CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU

CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU
Pertemuan Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Teriknya sinar mentari menguapkan


semua orang untuk berlomba-lomba dalam mencari sesuap nasi untuk keluarga yang mereka kasihi, atau bahkan demi cita-cita masa depan mereka. Semua orang telah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Termasuk seorang wanita yang telah berada dalam ruangan CEO Rumah Sakit XX.


Kring...kring...kringg


Tiba-tiba ponsel Rosa bunyi


[Ya hallo Dad?]


[Oca sibuk?]


[Gak kok Dad, oca lagi rehat nih. Ada apa Dad?]


[Oca bisa datang ke kantor?]


[Memangnya kenapa Dad? Semuanya baik-baik saja kan?] Rosa mulai cemas, karena tidak biasanya ayahnya meminta dia ke kantor saat dia sedang di rumah sakit.


[Gak papa kok, Daddy cuma kangen sama anak Daddy]


[Yaudah bentar lagi Oca OTW ya Dad. Ohya Oca kesananya bareng Clara ya, gak papa kan?]


[Iya gak papa Sayang, Daddy tunggu ya]


[Okey Dad, love you]


[Love you too Honey]


Setelah bicara dengan ayahnya, Rosa langsung menuju ke ruangan Clara untuk mengajaknya pergi bersama.


"Ra, lu masih ada pasien?"


"Udah gak, kenapa?"


"Tadi bokap gw nelpon, dia nyuruh gw ke kantor"


"Trus??"


"Gak trus trus, ntar lu nabrak dodol"


"Bedebah, gw serius oy😒"


"Iya iya maap, maksud gw, lu mau gak nemenin gw kesana? Soalnya gw males jalan sendiri"


"Yey makanya buruan cari pacar, biar gak sendirian lagi"


Cletak....


Karena kesal Rosa menyentil kening sahabatnya.


"Cih, bahkan kau sendiri pun belum punya pacar, tapi sok-sok menyuruhku untuk pacaran" Rosa senang karena telah berhasil membalas Clara.


"Akukan masih betah sendiri, beda sa___" belum sempat menyelesaikan kata-katanya Rosa sudah memotongnya.


"Apa kau ingin pergi atau ingin terus berdebat?" melotot kearah Clara

__ADS_1


"Yasudah, ayok berangkat"


* * *


Sekarang mereka telah berada di Kantor Alkarna Group. Rosa menemui sekertaris ayahnya terlebih dahulu, untuk menanyakan keberadaan ayahnya eh lebih tepatnya keberadaan tuan Presdir.


"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan Tuan Alkarna. Apa beliau ada di ruangannya?"


"Apa sebelumnya nona sudah membuat janji dengan beliau?"


"Iya"


"Baiklah, sebentar saya hubungi Tuan Presdir dulu nona" Rosa hanya tersenyum simpul


"Gilak, mau ketemu bokap gw aja, harus nunggu dulu" bisik Rosa pada Clara


"Cih, bukannya lu sendiri yang mau?!" ketus Clara


"Yey lu mah bisanya cuma nyalahin gw" Rosa mengerucutkan bibirnya


"Lah lu, em____"


"Nona pak Presdir sudah menunggu anda diruangannya" suara sekertaris itu membuat Rosa dan Clara menghentikan aksi debat mereka.


"Terimakasih" ucap rosa lalu menarik tangan Clara menuju ruangan Presdir.


Setelah bertemu dan bicara dengan ayahnya seketika itu wajah Rosa langsung berubah, tidak seceria tadi. Rosa berjalan dengan begitu cepat, hingga tanpa sengaja Rosa menabrak seseorang.


BRUGHHH....


"Kalau jalan tuh pakai mata" Rosa berteriak dan melihat ke arah orang yang telah menabraknya


Deg...


Sepertinya ada sesuatu dalam hatinya, tapi Rosa berusaha untuk menepis perasaan itu.


"Hey, kau budeg atau bisu, hah?!!" Rosa semakin kesal, karena laki-laki itu tidak meminta maaf padanya. What, meminta maaf?? bukankah dia yang menabrak orang itu? Ya, begitulah Rosa, dia yang salah tapi malah menyalahkan orang lain.


"Sudahlah Ros, ayo kita pergi" Clara berusaha menarik tangannya, tapi Rosa tetap tidak bergeming "Ros, jangan buat keributan di kantor ayahmu" bisik Clara.


