CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU

CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU
Perselingkuhan!


__ADS_3

Pagi telah tiba, Rosa sudah siap dengan pakaian kerjanya. Sekarang ia tengah menikmati sarapannya dia ruang makan.


"Loh, Oca mau kemana?"


"Mau kerja dong, Mom"


"Kerja?? Bukannya hari ini Oca mau pergi sama Ghibran?"


"Astagaaa!" Rosa memukul jidatnya dengan begitu keras "Rosa lupa, Mom"


"Aihh, anak Mommy yang baru mau nikah tapi udah pikun aja." Goda mamanya


"Apaansih Mom" Rosa memonyongkan mulutnya dan mengambil ponsel di sakunya.


[Hallo Ra, hari ini aku gak ke rumah sakit dulu ya. Lagi ada urusan penting!] katanya saat menelpon Clara.


[Urusan apaan?] tanya Clara


[Sahabat kamu mau foto Prewedding dan fitting baju, Ra.] teriak mama Rosa, tapi Rosa dengan sigap menjauhkan ponsel itu dari mamanya


[Appa?? Prewedding?] yang ada di sebrang sana pun menjadi kaget [Ros, beneran lu mau nikah???] Clara semakin kepo


[Kagak!]


[Trus maksud Mommy kamu, apaan?]


[Bawel lu, ah! Besok gw ceritain, pokoknya hari ini lu control semua urusan di situ.] Rosa lalu mematikan ponselnya, dan membuat Clara semakin penasaran


Beberapa jam kemudian, Ghibran sudah sampai di kediaman Tuan Alkarna.


"Pagi Om, Tante" sapanya dengan ramah kepada orang tua Rosa, sambil mencium punggung tangan kedua orang itu.


"Pagi, Nak" ucap ayah dan mama Rosa bersamaan.


"Rosa ke kamar dulu, katanya mau ngambil dompet." Ghibran hanya tersenyum lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Nah, itu dia orangnya." Tuan Alkarna menunjuk ke arah Rosa, yang baru saja turun dari kamarnya "Nih, calon suami kamu udah menunggu dari tadi" goda papanya dan membuat wajah Ghibran menjadi memerah karena malu.


"Yasudah Om, Tante kami pergi dulu" Ia kembali mencium punggung tangan kedua orang tua Rosa, saat ingin pergi.


Cihhh, caper amet si songong nih! Pen gw acak-acak ginjalnya. Rosa


Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam, tidak seorang pun dari mereka yang bicara. Ghibran fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Rosa fokus menatap pepohonan yang mereka lewati sepanjang perjalanan tadi. Saat ini mobil Ghibran sudah memasuki kawasan Mall terbesar di kota itu (Ya, tentu saja milik Tuan Alkarna dong. Holang Kayoo😋).


***


Mereka telah selesai dengan urusan mereka, sekarang mereka sudah dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba Ghibran memberhentikan mobilnya di depan Kafe.


Hey, hey, apa yang dilakukan si songong ini. Rosa


"Turun"


"Gak, gw gak lapar. Lu aja yang turun"


"Gw bilang turun!"


"Gw bilang gak, ya gak" Rosa masih tetap kekeh dengan keputusannya, sedangkan Ghibran Turun dari mobilnya, laluuuu....?????


"Apaan sih, gw gak mau turun. Lu aja!" ucap Rosa ketika Ghibran memaksa dirinya turun dari mobil. Namun Ghibran tetap tidak menggubris ucapan Rosa.


Arghhh, dasar keras kepala. Sial banget gw, kenapa gw harus mau menikah dengan laki-laki seperti ini.


Saat Ghibran mencari meja kosong, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah meja.


Deg..


"Kurang ajar!!! Berani sekali dia." gerutunya saat ia melihat Angel sedang berduaan dengan laki-laki lain.


Ya, dia memang tidak mencintai Angel. Tapi Ghibran juga laki-laki normal kan?? Tentu saja ia tidak suka jika dirinya dikhianati.


"Woy, lu mau duduk atau cuma berdiri doang kek patung?" pekik Rosa yang membuyarkan lamunan Ghibran.


"Bawell!" Ghibran berjalan ke sebuah meja. Saat dia sudah menempati sebuah meja, ia langsung memanggil pelayan kafe itu.


