dia masih tinggal di kotanya yang dulu, Tuan Alkarna sering berkunjung ke rumah mereka.
* * *
Saat ini Ghibran sudah berada dikediaman orang tuanya. Dia tidak pernah melewatkan wekeendnya tanpa keluarganya itu. Ya sesukses apapun dia sekarang, tetap saja dia adalah putra dari pasangan Pak Willyam dan Nyonya Willyam itu. Kedua orang tuanyalah yang menjadi alasan dibalik kesuksesannya. Mungkin kalian pernah dengar kata ini Ridho orang tua, adalah Ridhonya Allah. Ya mungkin itulah yang telah didapatkan oleh Ghibran. Selain keadaan keuangan yang begitu sangat baik, dia juga dilimpahkan kasih sayang orang tua yang tiada tara. Terlebih dia adalah putra tunggal dari keluarga itu, dia yang akan menjadi pewaris seluruh harta kekayaan Pak Willyam.
Tok..tok..tok..tok..
Suara pintu kamar Ghibran
"Siapa?" tanya Ghibran yang masih setia dibawah selimutnya.
"Saya tuan muda"
"Ada apa bi?"
"Tuan dan nyonya besar menunggu anda di ruang tamu"
"Hmm, katakan pada mereka bahwa sebentar lagi saya turun"
"Baik tuan muda"
Setelah beberapa menit, Ghibran sudah siap dengan pakaian casualnya. Dia menuju ke ruang tamu, dimana Papa dan mamanya telah menunggunya disana.
"Pagi Pa, Ma"
"Apa kau tidak memakai jam, Son?"
"Tidak Pa, ada apa?" jawab Ghibran sambil menyeruput kopi di atas meja yang telah disediakan oleh pelayan rumah itu.
"Sayang, ini sudah siang bukan pagi"
"What?? Benarkah Ma? Ah mama jangan bercanda, Ghibran kan gak pernah bangun telat"
Kecuali kalau habis nemenin Angel Konser. Ghibran
"Nah liat ini" Mama menunjukkan jam di ponselnya
"12.30" Ghibran kaget "Astaga kenapa kalian tidak membangunkanku dari tadi sih?"
"Huft, mama sudah capek naik turun tangga untuk membangunkanmu tapi kamu tetap tidak bangun."
"Apa kemarin kau bekerja larut malam, Son?"
"Tidak Pa, tapi kemarin Ghibran memang sangat lelah sekali. Mungkin karena itulah Ghibran sampai bangun kesiangan"
__ADS_1
"It's okey Son. Apa hari ini kau ada acara?"
"Hmm, sepertinya tidak ada Pa. Why?"
"Hari ini kita ke rumah om Alka ya"
"Untuk apa Pa?"
"Melamar"
"Uhhuk...Uhhuk...Uhhuk. Apa, melamar?" Ghibran hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mamanya. Tapi Papa dan Mamanya langsung mengiyakan itu dengan anggukan.
"Tapi melamar siapa Pa, Ma?"
"Melamar Rosa lah, masa mau melamar pelayan rumah itu. Ya, gak mungkin kan, Son?!" Mama Ghibran hanya tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Tapi Pa, Ghibran sama Rosa kan belum kenal dekat. Hubungan kami waktu SMA juga tidak terlalu baik"
Ahh Pa Ma, wanita itu yang pernah membuat Ghibran harus di rawat di Rumah Sakit. Ghibran
"Apa?? Wah ternyata kalian pernah satu sekolahan rupanya, tapi kenapa kemarin kalian seperti orang asing?"
"Ya, bukannya itu pertanda bagus Pa, kalau mereka pernah satu sekolahan. Sedikit banyaknya, pelan-pelan pasti mereka bakalan saling memahami dan lama-lama mereka pasti akan seperti kita"
"Mungkin dia tidak mengenali Ghibran yang sekarang Pa, kan badan Ghibran sudah tidak gemuk lagi" seketika wajah Ghibran memerah
"Ya, juga sih. Tapi tidak apa-apa nanti papa yang bakalan ngingetin mereka. Yekan, Ma?" meminta dukungan kepada istrinya.
"Ia suamiku"
"Pa, pokoknya Ghibran tidak mau dijodohkan. Tidak Pa, Ma. Ghibran tidak mau, titik!"
"Kamu harus menikah Ghibran"
"Ghibran masih mau bebas Pa"
"Sampai kapan?? Sampai Papa dan Mama sudah tidak bernafas lagi?"
"Pa, cukup" Ghibran geram mendengarkan ucapan Papanya
"Ghibran, sejauh ini Papa gak pernah memaksa kamu melakukan apapun. Papa selalu nurutin kemauan kamu. Papa hanya mau melihat kamu menikah sebelum Papa tiada, tapi kamu tidak bisa menuruti kemauan Papa" Tiba-tiba Papa Ghibran kejang-kejang, semua orang yang ada disitu langsung panik dibuatnya.