"Huft, baiklah" dengan terpaksa Rosa harus meninggalkan laki-laki itu.


Bahkan setelah kepergian Rosa dan Clara, laki-laki itu tetap diam mematung. Sekelebat kenangan masa lalu kembali menghantuinya. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang terjadi, pasalnya dulu saat dia baru pulang ke tanah air, dia pernah menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Rosa. Namun sayang, usahanya tidak membuahkan hasil, karena Rosa terlalu misterius. Akhirnya dia memutuskan untuk meghentikan pencariannya, dan perlahan-lahan niatnya untuk balas dendam berusaha dia lupakan. Tapi karena kejadian hari ini, kemunculan Rosa yanh tiba-tiba. Membuat niat awalnya kembali menggebuh.


Cih, bahkan sampai sekarang sikapnya masih sama. Ghibran


* * *


Sedangkan di tempat lain, Rosa dan Clara sudah menuju ke parkiran.


"Rosa apa kau tidak mengenalinya?"


"Hey, memangnya siapa dia yang harus aku kenal. Cowok songong kek gitu, harus dimusnahkan bukan dikenal."


"Dia pengusaha muda yang terkenal itu, yang menjadi incaran para wanita-wanita di luar sana"

__ADS_1


Cih bukankah kau yang menbaraknya dan marah-marah tidak jelas? Dasar preman bar-bar. Clara


"Cih, pasti wanita-wanita itu sudah gila karena mengidolakan laki-laki sepertinya. Arghh, rasanya aku ingin menghajarnya"


"Hey, hey, ada apa denganmu? Jangan terlalu membenci nanti kamu bisa jatuh cinta. Tapi sungguh, laki-laki itu beneran tampan Ros."


"Cih, bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada laki-laki seperti itu. Membayangkannya saja rasanya begitu menyebalkan."


"Hey tapi dia tampan Ros, wanita mana pun tidak bisa menolak pesonanya" jelas Clara sambil kembali mengingat-ingat wajah laki-laki itu.


"Apa matamu sudah tidak berfungsi dengan benar hah?!


Bahkan pengawal di rumahku lebih tampan daripada dia


"Huft, kayaknya lu yang harus diperiksa deh. Ya kali cowok seganteng dia, lu gak suka? Atau jangan-jangan lu gak doyan cowok ya?" Clara tertawa begitu keras, mendengarkan perataannya sendiri sehingga membuat rosa semakin emosi.


"Mati saja kau Clara" teriak Rosa yang sudah sangat emosi


"Hahahaha, aku kan hanya bercanda Ros. Sudahlah ayo berangkat, atau kau tetap berdiri disini menunggu cowok yang tadi keluar ?" Rosa hanya melotot mendengarkan perkataan Rosa "Ros kita singgah makan dulu ya, gw udah laper nih" ucap Clara setelah menaiki motor Rosa.


"Hmm, kita ke bengkel dulu trus ke restoran.


"Bengkel? Buat apa?"


"Lu lupa yah, nanti sore kan gw mau balapan sama kak Riyan."


"Balapan? sama kak Riyan? gilak, diakan hebat Ros."


"Hmm, emang sahabat lu ini gak hebat??"


"Ya hebat sih, tapi kan"


"Sudahlah, lu tenang aja" Rosa langsung tancap gas menuju bengkel.


* * *


Sementara itu di tempat lain, Ghibran masih memikirkan kejadian tadi. Wajahnya terlihat begitu gusar, pikirannya begitu kacau. Setelah 6 tahun berlalu, Rosa masih mampu melululantahkan perasaan laki-laki ini. Ghibran sadar, dia masih memiliki perasaan kepada Rosa tapi ia menepis semua itu dengan Dalil balas dendam. Hingga saat ini dia masih tidak terima dengan perlakuan Rosa padanya dulu.


"Arrghhh sial, kenapa wajahnya selalu muncul di kepalaku" Ghibran berteriak, hingga membuat Yhosi yang ada di luar ruangan, datang menghampirinya.


"Ada tuan? Apa semuanya baik-baik saja?"


"Hmm"


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu Tuan"


"Tunggu, batalkan semua rapat hari ini"


"Tapi tuan..?"


"Saya bilang batalkan ya batalkan Yhos"


Bagaimana mungkin saya mengikuti rapat dengan pikiran kacau seperti ini


"Ba-ba-baik tuan" berlalu meninggal Ghibran

__ADS_1


__ADS_2