"Lu mau pesan apa?"


"Udah gw bilang, gw gak lapar"


"Yaudah, lu mau minum apa?"


"Gw gak haus!"

__ADS_1


"Gw gak nanya, lu haus atau gak! Gw bilang lu mau pesan apa?!"


"Apaan sih, maksa amet"


"Pesanan dia sama kek punya saya aja ya, Mbak!"


"Ohya mas" pelayan itu langsung bergegas meninggalkan mereka.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya pesanan mereka pun datang. Ghibran tampak begitu menikmati makanannya karena memang, dia sudah sangat lapar dari tadi. Sedangkan Rosa hanya sibuk memainkan ponselnya, dan sesekali melirik ke arah Ghibran, yang sepertinya sedang khusyuk mengunyah.


"Kalau ada makan tuh, ya dimakan. Bukan diliatin doang!" pekik Ghibran, yang berhasil membuat Rosa terkejut. Tapi ya, bukan Rosa namanya jika dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya itu. "Gw bilang makan, ya makan! Atau lu mau gw suapin?"


"Gw gak lapar! Lu ngerti bahasa manusia gak sih!" tegas Rosa, yang membuat Ghibran semakin geram.


"Makan!" Lu gak malu diliatin orang, hah?!" karena sudah lelah berdebat dengan Rosa, akhirnya dia memutuskan untuk menyuapi Rosa. Dan mau tidak mau, Rosa harus memakannya karena tidak mau membuat keributan disana. Walaupun sebenarnya, tadi dia sudah memancing singa keluar dari sarangnya.


Eumhh, ternyata seleranya gak seburuk yang gw kira. Rosa


Gak lapar, tapi makannya rakus gitu! Dasar preman! Ghibran


Saat mereka sedang asik, menikmati makanan mereka. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang datang, dan menganggu ketenangan mereka.


"Hebat!" ucap wanita itu, sambil menyiram Rosa dengan minuman yang telah dipesan oleh Ghibran tadi. Dan membuat orang yang disiram menjadi kaget, sekaligus geram "Dasar pelakor! emang lu gak bisa dapetin cowok lain, selain pacar orang, hah?! Cihhh, muka burik aja, sok-sokan jadi pelakor. Dasar mura_____" Ia belum menyelesaikan ucapannya tapi Ghibran sudah memotongnya.


"Hentikan! Apa lu gak malu diliatin banyak orang?"


"Kenapa aku harus malu? Seharusnya perempuan rendahan ini yang malu, karena telah menggoda pacar orang." Wanita itu menunjuk ke arah Rosa, dan yang dituduh pun hanya diam membeku. Entah apa yang terjadi dengannya, kemana sikap bar-barnya itu? Kenapa sekarang dia menjadi wanita lemah, yang menerima setiap tuduhan wanita yang ada di depannya.


"Jaga ucapanmu, dia tunanganku! Dan minggu ini kami akan menikah!" ketus Ghibran


"Apppppaaah?" wanita itu hampir tak percaya dengan apa yang telah ia dengarkan. "Lihat aku baby, katakan bahwa kau hanya bercanda"


"Aku serius, bahkan sangat serius. Dia tunanganku, dan secepatnya dia akan menjadi istriku! Ku harap kau bisa menjaga sikapmu dengannya, karena kalau tidak? Kau akan berusan denganku!"


"Dasar pelakorr" teriaknya, dan hendak menampar Rosa. Sebelum Rosa melakukan perlawanan dari gadis itu, Ghibran dengan sigap menahan dan menampar wajah wanita itu yang sudah lancang mengangkat tangan kepada wanitanya.


Plakk...


"Apa kau tidak mengerti ucapanku?? Apa aku harus memberikanmu hukuman yang lebih menyedihkan dari ini?? Apa kau lebih menyukai perlakuan kasarku NONA ANGEL?"


Ya, dia adalah Angel, kekasihnya. Yang ia pacari hanya untuk kepentingan bisnis. Dia adalah Angel, yang ia lihat sedang duduk romantis berdua dengan pria lain.


***Wah ada apa itu??


Hey, bukankah itu pengusaha muda dan keren itu?