"Pa, Papa" Ghibran panik melihat kondisi papanya
"Bran, turutin kemauan Papa kamu nak"
__ADS_1
Ghibran tampak berpikir, dia begitu kebingungan. Disatu sisi dia sangat sayang pada orang tuanya. Disisi lain, dia masih belum bisa melupakan perkataan Rosa. Tapi mau tidak mau, Ghibran harus memilih salah satu dari dua pilihan itu, Menikah atau harus kehilangan Papanya.
"Baiklah Pa, Ma. Ghibran akan menikah dengan Rosa" Ghibran terpaksa mengiyakan permintaan orang tuanya.
"Yes, terimakasih Son" refleks Papa memeluk Ghibran, dan langsung menjadi sehat. Ghibran jadi curiga melihatnya.
"Loh, papa sudah sehat?"
"Iyya sayang papa bisa langsung sehat karena bahagia mendengar bahwa kamu akan menikah" Jawab papanya sambil mengerlingkan mata kepada Mama, agar tidak sampai keceplosan rencana mereka. Ghibran hanya tersenyum kenyut. "Yasudah nanti malam kita langsung ya Son"
"Untuk apa Pa ?"
"Hey, untuk melamar Rosa donk. Bukannya kamu sudah setuju?
"Tapi ini terlalu cepat Pa. Kita juga belum memberi tahu om Alkarna kan?"
"Bukankah niat baik harus disegerakan, Son? Biarkan ini jadi kejutan buat mereka"
"Bagaimana jika mereka menolak, Pa?"
"Apa ada wanita yang bisa menolak pesona ketampanan anak Mama?" Mama Ghibran ikut bicara
"Nah, benar yang dikatakan Mama kamu. Kamukan anak Papa yang paling ganteng!"
"Emang Papa punya anak selain aku?" Ghibran mengernyitkan dahinya.
Hiii, bahkan kau tidak bisa merayuku dengan benar, Pa. Lalu bagaimana kau bisa menaklutkan hati Mama.
"Hey anak bodoh, jika papa punya anak selain kamu, pasti papa akan menjodohkan Rosa dengan dia, bukan denganmu."
"Lihatlah Ma, giliran mau memarahiku saja, Papa langsung sehat" Ghibran mengadu pada Mamanya, tapi mamanya hanya tergelak mendengarkan pertengkaran anak dan ayahnya itu.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita ke ruang makan. Sudah waktunya makan siang." Mama menghentikan pertengkaran mereka berdua. Mama melangkah menuju ke ruang makan, dan kedua orang itu berusaha mensejajari langkahnya.
Cih, apa jangan-jangan tadi Papa hanya pura-pura kejang-kejang biar aku setuju untuk menikah? Ah Papa, kenapa kau begitu jahat pada putramu? Hii, rasanya aku ingin
kembali menjadi anak kecil saja, Daripada harus menikah dengan preman itu. Bagaimana nasibku nantinya jika aku menikah dengan dia? pasti dia akan terus menganiyayaku. Hiks, hiks, hiks menjijikkan.
Untuk apa juga aku harus memikirkan hal itu, toh belum tentu juga preman itu mau menikah denganku. Dia kan tidak menyukai laki-laki. Atau Jangan-jangan dia menyukai satu gendernya, Hahahaha.
Sepanjang perjalanannya ke ruang makan, Ghibran terus bergumam dalam hatinya. Memikirkan bagaimana nasibnya nanti. Dia masih ingin menikmati masa mudanya, tapi orang tuanya terus mendesak dia untuk menikah, bahkan hari ini mereka mau menjodohkannya dengan Rosa. Bahkan tiap kali dia ke rumah orang tuanya, mereka selalu memberikan pertanyaan Kapan kamu mau mengenalkan calon istrimu ?? huft, bagaimana dia mau mengenalkan calon istrinya, jika dia tidak pernah serius dalam menjalin hubungan. Bagi Ghibran, bisnis adalah hidupnya. Jadi dia tidak punya waktu untuk pacaran ala muda-mudi di luaran sana, seperti nonton bioskop, makan, jalan-jalan, dan yang lainnya. Ya, bahkan saat dia menemani Angel untuk konser pun, itu tetap untuk bisnisnya. Karena sudah pasti banyak awak media disana, yang akan stay untuk meliputnya. Bukankah itu kesempatan emas untuk dia? untuk membuat namanya semakin dikenal oleh dunia, ya meskipun harus dengan cara yang menyebalkan seperti itu.
____________________¥¥¥¥¥____________________
**Hallo reader kesayangan authot💕💕 Apa kabar?? Semoga kalian selalu sehat ya💕😍😍
__ADS_1
Maaf yah reader, kemarin author gak sempat up karena kemarin author lagi kurang sehat😘 Tapi hari ini, author tetap usahain up buat kalian dong. Thanks karena kalian sudah setia membaca novel saya🤗 Dan maaf banget, kalau masih banyak kekurangan dalam novel ini ya😊**