Astaga, dokter Rosa.


OMAYGUTTT, itukan penyanyi terkenal itu. Angell***!!!!


Angel? Tuan Ghibran? kehebohan apalagi ini?


Begitulah ucapan para pengunjung kafe itu, saat mereka mendengar dan melihat kehebohan yang telah di ciptakan oleh Angel. Dan tentu saja ucapan mereka bisa didengar oleh Rosa (hey, Rosa kan tidak tuli? dan mereka bicara terlalu keras!)


"Kau kekasihku! Bagaimana bisa kau menikah dengan wanita lain! Kau pengkhianat Ghibran!!"


"Cih, pintar sekali kau memutar balikkan fakta! Ghibran mendengus kesal "Berhentilah berpura-pura di depanku, Angel! Apa kau pikir, aku tidak tahu bagaimana sikapmu dibelakangku? Apa kau pikir, aku tidak tahu bahwa kau bermain gila dengan pejabat-jabat tinggi, hanya untuk kariermu? Apa kau pikir, aku tidak melihatmu saat kau berduaan dengan laki-laki lain di kafe ini? Apa kau pikir aku sebodoh itu, Angell!" lanjut Ghibran lagi.


Hey, bagaimana dia bisa tahu semuanya? Bahkan dia tau permainan gilaku, dengan pejabat-pejabat di luar sana. Angel


"Wah, hebat sekali kau Tuan Ghibran. Setelah kau kepergok selingkuh, sekarang kau malah menuduhku. Sungguh, aku tidak menyangka kau akan setega ini" Angel meneteskan air mata buayanya, berharap aktingnya kali ini akan bisa meloloskannya dari tuduhan Ghibran.


"Hentikan! Apa kau ingin aku memanggil Yhosi, dan memutar semua video perselingkuhanmu dan juga aksimu dia kamar hotel bersama pejabat itu?"


Ini gila, ini gila. Sekertaris sialan itu, dimana dia bisa mendapatkan semua itu? Bahkan aku sudah berusaha bermain secantik mungkin. Angel


"Tapi Brann__" sebelum dia melanjutkan ucapannya, Ghibran langsung memotongnya.


"Pergilah! Atau aku akan memanggil petugas keamanan kafe ini!" pekik Ghibran, namun Angel sepertinya tidak peduli dengan itu. Dia masih terus berakting, dan bersandiwara seakan dia adalah korban.


Rosa yang mulai muak melihat drama menjijikan itu, akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan dua orang itu. Tapi sebelum dia melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu, tiba-tiba dia mendengarkan sebuah suara yang membuatnya harus terpaksa untuk mengurungkan niatnya.


"HAH? Apa kau nona itu, akan pergi meninggalkan tunangannya bersama si perempuan gatel itu? Padahal tadi aku melihat wanita pembuat keributan itu duduk berdua bersama kekasihnya di sana" pelayan kafe 1


"Iya, kalau gw yang jadi dia. Pasti gw udah nyakar tuh cewek gatel!" pelayan kafe 2


Rosa yang mendengarkan perbincangan dua pelayan itu akhirnya menjadi semakin geram dan wajahnya pun mulai memerah padam.


Baiklah, biarkan aku berakting sepertimu wanita gila! Bagaimana pun juga, kau telah menganggu dan mempermalukan calon suamiku. Cih, aku tidak akan tinggal diam! Rosa


"Sayang, apa kau ingin tetap disini? Berbicara dengan wanita tidak jelas ini. Huft, sebaiknya kita pulang saja, daripada harus membuang waktu dan tenagamu meladeni drama gilanya" Rosa menggandeng tangan Ghibran, dan mendadak menjadi manja dan mesra kepadanya. Dia tahu, bahwa wanita yang ada dihadapannya itu pasti tidak suka melihat dirinya bertingkah seperti itu kepada Ghibran.

__ADS_1


Hey, apa ini? Kenapa dia mendadak manis seperti ini, dan bukannya marah kepadaku? Uhh, bahkan dia memanggilku sayang! Apakah, pereman ini mulai menyukaiku atau mungkin dia sedang bersandiwara? Tapi, ah bodo amat, gw bakal ngikutin alur yang dia buat. Ghibran


"Hm, baiklah sayang. Mari kita pulang" Ghibran mengelus puncuk kepala Rosa, seakan dia paham dengan drama yang sedang dibuat oleh tunangannya itu. Mereka mulai melangkahkan kakinya, dan mengabaikan wanita di depannya. Ya, wanita pembuat onar itu!


"Hey, wanita perebut! Dia kekasihku, minggir kau!" Angel mendorong Rosa, sehingga Rosa hampir jatuh, tapi untung saja Ghibran selalu siap siaga menjaga tunangannya itu.


"Apa yang kau lakukan, hah?!" teriak Ghibran merasa tidak terima dengan kelakuan Angel kepada Rosa.


Plakkk....


"Berani sekali kau menamparku!" teriak Angel setelah mendapatkan cap tangan Rosa di wajahnya. Semua pengunjung kafe itu pun membelalakkan mata mereka, bahkan ada juga yang merasa bahagia melihat perlawanan yang dilakukan Rosa.


"Kau pantas mendapatkan itu! Apa kau pikir, aku diam karena aku takut padamu, hah?!" Rosa menampakkan wajahnya yang sangat menyeramkan, sudah seperti singa yang mau menelan mangsanya hidup-hidup. "Aku hanya tidak ingin membuang-buang tenagaku, melawan wanita receh sepertimu! Tapi sepertinya kau tidak akan puas, jika aku hanya diam saja. Jadi tamparan dariku itu, memang pantas untukmu. Ohya, ingat ini baik-baik GHIBRAN ADALAH CALON SUAMIKU, SEBAIKNYA BERHENTILAH MENGANGGU DIA ATAU KAU TIDAK AKAN HIDUP TENANG" tegas Rosa


"Cih, apa kau sedang mengancamku? Aku tidak takut ancamanmu!"


"Terserah kau mau menganggapnya apa, tapi ingat aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku!" Rosa menarik lengan Ghibran, lalu pergi meninggalkan orang itu. Semua mata pengunjung mengekori mereka, tapi bukan Rosa namanya jika dia peduli dengan semua itu.


Aku seperti pernah melihat orang itu, dan nama juga tidak asing di telingaku. Rosa


Mereka berdua menuju parkiran, dengan penampilan Rosa yang masih berantakan karena siraman Angel tadi. Meski bajunya belum sepenuhnya kering, tapi mereka tetap harus pulang karena hari sudah mulai gelap, dan Ghibran juga harus ke kantornya.


Sepanjang perjalan, tidak satupun dari mereka yang berbicara. Sesekali Ghibran melirik wanita yang ada di sampingnya itu, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tetapi ia juga merasa takut.


Arghh, aku ingin mengatakannya tapi bagaimana jika dia tambah mengamuk. Lihatlah wajahnya sangat menyeramkan, benar-benar seorang preman. Tapi bagaimana jika dia mengadu kepada Om Alka, bisa mati gw! Ghibran


Ghibran masih terus memperhatikan Rosa, dan membuat orang yang ditatap merasa risih "Hmm, lihat ke depan, aku belum mau mati!" pekiknya yang berhasil membuat laki-laki itu terkejut.


"Apa kau marah padaku?" tanyanya sambil fokus mengemudikan mobil yang mereka tumpangi, Rosa hanya diam. "Afra Rosalina Alkarna, apa kau masih marah padaku" Ghibran hampir frustasi gara-gara sikap Rosa yang dingin. Eh tunggu, bukankah wanita ini memang selalu dingin kepadanya??


Arghh, kenapa wanita sangat sulit untuk di tebak! Ghibran


"Hmm" menjawab dengan wajah datarnya, memang sudah menjadi keahlian Rosa.


"Maaf" lirih Ghibran


"Apa dia benar kekasihmu?" Rosa kembali membuka suara tanpa melihat ke arah orang yang dia ajak berbicara (Hey, dia sudah terbiasa dengan itu. Kalian tidak usah heran!).


"Iya, lebih tepatnya mantan kekasih" tutur Ghibran, dengan sedikit kebohongan. Bagaimana tidak? Dia dan Angel belum putus, bukan?!


"Benarkah? Lalu kenapa dia berkata bahwa kau kekasihnya!" telak telah menghujam jantung Ghibran, dia hanya bisa terdiam saat mendengarkan pertanyaan Rosa ah lebih tepatnya pernyataan "Lalu kenapa kamu tidak menikah dengan dia saja?!" lanjutnya lagi, emosinya seperti mau meledak.


Astaga, kenapa aku jadi sekesal ini. Rosa, sadar Ros! Ingat lu nerima dia hanya karena lu gak mau menikah sama kak Riyan, gak lebih! Rosa


"Karena bokap nyokap gw, mau gw nikah sama lu" dengan polosnya Ghibran mengatakan alasan dia melamar wanita itu.


"Cih...." Rosa mendengus kesal mendengarkan pernyataan Ghibran. Dan laki-laki itu hanya bisa diam, tidak ingin menjawab lagi. Lebih tepatnya takut untuk berbicara lagi, sepertinya dia sudah paham dengan apa yang akan terjadi, jika dia kembali melanjutkan perkataannya.


Ternyata lu sama aja kek cowok-cowok kolega Daddy, cuma mau harta orang tua gw doang! Rosa


Tak terasa setelah 30 menit perjalanan, sekarang mereka sudah memasuki halaman rumah Tuan Alkarna. Badan Rosa sudah kering, sekarang tinggal noda di pakaiannya itu.


Saat Rosa ingin turun dari mobil, tiba-tiba saja Ghibran menahan tangannya "Maaf untuk kesalahan yang tadi, sungguh aku tidak tahu semua itu akan terjadi." Ghibran memasang wajah memelas, berharap wanita itu akan memaafkannya.


Arghh, semoga saja lu gak cerita sama Om dan Tante. Mampus gw, kalau mereka sampai tau! Ghibran


"Mampirlah, Daddy pasti sedang menunggu kita" sepertinya Rosa tidak ingin membahas itu lagi.


Lebih tepatnya menunggu dirimu! Hey, sekarang dia kan lebih menyanyangimu daripada aku. Rosa


"Baiklah" jawabnya lesuh, lalu turun dari mobilnya dan berusaha mensejajari langkah Rosa.


Ah sial, tamatlah riwayatku! Ghibran.


Mereka sudah memasuki ruang utama rumah Tuan Alkarna, dan benar saja yang dikatakan Rosa bahwa ayahnya sudah menunggu mereka.


"Wah, kalian sudah datang sayang?" sapa mamanya dengan senyum sumringah, sedangkan ayahnya hanya duduk manis di sofa empuknya dengan penuh wibawa. "Sayang, baju kamu kok jadi gini sih?" sang mama terus memperhatikan penampilan anaknya yang terlihat lebih aneh dari tadi sebelum mereka berangkat.


"Iya tan" ujar Ghibran, sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Rosa. Ada rasa deg-degan juga yang ia rasakan ketika mendengarkan pertanyaan mama Rosa.


"Ah gak papa kok, Mom. Tadi Rosa gak sengaja nyenggol pelayan kafe, makanya gini deh. meyakinkan mamanya dengan dengan sedikit senyuman "Mom, Dad, Rosa ke kamar dulu ya. Mau mandi"


"Oca, calon suamimu masih ada disini. Ladeni dulu dia, Nak" ayahnya menghentikan langkah kakinya, bibirnya pun ikut mengerucut.


"Ah, tidak apa-apa om. Lagian, aku juga mau pamit kembali ke kantor. Banyak yang harus aku selesaikan, sebelum hari H" tolak Ghibran halus.


"Ada baiknya jika Ghibran makan malam saja di sini"


"Ah tidak usah, Om. Kasihan Yhosi jika terlalu lama menunggu"


"Baiklah, Nak. Hati-hati di jalan. Oca, antar Ghibran ke depan!" titahnya kepada putri kesayangannya

__ADS_1


Lihatlah, belum jadi menantu saja dia sudah merebut kasih sayang Daddy. Gimana kalau udah sah, coba? Mati aku! Rosa


"Yasudah, Ghibran pamit dulu Om, Tante." mencium punggung tangan sepasang suami istri itu, lalu bergegas ke luar diikuti oleh Rosa.


__ADS_2